HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM Tarbiyah

Yakin Usaha Sampai

  • Kalender

    Mei 2009
    M S S R K J S
        Jun »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Kategori Tulisan

  • CHAT ROOM

  • komentar

    iza di PINTAR VS BODOH ???
    sulis di contoh proposal skripsi
    sistem informasi sek… di PENDIDIKAN ISLAM DALAM SISTEM…
    Stop Dreaming Start… di contoh proposal skripsi
    laila di contoh proposal skripsi
    qossam di PKS Cuma Gertak Sambal
    alqossam di PKS Cuma Gertak Sambal
    suriza di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    dir88gun2 di PKS Cuma Gertak Sambal
    qossam di newsletter
    ressay di MAKALAH LK-II
    dedekusn di PINTAR VS BODOH ???
  • http://princess135.blogspot.com www.islamonline.com
  • Dunia Ketiga

    Posted by alqossam86 pada 1 Mei 2009


    Dunia Ketiga

    Dunia Ketiga

    Ketika Marcel Boneff melakukan penelitian tentang komik Indonesia dari masa-masa pra-kemerdekaan hingga tahun 1971, komik bisa dilihat sebagai sebuah representasi realitas sosial, politik dan ideologi yang tumbuh dalam masyarakat Indonesia pada masa itu. Hingga sekarang disertasi doktoralnya tentang komik Indonesia tersebut menjadi referensi penting untuk memahami sejarah komik Indonesia. Memang kemudian ada tulisan-tulisan penting yang membahas komik Indonesia yang ditulis oleh beberapa pengamat komik tetapi belum ada sebuah penelitian komprehensif melanjutkan proyek penelitian Boneff yang terbatas sampai tahun 1971. Fase-fase sejarah komik yang menjadi obyek penelitian Boneff adalah fase-fase kelahiran dan masa keemasan komik Indonesia, kemudian seperti kita semua tahu fase berikutnya adalah fase proses kemunduran hingga stagnasi komik Indonesia yang terjadi pada era pertengahan 1980an. Tentu sudah banyak pengamat yang mengkaji aspek-aspek kemunduran komik Indonesia hingga melahirkan banyak versi dan teori yang hangat dibicarakan pada dekade 90an. Pada saat ini kita memasuki dekade baru awal abad 21 dimana konstelasi budaya global telah mengalami pergeseran-pergeseran penting yang mempengaruhi perkembangan komik di Indonesia, karena pada dasarnya komik adalah bagian dari budaya modern peradaban umat manusia.

    Sejarah umat manusia adalah sejarah evolusi peradaban manusia yang menciptakan arus-arus besar membelah dunia dalam kutub-kutub kepentingan ekonomi, ideologi, politik, agama dan kebudayaan. Setelah berabad-abad umat manusia terlibat dalam benturan-benturan peradaban yang berkepanjangan, kemudian lahirlah sebuah tatanan dunia yang akhirnya memunculkan kekuatan-kekuatan ekonomi, politik dan budaya dominan yang menjadi kontestan utama peradaban dunia dewasa ini. Kontestan utama tersebut tak pelak lagi adalah negara-negara maju yang memiliki basis kuat di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik dan kebudayaan. Sementara mereka yang tersisih dari pertarungan peradaban dunia menjadi negara-negara pinggiran yang juga lazim dikenal sebagai negara dunia ketiga. Sistem dunia ini memunculkan kapitalisme global sebagai arus besar perekonomian dunia dengan negara-negara maju sebagai aktor utama.

    Begitu pula dalam perkembangan komik di dunia, kontestan besar yang menjadi kiblat komik dunia diwakili oleh Amerika Serikat, Jepang, Prancis dan beberapa negara Eropa yang tak dapat disangkal lagi sebagai negara-negara maju. Masing-masing menciptakan mahzab komik yang mempengaruhi perkembangan komik di negara-negara lainnya termasuk Indonesia. Amerika dan Jepang adalah negara yang mengalami perkembangan ekonomi sangat pesat pasca perang dunia ll. Amerika dan Jepang melakukan percepatan industrialisasi yang sangat mengagumkan. Komik tidak luput dari proses industrialisasi pada segala aspeknya. Pengaruh komik Jepang menyebar di Asia timur hingga tenggara, dari China, Hong kong, Korea, Malaysia hingga Indonesia. Komik Jepang bahkan sudah memberi pengaruh pada industri komik Amerika. Begitu pula komik-komik Amerika dan Eropa juga dikenal luas di Asia dan seluruh dunia. Produk komik mereka telah berhasil memposisikan diri sebagai produk global yang dikonsumsi di berbagai negara.

    Kejayaan komik-komik Jepang, Amerika dan Eropa nampaknya berbanding lurus dengan superioritas negara mereka di kancah sistem ekonomi global, sebaliknya stagnasi komik-komik dari dunia ketiga adalah cermin inferioritas dalam kancah persaingan ekonomi global. Sejak kebangkrutan ideologi komunisme yang diangkut Uni Soviet, dunia menyaksikan kemenangan kapitalisme sebagai kekuatan tunggal ekonomi dunia dan Amerika sebagai pemimpin terdepan. Negara-negara dunia ketiga mengalami ketergantungan ekonomi dan menjadi inferior terhadap budaya dominan negara-negara maju. Dalam tulisannya yang berjudul The Structure of Dependence dalam American Economic Review vol 60, Dos Santos menjelaskan sebuah definisi ketergantungan ekonomi sebagai berikut:

    Yang dimaksud dengan ketergantungan adalah keadaan di mana kehidupan ekonomi negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara-negara lain, di mana negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Hubungan saling tergantung antara dua sistem ekonomi atau lebih, dan hubungan antara sistem-sistem ekonomi ini dengan perdagangan dunia, menjadi hubungan ketergantungan bila ekonomi beberapa negara (yang dominan) bisa berekspansi dan bisa berdiri sendiri, sedangkan ekonomi negara-negara lainnya (yang tergantung) mengalami perubahan hanya sebagai akibat dari ekspansi tersebut, baik positif maupun negatif.

    Sebenarnya ada banyak varian teori ketergantungan tapi tulisan ini tidak bermaksud membahas ketimpangan struktural negara maju dengan negara-negara dunia ketiga dalam kerangka teori tersebut. Teori tersebut hanya sebagai alat memahami sebuah gejala yang bersifat umum mengenai persoalan dominasi budaya negara-negara maju terhadap negara-negara dunia ketiga, lebih khusus lagi bagaimana relasi-relasi tersebut mempunyai pengaruh dalam dinamika perkembangan komik di Indonesia.

    Dalam kerangka sudut pandang tersebut secara tegas posisi komik indonesia mengalami proses marginalisasi sebagaimana posisi negara Indonesia dalam konstelasi pertarungan ekonomi politik global saat ini. Riuh rendah pergerakan komik di Indonesia masih semu sehingga tidak mempunyai kekuatan ideologis untuk melepaskan diri dari hegemoni dan supremasi negara-negara maju. Dominasi ini begitu kuat hingga mampu menciptakan kesadaran semu yang membuat kita menerima dengan suka cita tanpa sadar bahwa kita mengalami ketergantungan (ketertindasan?) politik, ekonomi dan budaya sebagai akibat pola relasi yang cenderung tidak seimbang dan dominatif. Hegemoni kesadaran macam inikah yang menggerakkan kita dalam berkarya?

    Pilihan tentu ada pada kita seperti dalam film the Matrix saat Neo harus memilih menelan pil biru atau pil merah. Apakah kita siap melakukan counter hegemoni ataukah menerima sistem ini seolah dunia ini berjalan baik-baik saja.

    2 Tanggapan to “Dunia Ketiga”

    1. YAKUSA
      salam kenal

    Sorry, the comment form is closed at this time.

     
    %d blogger menyukai ini: