HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM Tarbiyah

Yakin Usaha Sampai

  • Kalender

    Mei 2009
    M S S R K J S
        Jun »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Kategori Tulisan

  • CHAT ROOM

  • komentar

    iza pada PINTAR VS BODOH ???
    sulis pada contoh proposal skripsi
    sistem informasi sek… pada PENDIDIKAN ISLAM DALAM SISTEM…
    Stop Dreaming Start… pada contoh proposal skripsi
    laila pada contoh proposal skripsi
    qossam pada PKS Cuma Gertak Sambal
    alqossam pada PKS Cuma Gertak Sambal
    suriza pada Demo Hotel Grand Antares
    zay pada Demo Hotel Grand Antares
    zay pada Demo Hotel Grand Antares
    zay pada Demo Hotel Grand Antares
    dir88gun2 pada PKS Cuma Gertak Sambal
    qossam pada newsletter
    ressay pada MAKALAH LK-II
    dedekusn pada PINTAR VS BODOH ???
  • http://princess135.blogspot.com www.islamonline.com
  • Archive for Mei 14th, 2009

    PEMBENTUKAN KARAKTER

    Posted by alqossam86 pada 14 Mei 2009

    Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Fitrah

    editor: Wiwid Kurniandi

    I. Rasional

    Pendidikan adalah sebuah proses yang tak berkesudahan yang sangat menentukan karakter bangsa pada masa kini dan masa datang, apakah suatu bangsa akan muncul sebagai bangsa pemenang, atau bangsa pecundang sangat tergantung pada kualitas pendidikan yang dapat membentuk karakter anak bangsa tersebut.

    Dalam kamus umum bahasa Indonesia, karakter ialah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut. Jepang memiliki kultur Bushido yang menekankan kesetiaan, kedisiplinan tinggi, dan semangat pantang menyerah. Persentuhan bangsa Eropa dengan Islam melalui Spanyol, Sisilia, dan Perang Salib pada abad ke 11M telah membentuk karakter bangsa Eropa menjadi bangsa pembelajar sehingga mampu menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan karya sarjana muslim di abad pertengahan, yang bermuara pada penguasaan mereka yang tinggi terhadap iptek hingga saat ini.

    Bangsa Indonesia, bukanlah bangsa yang telah ada sejak zaman Majapahit, bangsa ini baru lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, sehingga menjadi ‘bangsa yang muda’ dengan kultur dasar yang “masih amburadul”, yang sedang mencari jati diri, dan memunculkan karakter yang “aneh tapi nyata”.

    Ambil contoh apa yang ditulis oleh kolom tajuk Harian Umum Republika, Rabu, 19 November 2008, berikut; “Ada kisah populer tentang gaya hidup pejabat negeri ini. Berada di sebuah negeri kaya raya bernama Jepang untuk mengusur hutang, para pejabat kita datang ketempat pertemuan dengan berkenderaan mewah. Disana tuan rumah sudah menunggu. Namun mereka, para pejabat yang pegang kuasa untuk memberi hutang itu, ternyata datang ketempat pertemuan dengan menggunakan kenderaan umum”

    Kultur dasar suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh pemahaman bangsa tersebut terhadap agama dan tradisi yang memengaruhi gaya hidup, dan pandangan hidup bangsa tersebut. Rasionalitas yang merupakan kultur dasar bangsa Eropa dimulai dari Revolusi Prancis. Revolusi ini terjadi karena adanya pemerintahan absolut pada masa raja Henry IV Navare (1589-1610) dilanjutkan oleh Louis XIII (1610-1643). Louis XIII didampingi Perdana Menteri Richellieu yang menyatakan “raja tak akan membagi otoritasnya dengan siapapun juga, termasuk para bangsawan tinggi”. Pengganti Louis XIII adalah Louis XIV yang memerintah paling absolut selama 72 tahun (1643-1715). Dalam memerintah, raja didampingi Perdana Menteri Kardinal Mazarin. (Kardinal:jabatan dalam gereja Katolik)

    Sebagai suatu bentuk perlawanan terhadap pemerintahan absolut ini para filsuf Prancis dimotori oleh Rene Descartes (La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650) seorang fisuf dan ahli matematika memunculkan pilsafat eksistensialime yang diteruskan oleh Jean-Paul Sartre (Paris, 21 Juni 1905 – 15 April 1980) juga dari Prancis.

    Aliran filsafat eksistensialisme lebih dikenal dengan sebutan aliran filsafat ‘Cartesian’. Descartes mengatakan, “Aku berpikir maka aku ada”, sementara Jean-Paul Sartre muncul dengan diktum, “human is condemned to be free”, manusia dikutuk untuk bebas.

    Aliran filsafat eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia sebagai individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Fisafat ini menjadi aliran besar dalam filsafat barat, dan memusnahkan cara pandang holistik (menyeluruh) terhadap manusia yang dipelopori oleh para filsuf muslim pada abad ke-18 yang memosisikan ‘Jiwa’ sebagai bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia.

    Filsafat eksistensialisme berkembang keseluruh penjuru dunia seiring dengan ekspansi kolonialistik dan imperialistik bangsa barat ke benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Ketika bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin membebaskan diri dari cengkeraman kolonialis barat, maka kebebasan itu tidak serta merta membebaskan alam pikiran dan kultur dasar bangsa-bangsa ini dari pengaruh filsafat barat.

    Di Indonesia, pada titik yang ekstrim, pengaruh filsafat barat (yang berintikan filsafat eksistensialisme) yang memengaruhi alam pikiran sebagian anak bangsa ini telah menghasilkan kelompok cendikiawan muslim yang justru mengidap ‘Islamophobia’. Dengan berbagai alasan, alergi terhadap simbol-simbol keislaman – tanpa pernah mendalami Islam sampai pada tingkat yang tertinggi – para cendikiawan muslim ini dengan ‘sukaria’ berbicara di TV, dan menulis di media yang isinya mengagungkan filsafat barat, dan mengecilkan peranan Islam yang telah menyumbangkan demikian besar ilmu pengetahuan dan teknologi melalui universitas-universitas yang didirikan dinasti Abbasiyah (750-1258M) di Baghdad.

    Sejarah mencatat, di saat dinasti Abbasiyah mengalami kejayaan, pada saat yang sama Eropa mengalami kemunduran. Pada abad XI, Eropa mulai menyadari kehadiran peradaban Islam yang tinggi di wilayah Timur. Melalui Spanyol, Sisilia dan Perang Salib, peradaban itu mulai dibawa ke Eropa. Sejak itulah Eropa mulai mengenai sains dan peradaban Islam. Mereka mulai mengenal rumah sakit, bahan makanan timur, bahan pakaian, dan peralatan rumah tangga.

    Eropa juga mulai mengenal dunia ilmu pengetahuan. Sebenarnya melalui Islam-lah Eropa mengenalkan filsafat dan sains. Gustave Le Bon (7 Mai 1841 – 13 Desember 1931) ahli psikososial dari Prancis pernah mengatakan bahwa ”orang Arablah yang menyebabkan kita mempunyai peradaban. Karena mereka adalah imam kita selama enam abad”. Orientalis dari Perancis Rom Landau mengakui bahwa dari orang Islam periode klasik inilah, orang Barat belajar berpikir obyektif dan logis, serta belajar lapang dada di saat Eropa diselubungi suasana pikiran sempit, tidak ada toleransi terhadap kaum minoritas, dan suasana penindasan terhadap pikiran mereka. Hal ini menjadi inspirasi bagi Renaisans Eropa yang kemudian membawa pada kemajuan dan peradaban barat sekarang ini.

    Filsafat eksistensialisme/cartesian yang menjadi ‘Ruh’ filsafat barat pada gilirannya melahirkan faham atau isme dalam bentuk; materialisme, sekularisme, dan atheisme yang dipelajari oleh para intelektual dari negara-negara Asia dan Afrika ketika negara barat masih menjajah negara-negera tersebut, dan sesudahnya. Faham materialisme, sekularisme, dan atheisme, memunculkan faham lain yakni liberalisme, dan permisifisme (serba boleh). Faham-faham ini memberi pengaruh pada pandangan politik para politisi, cara pandang (paradigma) para intelektual terhadap agama. Ketika negara-negara Asia-Afrika meraih kemerdekaan, dan para intelektual ini menjadi pemimpin di negaranya, faham materialisme, sekularisme, dan atheisme tampak kental mewarnai kebijakan negara dalam segala bidang termasuk di bidang pendidikan.

    Di Indonesia, di era 60-an, faham atheisme pada kaum komunis pernah begitu marak yang berujung pada pemberontakan G.30.S/PKI, dan kini berusaha bangkit kembali melalui gerakan-gerakan yang berselubung isu demokrasi dan HAM (pada saat yang sama mengabaikan Kewajiban Asasi Manusia/KAM). Bersama faham materialisme dan sekularisme, faham komunis yang atheis terus hidup hingga kini dan memberi pengaruh kuat terhadap cara pandang umat Islam terhadap agamanya sendiri.

    Di bidang pendidikan, agama berubah wujud menjadi bagian dari pranata budaya dan pengetahuan. Di sekolah-sekolah, SD, SMP, dan SLTA, agama diajarkan dalam bentuk pengetahuan agama. Kemampuan peserta didik memahami agama dinilai melalui kemampuan peserta didik menjawab teori-teori agama, sama seperti kemampuan peserta didik menjawab teori fisika dan matematika. Agama tidak lagi menjadi acuan hidup, ukuran sukses identik dengan rumah mewah, uang banyak, mobil mewah, dan tanah luas (materialisme).

    Para guru – yang beragama Islam sekali pun – tidak menyadari bahwa benda selalu jatuh ke bawah adalah ketetapan Allah (sunatullah), sementara hampir semua guru dengan bangga dan lantang mengatakan ini adalah hukum Newton mengenai gravitasi.

    Dalam konteks Minangkabau, seorang pakar pendidikan dari negeri ini, Engku M. Syafe’i, melalui buku yang berjudul; “Dasar-dasar Pendidikan yang ditulis beliau pada 31 Oktober 1968, (dikutip sesuai tulisan aslinya), menyatakan;

    Kalau disangka, bahwa timbulnya Perguruan Nasional Ruang Pendidik INS Kayutanam adalah akibat me-niru2 perguruan2 di Barat dan Amerika, maka hal itu tidak seluruhnya benar. Yang menjadi pemimpin utama dalam hal ini adalah: terutama sekali ciptaan (fitrah-pen) Tuhan, yakni alam Indonesia jauh dan dekat. Dengan mengakui adanya Tuhan, sudah jelas kita mengakui akan ciptaan Tuhan.

    M.Syafe’i adalah pakar pendidikan yang sangat menyadari pentingnya keyakinan akan adanya Tuhan dan kekuasaan Tuhan dalam rancang bangun pendidikan. Pada bagian lain dari bukunya beliau berkata, “Sifat kerja adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tiap2 yang menentang dalil ini akan hancur. Tiap2 yang melaksanakan dalil ini akan bahagia”. Syafe’i ingin menegaskan: Bekerjalah dengan landasan percaya pada kekuasaan Tuhan, sehingga manusia tidak menjadi makhluk yang serakah! Peringatan Syafe’i kini terbukti di Amerika. Kapitalis-Liberalis yang menguasai pasar uang dunia, terpuruk oleh keserakahan yang terakumulasi dalam ‘Subprime Mortgage’, yang berakibat pada krisis keuangan internasional terparah dalam sejarah umat manusia!

    Kuatnya pengaruh filsafat barat (yang berintikan filsafat Cartesian) dalam dunia pendidikan selama puluhan tahun sejak merdeka, telah mendorong rancang bangun pendidikan di republik ini mengarah kepada pengingkaran adanya Tuhan, mengarah kepada pemisahan agama dari urusan negara. Tak heran ketika pada tahun 2003 Rancangan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional akan diundangkan, maka satu partai besar mati-matian menolaknya. Alasannya pada undang-undang tersebut ada kata-kata; Akhlak Mulia, dan Iman Takwa. Partai yang sama pada tahun 2008 mati-matian menolak Rancangan Undang-undang Anti Pornografi.

    Kuatnya pengaruh filsafat barat dalam dunia pendidikan membuat jiwa yang cenderung pada kesucian tidak tidak lagi diberi tempat dalam kehidupan. Yang diperhatikan dalam hidup hanyalah apa yang terukur, sementara jiwa bukanlah hal yang terukur, tak pula terjangkau oleh Panca Indera.

    II. Fitrah

    Dr. M. Quraish Shihab, M.A. lewat tulisannya “Wawasan Al Qur’an”, (www. media.isnet.org-2007) menyatakan bahwa dari segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain antara lain “penciptaan” atau “kejadian”. Dalam Al-Quran kata ini dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak dua puluh delapan kali, empat belas diantaranya dalam konteks uraian tentang bumi dan atau langit. Sisanya dalam konteks penciptaan manusia baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah Allah, maupun dari segi uraian tentang fitrah manusia. Yang terakhir ini ditemukan sekali yaitu pada surat Ar-Rum ayat 30:

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.30:30)

    Muhammad Thahir bin Asyur (2003) dalam tafsirnya Al-Tahrir tentang surat Ar-Rum di atas sebagaimana yang dapat dibaca di www. media.isnet.org menyatakan bahwa: Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta ruhnya).

    Manusia berjalan dengan kedua kakinya adalah fitrah jasadi (jasmani) nya, kemampuan manusia merumuskan masalah dan mengambil kesimpulan adalah fitrah akliah (akal) nya, kemampuan manusia menerima ilham, dan memanfaatkan bashirah adalah fitrah ruhiyah-nya. Pembelajaran Berbasis Fitrah bertumpu pada Fitrah Ruhiyah peserta didik, dimana bashirah-nya akan mengendalikan akal pikirannya.

    Konsepsi fitrah telah ada sejak manusia diciptakan, artinya pada diri setiap orang terdapat potensi fitrah yang senantiasa mendorong manusia berbuat kebajikan, menjadikan dirinya sebagai sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan, bagi sesama manusia. Fitrah bermakna bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci, tidak memiliki dosa apapun. Seseorang yang kembali kepada fitrahnya, berarti ia mencari kesucian dan keyakinannya yang asli, sebagaimana pada saat ia dilahirkan (karena itu menjelang Hari Raya Iedul Fitri tiap individu Muslim, berkewajiban membayar Zakat Fitrah, zakat untuk menyucikan jiwa). Jiwa manusia condong kepada kebaikan, sebagaimana firman Allah,

    “….tetapi Allah menjadikan kamu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci pada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana” (QS Al Hujuraatt: 7-8)

    III. Bashirah

    Seorang Sufi, Abdurrozaq al-Qasyảni (1265M) didalam kitabnya al-Isthilahat al-Sufiyyah, menyatakan al-Bashirah ialah kekuatan hati yang dilimpahi cahaya Ilahi yang dengannya hati dapat melihat hakikat batin sesuatu perkara sebagaimana mata dapat melihat lahiriah sesuatu benda.

    Bashirah, adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Berbeda dengan qalb/kalbu/hati yang tidak konsisten, bashirah selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. Ia tidak bisa diajak kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. Bashirah disebut juga sebagai nurani, dari kata nur, .Bashirah adalah cahaya ketuhanan yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al qalb. Interospeksi, tangis kesadaran, kecerdasan, religiusitas, god spot,bersumber dari sini.

    ”Katakan ini adalah jalanku. Aku menyeru kepada Allah atas dasar bashirah. Demikian pula orang orang yang mengikutiku”. (QS: Yusuf:108)

    “Akan tetapi di dalam jiwa manusia itu ada bashirah (yang tahu)” (QS.Al Qiyaamah:14).

    Manusia yang sudah mampu menghadirkan “Kekuasaan Allah” pada “Bashirah” yang ada dalam jiwanya tentulah akan memperoleh Nafsu Mutmainnah atau jiwa yang tenang, dan insya Allah akan selalu dapat menghindarkan dirinya dari hal-hal yang negatip, kontra produktip.

    IV. Pembelajaran Berbasis Fitrah

    Pembelajaran Berbasis Fitrah adalah pembelajaran yang mengupas masalah fitrah dalam makna; suci. Hal ini mengingatkan kita semua, terutama kalangan pendidik, bahwa: ‘Kesucian Jiwa’ memegang peranan penting dalam prilaku dan keberhasilan manusia dalam menjalani hidupnya.

    Jiwa yang kering dan jauh dari nilai-nilai agama adalah jiwa yang cenderung membuat seseorang, atau sekelompok orang berbuat tanpa kearifan dan cenderung mengabaikan etika, estetika, dan ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’

    Jiwa adalah bagian dari Fitrah dalam makna; penciptaan yang dilakukan oleh Allah sebagai Sang Pencipta (al Khalik). Untuk ini Allah telah berfirman dalam surah Asy Syams ayat 7-10 . berikut,

    “(7)Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).(8) Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. (9) Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (10) Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”

    Surah Asy Syams ayat 7-10 ini mengingatkan kita bahwa pada fitrah diri manusia ada “kekuatan yang tersimpan” berupa ilham ketakwaan yaitu kemampuan seseorang untuk mentaati aturan dan ada “kelemahan yang tersimpan” berupa ilham kefasikan yaitu kecenderungan seseorang untuk melanggar aturan, bahkan aturan yang dibuat olehnya sendiri, karena itulah Allah SWT mengingatkan, ‘beruntunglah orang yang senantiasa mampu mensucikan jiwanya’.

    Jika manusia mampu menyadari fitrah dirinya yang hakiki dan suci dan mengenali keberadaan “kekuatan yang tersimpan”, untuk kemudian mampu mengeluarkannya, mengalirkannya ke dalam aliran darah, pikiran, dan jiwanya, ketenangan batin akan menyeruak memenuhi sekujur tubuhnya.

    Dia pun akan melangkah dengan mantap, menyusuri hari-harinya, jauh dari rasa cemas, dan rasa takut, karena dia tidak lagi merasa sendiri, “Kekuasaan Allah” selalu hadir mendampingi dalam jiwanya. Perlahan tapi pasti dia akan memperoleh kecerdasan spiritual yang mendukung tumbuhnya kecerdasan intelektual.

    Efek dari semua ini adalah: dia mampu berpikir besar dan berbuat besar, tanpa pernah merasa besar. Dia dapat menjadi tokoh penting dalam masyarakat tanpa pernah merasa menjadi orang penting. Dia adalah pencontoh paling nyata dari sifat Rasullullah; Sidiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya),Tabligh (selalu menyerukan kebaikan), dan Fatanah (cerdas).

    Kunci keberhasilan untuk meraih kesucian jiwa – dimana bashirah kemudian berperan besar dalam menumbuhkan kecerdasan spiritual – adalah:

    1. Yakin dan sangat yakin pada keberadaan dan kekuasaan Allah.
    2. Senantiasa berusaha mensucikan jiwa dengan selalu ikhlas ber-dzikir mengingat Allah.
    3. Melakukan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya dalam rangka: menghambakan diri kepada Allah

    V. Penutup

    Jika seminar yang diselenggarakan ini adalah seminar pada umumnya – yang hanya menyisakan rangkaian kata-kata melayang tanpa bekas di udara dan kertas makalah yang bertumpuk – maka makalah yang ditulis ini menjadi sesuatu yang bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, melainkan hanya seonggok tulisan yang ditulis sekedar untuk mengikuti kehendak panitia.

    Jika kata demi kata yang terangkai menjadi kalimat ditempatkan sebagai sebuah makna yang patut direnungkan, insya Allah yang menulis makalah, dan yang membaca makalah akan mendapatkan curahan kasih sayang Allah dalam volume dan nilai yang sama.

    Jika makalah ini dibaca oleh saudara yang non muslim, percayalah dalam ajaran agama (atau ajaran budaya) saudara pun sangat dilarang pemujaan yang berlebihan terhadap harta, tahta, serta dunia dengan segala isinya, sehingga nilai-nilai kemanusiaan kita yang luhur – yang membedakan kita dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan – tergadaikan.

    sumber:http://agupenajateng.net/2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melalui-pendekatan-pembelajaran-berbasis-fitrah/

    Iklan

    Posted in Umum | Komentar Dinonaktifkan pada PEMBENTUKAN KARAKTER

    Juklak School Grant

    Posted by alqossam86 pada 14 Mei 2009

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A.    Latar Belakang

    Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai pihak mempertanyakan apa yang salah dengan pendidikan kita. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada 3 alasan mengapa mutu pendidikan di Indonesia masih relatif rendah.

    Pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional yang menggunakan pendekatan analisis input-output tidak dilaksanakan dengan konsekuen. Pendekatan ini beranggapan apabila kebutuhan input telah dipenuhi, maka otomatis output pendidikan akan baik, pada kenyataannya, khususnya dalam dunia pendidikan, hal ini tidak terjadi demikian. Selama ini kita terlalu memperhatikan   input-output dan kurang memperhatikan proses pendidikan.

    Kedua, pendidikan dilakukan secara birokratik sentralistik. Dan ketiga, peran serta warga sekolah, khususnya guru, dan masyarakat terutama orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat kurang.

    Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya melalui pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah.

    Mengingat kelemahan-kelemahan tersebut, sejak tahun 2000 Depdiknas mulai melaksanakan otonomi pendidikan. Kebijakan pendidikan lanjutan perama diarahkan pada perluasan akses, peningkatan mutu dan manajemen pendidikan. Kebijakan peningkatan mutu pendidikan memuat program-program yang sifatnya memfasilitasi peningkatan penyelenggaraan proses pendidikan. Salah satu bentuk mekanisme yang dikembangkan dengan mempertimbangkan semangat otonomi daerah dalam program peningkatan mutu adalah pemberian subsidi sekolah (School Grant).

    B.    Pengertian Subsidi Sekolah

    Subsidi sekolah adalah sejumlah dana dekonsentrasi yang disalurkan oleh Dinas Pendidikan Propinsi langsung ke sekolah dengan kategori sekolah rintisan dan potensial yang terpilih berdasarkan penilaian terhadap RPS dan proposal yang diajukan sekolah.

    C     Tujuan

    Subsidi yang diberikan dimaksudkan sebagai dana stimulan bagi sekolah dalam  meningkatkan mutu sekolah. Karena sekolah merupakan pihak yang paling mengetahui kebutuhannya, diharapkan dana ini dapat dimanfaatkan oleh sekolah secara mandiri untuk melaksanakan berbagai program yang tertuang dalam proposal sesuai Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dalam upaya meningkatkan mutu sekolah. Selain itu kegiatan ini diharapkan juga dapat mendorong sekolah-sekolah lain untuk program pengembangan sekolahnya.

    D.    Sasaran

    Sasaran subsidi adalah SMP baik negeri maupun swasta dengan kategori sekolah  potensial dan sekolah rintisan, yaitu sekolah yang memiliki rata-rata nilai ujian akhir nasional (UAN) tahun 2005 berkisar antara 5.50-6.49 (sekolah potensial) dan dibawah 5.50 (sekolah rintisan) serta bukan penerima grant Sekolah Standar Nasional (SSN).

    E.    Jenis-jenis Kegiatan

    Jenis kegiatan atau program yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh sekolah adalah kegiatan-kegiatan peningkatan mutu yang tercantum dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).

    Kegiatan yang dapat didanai oleh dana subsidi sekolah meliputi program-program peningkatan mutu, anatara lain sebagai berikut :

    1. Program Kesiswaan
    2. Peningkatan Imtaq
    3. Kreativitas siswa
    4. Olahraga, seni dan budaya
    5. Lomba akademik dan non-akademik
    6. Pencegahan penyalahgunaan narkoba
    7. Pembangunan karakter bangsa
    8. Internalisasi nilai-nilai
    9. Dsb.
    10. Peningkatan prestasi belajar
    11. Pemberian beasiswa prestasi
    12. Pengadaan alat-alat PBM
    13. Pengembangan inovasi pembelajaran
    14. Dsb.
    15. Program yang berkaitan dengan peningkatan kualitas guru
    16. Penelitian tindakan kelas
    17. Pengiriman guru pada berbagai seminar pendidikan
    18. Peningkatan kreativitas guru
    19. Pelatihan guru dengan pola demand-driven
    20. Dsb.
    21. Program yang berkaitan dengan pengembangan sekolah
    22. Sekolah sehat
    23. Pengembangan klub olah raga
    24. Pengembangan program Pendidikan Teknologi Dasar (PTD)
    25. Pengembangan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah)
    26. Dsb.

    Keterangan lebih lanjut mengenai program-program tersebut di atas dapat dilihat pada Lampiran-1.

    F.    Besarnya subsidi

    Besarnya subsidi yang diberikan kepada setiap sekolah penerima adalah sebesar Rp. 30 juta (1 paket), Rp. 60 juta (2 paket), atau Rp. 90 juta (3 paket) tergantung pada program sekolah yang disusun berdasarkan analisis kebutuhan peningkatan mutu sekolah yang dituangkan dalam proposal yang diajukan. Jumlah paket subsidi yang diterima oleh sekolah ditentukan berdasarkan penilaian proposal dan RPS oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

    G.    Hasil yang diharapkan

    Hasil yang diharapkan dengan diberikannya subsidi adalah :

    1. Terjadinya peningkatan mutu di sekolah
    2. Terjadi peningkatan kualitas lulusan
    3. Meningkatnya pemberdayaan sekolah terhadap sumber daya yang dimiliki, termasuk Komite Sekolah dan masyarakat sekitar

    H.    Indikator Keberhasilan

    Sekolah-sekolah penerima subsidi dinyatakan berhasil apabila :

    1. Sekolah telah melaksanakan program sesuai dengan proposal seperti terlampir dalam Surat Perjanjian Pemberian Bantuan  (SPPB)
    2. Sekolah telah mengelola dana subsidi dengan transparan, bertanggung-jawab dan melakukan administrasi dengan baik
    3. Sekolah mengalami perbaikan mutu dalam bidang akademik maupun non akademik (misalnya: peningkatan nilai rata-rata rapor, peningkatan nilai UAN, peningkatan peringkat kejuaraan lomba, peningkatan peringkat sekolah di Kabupaten/Kota masing-masing)
    4. Sekolah telah meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengembangan sekolah.

    I.      Sumber Dana

    Sumber dana program pemberian subsidi sekolah adalah dana APBN melalui satuan kegiatan Peningkatan Mutu SMP (Dekonsentrasi) Propinsi tahun anggaran 2006.

    BAB II

    MEKANISME PELAKSANAAN

    A.    Pelaksana

    1. Pelaksana Subsidi Sekolah di Pusat

    Pelaksana di tingkat pusat adalah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

    Tugas pusat adalah :

    1. Menetapkan panduan pelaksanaan program subsidi sekolah
    2. Menentukan kuota (jatah) dana subsidi sekolah untuk masing-masing propinsi.
    3. Menentukan pengelompokan sekolah menjadi 4 kelompok, yaitu sekolah standar internasional, sekolah standar nasional, sekolah potensial, dan sekolah miskin
    4. Melaksanakan sosialisasi dan pelatihan tingkat pusat
    5. Memantau dan mengevaluasi proses dan hasil pelaksanaan program.
    6. Menyelesaikan/menindaklanjuti masalah/penyimpangan penggunaan dana yang tidak dapat diselesaikan di tingkat propinsi dan kabupaten/kota.

    2. Pelaksana Subsidi Sekolah di propinsi

    Pelaksana di tingkat propinsi adalah Dinas Pendidikan Propinsi. Untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan dibantu oleh Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi).

    Tugas propinsi adalah :

    1. Menyosialisasikan program Subsidi Sekolah kepada Dinas dan Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota.
    2. Membuat SK penetapan sekolah penerima subsidi berdasarkan rangking sekolah calon penerima subsidi sekolah dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan hasil verifikasi oleh Dinas Pendidikan Propinsi.Catatan: Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menyerahkan  rangking sekolah calon penerima subsidi sekolah disertai proposal yang telah disahkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, copi rekening sekolah di Bank pemerintah.
    3. Menandatangani Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB) dengan sekolah penerima Subsidi.
    4. Menyalurkan dana subsidi kepada sekolah penerima dengan cara metransfer dana langsung ke rekening sekolah, dengan catatan: Jika sekolah menerima satu paket (30 juta) penyaluran subsidi dilakukan sekaligus (100%), tetapi jika sekolah menerima lebih dari satu paket (2 paket = Rp. 60 juta atau 3 paket = Rp. 90 juta) penyaluran subsidi dilakukan 2 kali (2 termin masing-masing 50% dari total subsidi)
    5. Memantau pelaksanaan program
    6. Melapor dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan program ke Dit. Pembinaan SMP Jakarta.
    7. Menyelesaikan/menindaklanjuti permasalahan penggunaan dana yang tidak dapat diselesaikan di tingkat kabupaten/kota.
    8. Mengevaluasi pelaksanaan program pada setiap akhir tahun anggaran.

    3. Pelaksana Subsidi Sekolah di Kabupaten/Kota

    a. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Tim Teknis Kabupaten/Kota (TTK)

    Untuk melaksanakan semua program perluasan akses dan peningkatan mutu SMP yang dananya berasal dari Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah baik yang langsung dari pusat maupun yang melalui dekonsentrasi,  Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota membentuk Tim Teknis  Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten/Kota (disingkat TTK) yang dibantu oleh seorang konsultan.

    TTK dibentuk melalui mekanisme pemilihan yang demokratis dalam suatu forum yang dihadiri oleh :

    1)    Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota

    2)    Kasubdin yang menangani SMP

    3)    Kasubdin yang menangani perencanaan dan program

    4)    Seluruh kepala seksi yang menangani SMP

    5)    Seluruh staf pada subdin yang menangani SMP

    6)    Seluruh staf yang menangani perencanaan dan program

    7)    Ketua BMPS Kabupaten/Kota dan seorang yang menangani SMP swasta

    8)    Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota

    9)       Ketua dan seorang anggota MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah).

    Hasil rapat pembentukan TTK dituangkan dalam Berita Acara Pembentukan Tim yang ditandatangani oleh seluruh anggota forum. TTK ditetapkan dengan SK Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dengan masa tugas satu tahun, yaitu periode 2006.

    Susunan TTK adalah sebagai berikut :

    Penanggung jawab:       Kepala Dinas Kabupaten/Kota

    Ketua                             :   Kasubdin yang menangani SMP

    Sekretaris      :               PNS unsur Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang dipilih dalam forum pembentukan tim

    Bendahara    :               PNS bendahara rutin pada subdin yang menangani SMP

    Penanggungjawab kegiatan merangkap anggota :

    1) Penjab kegiatan Subsidi Sekolah

    2) Penjab kegiatan beasiswa

    3) Penjab SMP Terbuka

    4) Penjab Lomba dan Kesiswaan

    5) Penjab USB, RKB dan RPL

    Anggota :

    1)       Satu orang unsur BMPS Kabupaten/Kota

    2)       Satu orang unsur MKKS

    Konsultan :

    TTK dibantu oleh 1 (satu) orang konsultan manajemen. Konsultan tersebut diseleksi dan diangkat oleh Dinas Pendidikan Propinsi yang ditempatkan di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

    Berdasarkan susunan TTK, program Subsidi Sekolah ditangani oleh Penjab Kegiatan Subsidi Sekolah.

    `           b.    Tugas Pokok Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Tim Teknis Kabupaten/Kota (TTK)

    Sehubungan dengan kegiatan Subsidi Sekolah, TTK memiliki tugas-tugas pokok berikut :

    1)       Menyosialisikan program Subsidi Sekolah kepada sekolah-sekolah potensial

    2)       Melakukan seleksi calon penerima Subsidi Sekolah dengan langkah-langkah sebagai berikut :

    a)       Menilai proposal yang diajukan oleh sekolah (lihat lampiran 2 untuk rambu-rambu penilaian proposal). Catatan : Sekolah yang dapat mengirimkan proposal Subsidi Sekolah (School Grant) dan diseleksi proposalnya hanya SMP yang termasuk SMP katagori potensial dan rintisan.

    b)       Melakukan kunjungan lapangan untuk memverifikasi data dan program-program yang diusulkan oleh SMP penyusun proposal.

    c)       Berdaarkan hasil penilaian proposal dan verifikasi lapangan, tim membuat rangking sekolah calon penerima subsidi sekolah.

    3) Memberi masukan kepada sekolah pelamar Subsidi Sekolah untuk merevisi proposalnya bila perlu).

    4) Menerima proposal yang telah direvisi dari sekolah.

    5) Mengesahkan proposal Subsidi Sekolah dengan melakukan penandatanganan Berita Acara Pengesahan Proposal.

    6) Mengirimkan daftar rangking sekolah calon penerima subsidi sekolah (school grant) yang telah ditandatangani oleh ketua TTK dan diketahui oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Daftar rangking tersebut disertai kelengkapannya meliputi proposal, Berita Acara Pengesahan Proposal, dan rekening bank pemerintah atas nama sekolah ke Dinas Pendidikan Propinsi.

    7) Memantau dan mengevaluasi penyaluran dana dan penggunaan dana Subsidi Sekolah di wilayahnya masing-masing.

    8) Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program yang didanai oleh Subsidi Sekolah di wilayahnya masing-masing.

    9) Memberikan pembinaan kepada SMP penerima Subsidi Sekolah terkait dengan penggunaan dana Subsidi Sekolah.

    10)   Membuat laporan keuangan dan pelaksanaan program Subsidi Sekolah di wilayahnya masing-masing secara berkala.

    c.     Tugas Pokok Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota

    Tugas Pokok Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sehubungan dengan program Subsidi Sekolah adalah :

    1) Melakukan koordinasi fungsional dengan Dewan Pendidikan Kabupaten/KOta sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing

    2) Menandatangani daftar rangking sekolah penerima Subsidi Sekolah yang telah ditandatangani  oleh ketua TTK.

    3) Mengirimkan kembali daftar rangking sekolah calon penerima Subsidi Sekolah kepada TTK, untuk selanjutnya dikirim ke Dinas Pendidikan Propinsi

    4) Melakukan pembinaan pelaksanaan program Subsidi Sekolah.

    5) Menjatuhkan sanksi kepada oknum yang terlibat dalam penyalahgunaan dana subsidi.

    6) Mempertanggungjawabkan  pelaksanaan program Subsidi Sekolah kepada Dinas Pendidikan Propinsi berupa laporan pertanggungjawaban pelaksanaan Subsidi Sekolah.

    4.     Pelaksana di sekolah

    Organisasi pelaksana di tingkat sekolah adalah Tim Sekolah yang dibentuk oleh sekolah (lihat Bab III). Sehubungan dengan program Subsidi Sekolah, tim tersebut memiliki tugas pokok sebagai berikut :

    1. Menyusun RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) minimal untuk 5 tahun kedepan;
    2. Menyusun proposal Subsidi Sekolah yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari RPS, kerangka terlampir (lampiran 3);
    3. Menyerahkan proposal kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
    4. Mengikuti perkembangan proses dan hasil seleksi proposal sekolah;
      1. Merevisi proposal Subsidi Sekolah berdasarkan masukan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
      2. Menyerahkan proposal yang telah direvisi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
      3. Memanfaatkan Subsidi Sekolah untuk merealisasikan program seperti tertuang dalam proposal pemanfaatan Subsidi Sekolah;
      4. Membukukan semua jenis pemasukan dan pengeluaran dana;
        1. Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program dan keuangan.

    B.    Langkah-langkah Pelaksanaan Program

    Langkah-langkah pelaksanaan program Subsidi Sekolah secara garis besar adalah sebagai berikut :

    1. Penetapan kuota per propinsi sekolah penerima school grant oleh Direktorat Pembinaan SMP Jakarta;

    2. Pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan tingkat pusat oleh Direktorat Pembinaan SMP, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah;

    3. Sosialisasi Subsidi Sekolah kepada Dinas dan Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota oleh Dinas Pendidikan Propinsi;

    4. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan pembentukan TTK;

    5. Sosialisasi Subsidi Sekolah kepada seluruh SMP potensial yang ada di Kabupaten/Kota tersebut melalui berbagai macam metode, antara lain surat edaran, rapat koordinasi, leaflet, dan sebagainya oleh TTK;

    6. Pembentukan Tim Sekolah (di tingkat sekolah);

    7. Penyusunan proposal Subsidi Sekolah oleh Tim Sekolah;

    8. Penyerahan proposal Subsidi Sekolah oleh Tim Sekolah kepada TTK;

    9. Seleksi calon penerima Subsidi Sekolah melalui penilaian proposal dan kunjungan lapangan oleh TTK;

    10.  Penyusunan daftar calon penerima Subsidi Sekolah oleh TTK;

    11.  Revisi proposal oleh sekolah calon penerima Subsidi Sekolah (revisi didasarkan atas masukan dari TTK);

    12.  Evaluasi proposal oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;

    13.  Penetapan daftar rangking sekolah calon penerima Subsidi Sekolah oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;

    14.  Pengiriman daftar rangking sekolah calon penerima Subsidi Sekolah (dengan dilampiri proposal yang telah disahkan dan Berita Acara Pengesahan Proposal serta nomor rekening bank atas nama sekolah dan fotocopi buku tabungan halaman depan yang memuat nomor rekening, nama pemilik rekening & alamat, cabang bank) oleh TTK kepada Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi);

    15.  Pembuatan SK penerima Subsidi Sekolah oleh Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi) setelah meneliti kelengkapan dokumen;

    16.  Penandatanganan SPPB antara Kepala Sekolah penerima Subsidi Sekolah dengan Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi) yang dibubuhi materai secukupnya dan stempel masing-masing;

    17.  Penandatanganan kuitansi penerimaan dana subsidi sekolah;

    18.  Penyaluran dana Subsidi Sekolah oleh kegiatan propinsi langsung ke rekening atas nama sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    LANGKAH-LANGKAH PENETAPAN PENERIMA SUBSIDI SEKOLAH

    PENETAPAN KUOTA SUBSIDI

    OLEH DIT. PEMBINAAN SMP

    SOSIALISASI DAN PELATIHAN

    TINGKAT PUSAT

    OLEH DIT. PEMBINAAN SMP

    SOSIALISASI TINGKAT PROPINSI

    OLEH SATKER DEKONSENTRASI

    PROPINSI

    1. Mekanisme Pemrosesan Proposal dan Penetapan SK Penerima Subsidi

    1. TTK melakukan seleksi terhadap proposal yang masuk untuk mengidentifikasi SMP yang tergolong berhak menerima Subsidi Sekolah.
    2. Dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan (lihat lampiran 2), TTK menilai proposal yang lolos seleksi pendahuluan :

    ●     Tiap proposal dinilai oleh minimal 3 orang anggota TTK

    ●     Nilai akhir dari suatu proposal adalah nilai merata dari nilai-nilai yang diberikan oleh para penilai.

    ●     Membuat rekapitulasi hasil penilaian proposal

    3         TTK menyusun daftar rangking SMP pemohon Subsidi Sekolah berdasarkan urutan nilai akhir proposal, dari yang tertinggi ke yang terendah.

    1. Sekolah calon penerima subsidi merevisi proposal berdasarkan masukan dari TTK dan kemudian menyerahkannya kembali kepada TTK.
    2. TTK mengesahkan proposal yang telah direvisi
    3. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menetapkan daftar rangking sekolah calon Penerima Subsidi Sekolah.
    4. Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi) menetapkan Sekolah Penerima Subsidi Sekolah dan kemudian menyebarluaskannya kepada pihak-pihak yang terkait.

    1. Mekanisme Penyaluran Dana Subsidi Sekolah

    Langkah-langkah penyaluran Subsidi Sekolah adalah sebagai berikut :

    1. Dit. Pembinaan SMP membuat kontrak kerjasama dengan bank pemerintah untuk keperluan penyaluran dana Subsidi Sekolah melalui Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi).
    2. Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi) membuat kontrak kerjasama dengan bank pemerintah yang sama dengan pusat untuk keperluan penyaluran dana Subsidi Sekolah.
    3. Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi) melalui TTK meminta sekolah menyerahkan foto copy rekening sekolah (tidak perlu membuka rekening khusus untuk school grant).
    4. Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi) menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) ke KPKN untuk selanjutnya ditransfer ke bank pemerintah yang telah melakukan kontrak kerjasama.
    5. Setelah meneliti kelengkapan dokumen administrasi untuk penyaluran dana Subsidi Sekolah yang meliputi proposal yang telah disyahkan, bukti pengesahan proposal, SPPB, kuitansi yang telah ditandatangani, dan copy rekening sekolah. Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi  (Dekonsentrasi) menerbitkan dan mengirimkan Surat Permintaan Pemindahbukuan ke bank tersebut di atas untuk masing-masing sekolah yang menerima Subsidi Sekolah di wilayahnya masing-masing.
    6. Bank pemerintah yang bersangkutan mengirimkan dana Subsidi Sekolah ke rekening sekolah penerima subsidi sesuai ketentuan.
    7. Alokasi Subsidi Sekolah

    Besarnya Subsidi Sekolah yang diterima oleh setiap sekolah tergantung pada kelayakan proposal yang diajukan oleh sekolah. Sekolah bisa memperoleh subsidi sebesar Rp. 30.000.000,- (satu paket), Rp. 60.000.000,- (dua paket), atau Rp. 90.000.000,- (tiga paket).

    1.     Kuota Propinsi dan Kabupaten/Kota

    Besarnya paket dan dana subsidi per propinsi dan kabupaten/kota ditentukan secara proporsional dengan memperhitungkan jumlah SMP yang dikategorikan sebagai SMP potensial di propinsi. Kuota sekolah penerima subsidi sekolah (school grant) akan dihitung dan ditentukan oleh Direktorat PLP Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas.

    2.     Alokasi penggunaan dana oleh sekolah

    Alokasi penggunaan dana Subsidi Sekolah oleh sekolah ditentukan sebagai berikut :

    • Peningkatan mutu

    Alokasi dana subsidi sekolah 100% untuk peningkatan mutu sekolah, khususnya peningkatan mutu proses pembelajaran setelah dikurangi dana manajemen operasional subsidi di sekolah.

    ·      Operasional subsidi :

    Maksimum Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah)

    3. Biaya operasional Subsidi Sekolah

    Biaya operasional kegiatan pelaksanaan kegiatan Subsidi Sekolah pada dasarnya disediakan oleh sekolah sendiri. Dit PLP mengalokasikan dana tambahan untuk menunjang operasional subsidi sekolah sebagaimana disebutkan pada butir 2 di atas. Tambahan dana operasional itu digunakan untuk :

    ·      Rapat koordinasi

    ·      ATK

    ·      Transport lokal

    ·      Monitoring dan evaluasi

    ·      Pelaporan

    4. Biaya operasional Subsidi Sekolah di Kegiatan Peningkatan Mutu SMP (Dekonsentrasi) Propinsi

    Dana operasional Subsidi Sekolah di Propinsi sudah termasuk ke dalam dana operasional pengelolaan Kegiatan Peningkatan Mutu SMP (Dekonsentrasi) Propinsi.

    BAB III

    PELAKSANAAN KEGIATAN DI SEKOLAH

    A.    Tim Pelaksana di Sekolah

    Tim pelaksana program perluasan akses dan peningkatan mutu SMP di sekolah disebut Tim Sekolah dengan masa kerja disesuaikan dengan program yang dikembangkan oleh sekolah berkaitan dengan Subsidi Sekolah.

    1.     Struktur organisasi Tim Sekolah

    1. Penanggung Jawab       :   Kepala Sekolah
    2. Ketua                                 :   Guru yang berkompeten, dipilih oleh forum
    3. Sekretaris                          :   Guru yang berkompeten, dipilih oleh forum
      1. Bendahara                        :   Bendahara rutin sekolah
      2. Penanggungjawab (Penjab) program merangkap anggota :

    Dipilih oleh forum dari unsur sekolah (guru dan atau staf administrasi), jumlahnya tergantung pada jumlah program yang diusulkan sekolah dalam proposal. Penjab yang diangkat bisa meliputi :

    1)    Penjab kegiatan Subsidi Sekolah

    2)       Penjab kegiatan Beasiswa

    3)       Penjab SMP Terbuka

    4)       Penjab Lomba dan Kesiswaan

    5)       Penjab USB, RKB dan RPL

    1. Anggota :

    Terdiri dari 2 orang unsur sekolah (guru dan atau staf administrasi) dan 2 orang unsur masyarakat yang bukan komite sekolah. Berdasarkan susunan Tim Sekolah di atas, program Subsidi Sekolah ditangani oleh Penjab Kegiatan Subsidi Sekolah.

    2.     Pembentukan Tim Subsidi

    Tim Sekolah dibentuk melalui mekanisme pemilihan yang demokratis dalam suatu forum yang dihadiri oleh seluruh komponen sekolah antara lain : kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, komite sekolah, guru, staf administrasi, serta unsur tokoh masyarakat (3 orang) dan unsur orang tua siswa yang bukan komite sekolah (3 orang).

    3.     Persyaratan Personil Tim

    Personil Tim Sekolah, selain Kepala Sekolah, harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut :

    1. Unsur sekolah (guru dan staf administrasi) sebagai calon ketua, sekretaris, dan anggota tim :

    1)       Pegawai Negeri Sipil

    2)       Tertarik pada masalah pengembangan dan pemberdayaan sekolah

    3)       Jujur

    4)       Mau dan mampu bekerja keras

    5)       Tidak dalam rencana mutasi selama pelaksanaan kegiatan

    1. Bendahara

    1)       Pegawai Negeri Sipil

    2)       Unsur sekolah yang memiliki pengalaman, pengetahuan dan kemampuan mengelola pembukuan keuangan

    3)       Jujur

    4)       Cermat

    5)       Mau dan mampu bekerja keras

    6)       Tidak dalam rencana mutasi selama pelaksanaan kegiatan.

    4. Anggota dari unsur masyarakat

    1. Tertarik pada masalah pendidikan khususnya masalah persekolahan
    2. Memiliki kemampuan dan kemauan berorganisasi
    3. Memiliki waktu luang sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam tim
    4. Jujur
    5. Mau dan mampu bekerja keras

    1. Penyusunan Proposal

    Dalam menyusun proposal, sekolah harus mengacu pada Rencana  Pengembangan Sekolah (RPS) jangka menengah (minimal 4 tahun) yang disusun berdasarkan visi dan misi sekolah yang bersifat menyeluruh. Program-program yang dikembangkan sekolah dalam proposal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari RPS tersebut.

    Komponen yang harus ada dalam proposal adalah sebagai berikut :

    1.     PENDAHULUAN

    Dalam pendahuluan dipaparkan hal yang berkaitan dengan rasional mengapa suatu atau sejumlah program perlu dilaksanakan.

    a.     Latar belakang

    Dalam latar belakang dikemukakan kesenjangan antara keadaan ideal yang ingin dicapai oleh sekolah dengan kondisi sekolah saat ini. Kesenjangan merupakan tantangan yang dihadapi sekolah. Tantangan itulah yang harus dicarikan pemecahannya.

    Dalam mengidentifikasi tantangan, sekolah harus memperhatikan aspek-aspek social, budaya, ekonomi, keamanan, dan perkembangan sains dan teknologi. Dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut, sekolah mengidentifikasi kesenjangan-kesenjangan yang ada antara keadaan ideal yang ingin dicapai dengan kondisi sekolah yang ada saat ini.

    b.    Perumusan visi sekolah

    Visi adalah imajinasi moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa yang akan datang. Visi ini diwarnai oleh peluang dan tantangan yang diyakini akan dihadapi di masa yang akan datang.

    Visi sekolah harus realistis. Dalam menentukan visinya, sekolah harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

    1)       Perkembangan dan tantangan masa depan

    2)       Kebijakan pendidikan nasional

    3)       Potensi yang dimiliki sekolah

    4)       Harapan masyarakat yang dilayani sekolah

    5)       Harapan masyarakat di sekitar sekolah

    Visi umumnya dirumuskan dengan kalimat filosofis, bahkan mungkin mirip slogan atau semboyan, sering pula dirumuskan dalam bentuk kalimat yang khas, mudah diingat dan terkait dengan istilah tertentu. Oleh karena itu rumusan visi yang baik seharusnya mengandung makna sebagai berikut :

    1)       Berorientasi ke masa depan, untuk jangka waktu yang lama

    2)       Menunjukkan keyakinan masa depan yang jauh lebih baik, sesuai dengan norma dan harapan masyarakat

    3)       Mencerminkan standar keunggulan dan cita-cita yang ingin dicapai

    4)       Mencerminkan dorongan yang kuat akan tumbuhnya inspirasi, semangat, dan komitmen warga.

    5)       Mampu menjadi dasar dan mendorong terjadinya perubahan dan pengembangan sekolah ke arah yang lebih baik

    6)       Menjadi dasar perumusan misi dan tujuan sekolah

    c.     Perumusan misi

    Misi adalah tindakan atau upaya untuk mewujudkan visi. Jadi misi merupakan penjabaran visi dalam bentuk rumusan tugas, kewajuban, dan rancangan tindakan yang dijadikan arah untuk mewujudkan visi. Dengan kata lain misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi tututan yang dituangkan dalam visi dengan indikatornya. Rumusan visi selalu dalam bentuk kalimat yang menunjukkan “tindakan”  dan bukan kalimat yang menunjukkan “keadaan” sebagaimana pada rumusan visi.

    d.    Perumusan tujuan

    Tujuan sekolah dirumuskan berdasarkan visi dan misi sekolah dengan mempertimbangkan kondisi yang ada serta menjawab permasalahan yang dihadapi sekolah saat ini. Ada dua tujuan yang harus dikemukakan oleh sekolah, yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.

    Tujuan jangka panjang pada dasarnya merupakan tahapan atau langkah untuk mewujudkan visi sekolah yang telah dicanangkan. Tujuan jangka panjang sekolah sebaiknya dikaitkan dengan siklus program sekolah, misalnya, untuk jangka waktu 3 tahunan (siklus pendidikan di tingkat SMP dan SMA), tetapi jika dianggap terlalu pendek, sekolah dapat merumuskan tujuan untuk 2 siklus program sekolah, yang berarti 6 tahun.

    Tujuan jangka pendek atau tujuan situasional sekolah direncanakan untuk jangka waktu yang relatif pendek. Dengan demikian tujuan jangka pendek pada dasarnya adalah tahapan untuk mencapai tujuan jangka panjang sekolah. Tujuan jangka pendek bisa juga merupakan rencana tahunan yang dirumuskan berdasarkan pada kesenjangan (gap) antara kondisi sekolah saat ini dengan kondisi ideal yang diharapkan.

    Ketika menentukan tujuan jangka pendek, skala prioritas harus dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Misalnya, sekolah merumuskan tujuan jangka pendek yang mencakup 5 aspek, maka sekolah perlu menyusun prioritas, apakah kelima aspek tersebut akan dicapai pada tahun pertama, atau hanya beberapa aspek saja dulu dengan pertimbangan kondisi dan kemampuan sekolah.

    2.     ANALISIS PROFIL SEKOLAH

    Kemukakan profil sekolah baik internal maupun eksternal berkaitan dengan program yang dirancang untuk mengatasi tantangan atau kesenjangan. Program yang dibuat oleh sekolah merupakan bagian dari RPS. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun program adalah sebagai berikut :

    a.     Mengidentifikasi fungsi-fungsi

    Dalam menganalisis profil sekolah, sekolah melakukan identifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka pendek. Langkah tersebut perlu dilakukan sebagai persiapan dalam melakukan analisis SWOT (stength, weakness, opportunity, and threat).

    Contoh :Sekolah ingin meningkatkan hasil belajar siswanya, maka fungsi-fungsi

    yang diperlukan adalah :

    1. Proses belajar mengajar (PBM)
    2. Pendukung PBM

    –          Ketenagaan

    –          Kesiswaan

    –          Kurikulum

    –          Perencanaan pembelajaran

    –          Sarana dan prasarana

    –          Hubungan sekolah dengan masyarakat

    1. Keuangan
    2. Pengembangan iklim sekolah

    Apabila sekolah kurang sesuai dalam menetapkan fungsi-fungsi, maka hasil analisis akan menyimpang dan tidak berguna untuk memecahkan persoalan.

    Untuk itu diperlukan kecermatan dalam menentukan fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka pendek yang telah dirumuskan.

    Setiap fungsi ditentukan pula faktor-faktornya, baik faktor internal maupun faktor eksternal, agar setiap fungsi memiliki batasan yang jelas dan memudahkan saat melakukan analisis.

    Setiap fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka pendek telah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah manganalisis tingkat kesiapan masing-masing fungsi beserta faktor-faktornya malalui analisis SWOT.

    b.    Melakukan analisis SWOT

    Analisis SWOT dilakukan dengan maksud mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka pendek yang telah ditetapkan. Oleh karena tingkat kesiapan masing-masing fungsi ditentukan oleh tingkat kesiapan masing-masing faktor yang terkait dengan setiap fungsi, maka analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor, baik eksternal maupun internal dalam setiap fungsi tersebut.

    Dalam melakukan analisis fungsi dan faktor-faktor, maka berlaku ketentuan sebagai berikut : untuk tingkat kesiapan yang memadai, artinya minimal memenuhi kriteria kesiapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, dinyatakan sebagai kekuatan bagi faktor internal atau peluang bagi faktor eksternal. Sedangkan tingkat kesiapan yang kurang memadai, artinya tidak memenuhi kriteria kesiapan minimal, dinyatakan sebagai kelemahan bagi faktor internal atau ancaman bagi faktor eksternal. Untuk menentukan kriteria kesiapan, diperlukan kecermatan, kehati-hatian, pengetahuan, dan pengalaman yang cukup agar dapat diperoleh penilaian kesiapan yang tepat.

    Format analisis SWOT terlampir.

    3.     IDENTIFIKASI MASALAH

    Kelemahan atau ancaman yang dinyatakan pada faktor eksternal dan faktor internal yang memiliki tingkat kesiapan kurang memadai disebut permasalahan. Selama masih ada fungsi yang tidak siap atau masih ada masalah, maka pencapaian tujuan jangka pendek yang telah ditetapkan tidak akan maksimal.

    Berdasarkan hasil analisis, kelemhan dan ancaman yang dihadapi oleh sekolah dari masing-masing fungsi dapat diidentifikasi. Kelemahan dan ancaman tersebut merupakan permasalahan yang dihadapi oleh sekolah. Kemukakan permasalahan-permasalan yang berkaitan dengan tujuan jangka pendek yang akan dicapai.

    4.     IDENTIFIKASI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

    Agar tujuan jangka pendek dapat tercapai, diperlukan tindakan-tindakan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi siap. Tindakan yang dimaksud disebut langkah-langkah pemecahan masalah, yang pada hakekatnya merupakan tindakan mengatasi kelemahan atau ancaman agar menjadi kekuatan atau peluang.

    Setelah diketahui tingkat kesiapan faktor melalui analisis SWOT, langkah selanjutnta adalah memilih alternatif langkah-langkah pemecahan masalah, yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi siap dan mengoptimalkan fungsi yang dinyatakan telah siap.

    Misalnya, jika dari analisis ditemukan kelemahan atau ancaman pada fungsi PBM, sebagai berikut :

    Jumlah guru cukup, tetapi suasana belajar belum cukup mendukung akibat metode mengajar guru yang kurang bervariasi.

    Contoh Langkah pemecahannya adalah sebagai berikut :

    1. Pengaktifan MGMP sekolah

    Melalui MGMP sekolah, diharapkan permasalahan tersebut dapat diatasi, termasuk mensiasati kurikulum yang padat dan mencari alternatif pembelajaran yang tepat serta menemukan berbagai variasi metode dalam mengajarkan setiap materi mata pelajaran.

    Melalui MGMP, sekolah juga dapat menyusun dan mengevaluasi perkembangan kemajuan belajar sekolah. Evaluasi kemajuan yang dilakukan secara berkala hasilnya dapat digunakan untuk menyempurnakan rencana berikutnya.

    1. Pengiriman guru mengikuti pelatihan

    Sekolah menentukan berbagai alternatif pemecahan masalah sesuai dengan kondisi dan kemampuan sekolah.

    5.     PERUMUSAN PROGRAM

    Dari berbagai alternatif langkah-langkah pemecahan masalah, sekolah menyusun program-programnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Rencana yang dibuat harus menjelaskan secara rinci, lugas, dan sistematis tentang aspek-aspek yang akan dicapai, program yang harus dilakukan, siapa yang harus melakukan, dan berapa biaya yang diperlukan. Ini diperlukan untuk memudahkan sekolah dalam menjelaskan dan memperoleh dukungan dari pemerintah maupun dari pihak manapun, baik secara moral maupun finansial untuk merealisasikan program-program yang telah dibuat (contoh perumusan program terlampir).

    Hal-hal yang diperlukan setelah sekolah memiliki program-program adalah sebagai berikut :

    1. Menghitung jumlah satuan program, kebutuhan tenaga, kebutuhan alat dan bahan, untuk menghitung kebutuhan anggaran.
    2. Melakukan sosialisasi semua program yang telah dikembangkan kepada semua warga sekolah, yaitu wakil kepala sekolah, guru, staf administrasi, siswa, komite sekolah, orang tua siswa.
    3. Membuat strategi pelaksanaan program, termasuk alokasi waktu dan jadwal kegiatan setiap program.

    6.     STRATEGI PELAKSANAAN

    Strategi pelaksanaan program harus mengacu pada tujuan yang ingin dicapai, khususnya tujuan jangka pendek dengan memperhatikan kondisi sekolah, khususnya kekuatan dan peluang sekolah. Komponen yang ada dalam strategi pelaksanaan program adalah :

    a.     Tujuan

    Tujuan yang dimaksud  di sini adalah tujuan yang akan dan ingin dicapai dari setiap satuan program yang dirancang.

    b.    Sasaran

    Sasaran dari setiap satuan program tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Sasaran dapat berupa orang, benda, atau kegiatan.

    c. Indikator keberhasilan

    Kemukakan indikator-indikator keberhasilan dari setiap satuan program. Indikator yang dikemukakan harus jelas, rinci dan dapat diukur.

    d.    Anggaran / pembiayaan

    Anggaran yang dibuat merupakan rincian biaya dari setiap satuan program. Upayakan sebelum membuat anggaran, penanggungjawab program membuat rincian pelaksanaan satuan program. Berdasarkan rincian tersebut, Tim Sekolah membuat daftar kebutuhan biaya. Keseluruhan kebutuhan biaya dari semua satuan program yang diusulkan merupakan anggaran yang dibutuhkan dalam program Subsidi Sekolah dari sekolah yang bersangkutan.

    Dalam membuat daftar kebutuahn biaya, tim harus cermat, teliti, dan rasional.

    7.     WAKTU PELAKSANAAN

    Waktu yang dimaksud adalah kapan dan berapa lama masing-masing satuan program akan dilaksanakan. Perkiraan waktu setiap satuan program perlu mempertimbangkan berbagai aspek, misalnya kalender pendidikan. (Catatan : Realisasi program Subsidi Sekolah mengikuti tahun pelajaran, bukan tahun anggaran).

    8.     KEBERLANJUTAN PROGRAM

    Sekolah harus mengemukakan rencana yang akan dilakukan untuk mempertahankan agar program-program tetap berjalan setelah program subsidi sekolah selesai atau setelah dana subsidi habis.

    1. Mekanisme Penyusunan Proposal

    Langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh Tim Sekolah dalam menyusun proposal adalah sebagai berikut :

    1. Mempelajari Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) jika rencana pengembangan tersebut sudah ada. Jika RPS tersebut belum ada, sekolah harus membuat RPS terlebih dahulu, minimal 4 tahun kedepan dengan langkah-lngkah seperti yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu.
    2. Mempelajari Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah, melihat program-program dalam RPS yang belum ada anggarannya, kurang, atau perlu peningkatan dan sebagainya.
      1. Membuat skala prioritas pencapaian tujuan
      2. Menyusun proposal untuk memperoleh  subsidi
    3. Membahas draft proposal untuk memperoleh masukan, kritik, dan saran dari warga sekolah dan Komite Sekolah dalam rangka penyempurnaan proposal.
      1. Menyempurnakan proposal sehingga siap diserahkan kepada TTK
    4. Menandatangani proposal : di sebelah kanan ketua tim, sebelah kiri mengetahui Kepala Sekolah dan dibubuhi cap sekolah.

    D.        Mekanisme Pengajuan Proposal

    Langkah-langkah yang dilakukan sekolah setelah proposal selesai disusun adalah sebagai berikut :

    1. Sekolah mengajukan proposal pada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melalui Tim Teknis Kabupaten/Kota.
    2. TTK menampung proposal dari sekolah-sekolah pelamar dan melakukan seleksi (penilaian dan verifikasi lapangan) terhadap proposal tersebut (lihat tugas pokok TTK).
    3. Berdasarkan hasil seleksi dan verifikasi tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota membuat rangking sekolah calon penerima subsidi dan menyerahkan daftar rangking serta kelengkapannya ke Dinas Pendidikan Propinsi.

    E.        Persiapan Pelaksanaan Kegiatan

    1. Rekening  Sekolah

    Setelah sekolah memperoleh informasi tentang kepastian bahwa sekolah yang bersangkutan memperoleh subsidi, maka sekolah tersebut menyiapkan rekening  untuk pengiriman dana subsidi. Rekening yang digunakan adalah rekening sekolah. Apabila sekolah belum memiliki rekening bank atasa nama sekolah, maka sekolah yang bersangkutan membuka rekening bank, dengan ketentuan sebagai berikut :

    1. Rekening dibuka di Bank Pemerintah
      1. Rekening harus atas nama Sekolah. Tidak ada nama lain dalam rekening tersebut kecuali nama sekolah.
      2. Dua orang yang menandatangani rekening adalah Kepala Sekolah dan bendahara rutin sekolah.
    2. Tim pelaksana sekolah membentuk penanggungjawab program atau penanggungjawab kegiatan.
    3. Tim pelaksana sekolah dan seluruh penanggungjawab program membuat program kerja berikut jadwal pelaksanaan kegiatan subsidi sekolah yang diajukan dalam proposal
    4. Tim pelaksana sekolah dan seluruh penanggungjawab program membuat perencanaan anggaran
    5. Tim membahas program kerja, perencanaan anggaran, dan jadwal kegiatan bersama Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan seluruh unsur guru dan karyawannya.
    6. Sosialisasi program untuk memperoleh masukan guna penyempurnaan seluruh kegiatan subsidi sekolah.

    F.        Penyempurnaan dan Pengesahan Proposal

    Sekolah yang terpilih sebagai penerima subsidi bila diperlukan akan diminta untuk menyempurnakan proposal yang telah dibuat sebelumnya.

    1. Mekanisme penyempurnaan proposal sekolah adalah sebagai berikut :
    2. Sekolah menerima proposalnya yang telah lolos seleksi dari TTK. Dalam proposal tersebut sudah ada masukan-masukan sebagai dasar penyempurnaan.
      1. Sekolah memperbaiki proposalnya berdasarkan masukan-masukan dari TTK.
      2. Sekolah mengirimkan proposal yang telah direvisi kepada TTK untuk direview ulang. Jika telah sesuai dengan kriteria, TTK akan melakukan pengesahan atas proposal tersebut pada lembar pengesahan proposal yang dibuat rangkap 4 (empat). Bila belum memenuhi persyaratan, proposal dikembalikan lagi ke sekolah pengusul untuk diperbaiki lebih lanjut.
      3. Proposal yang telah disetujui oleh TTK difotocopy rangkap 4 (empat), 1 (satu) salinan untuk sekolah, 2 (dua) salinan untuk TTK, dan 1 (satu) salinan untuk Proyek Peningkatan Mutu SMP (Dekonsentrasi) pada Dinas Pendidikan Propinsi.
        1. Penandatanganan Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB) dan Kuitansi

    Sekolah-sekolah yang proposalnya telah memperoleh pengesahan akan menandatangani Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB) dan kuitansi penerimaan dana subsidi. Sekolah yang menerima Subsidi Sekolah 1 paket (Rp. 30 juta), maka penandatanganan kuitansinya hanya 1 set (satu termin), sedangkan sekolah yang menerima lebih dari satu paket, penandatanganan kuitansinya 2 set (dua termin, masing-masing 50% dari total subsidi yang diterima sekolah).

    Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB) dan kuitansi penerimaan dana subsidi sekolah ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan Satker Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi) Dinas Pendidikan Propinsi dengan dibubuhi cap masing-masing dan meterai secukupnya.

    G.        Pelaksanaan Program

    Pelaksanaan kegiatan di sekolah dilaksanakan oleh tim pelaksana sekolah dengan bimbingan dari Kepala Sekolah dan komite sekolah.

    1. Tim pelaksana menunjuk penanggungjawab satuan program untuk mencapai tujuan dari setiap satuan program. Penanggungjawab satuan program adalah unsur sekolah dan atau masyarakat yang memiliki pengetahuan, pemahaman, dan perhatian terhadap pengembangan sekolah
    2. Penanggungjawab setiap satuan program non-fisik membahas pelaksanaan pekerjaan, menyangkut target, kualitas pencapaian, dan anggaran dengan tim subsidi sekolah.
    3. Penanggungjawab pelaksanaan satuan program non-fisik mengkoordinasikan semua sumberdaya manusia yang terlibat, pengadaan alat dan bahan yang diperlukan.
    4. Masing-masing penanggungjawab satuan program bersama timnya melaksanakan pekerjaan.
    5. Penanggungjawab satuan program bersama-sama dengan Tim Sekolah melakukan pengawasan dan evaluasi.
    6. Penanggungjawab satuan program membuat laporan, baik laporan kegiatan maupun laporan keuangan untuk disampaikan kepada Tim Sekolah.

    H.        Jadwal Pelaksanaan

    Untuk seluruh pelaksanaan program, penanggungjawab dari setiap satuan program bersama-sama dengan Tim Sekolah membuat jadwal pelaksanaan program, baik program fisik maupun non-fisik. Jadwal pelaksanaan program, baik program fisik maupun non-fisik. Jadwal yang dibuat mengacu pada tahun pelajaran.

    I.          Supervisi

    Tim sekolah bersama-sama dengan masing-masing penanggungjawab setiap kegiatan melakukan supervisi terhadap penanggungjawab satuan program berkaitan dengan pelaksanaan masing-masing satuan program. Supervisi tersebut dilakukan secara berkala, dan hasil temuannya dibahas dalam forum rapat Tim Sekolah yang dilakukan secara berkala, minimal diadakan satu kali dalam satu bulan. Kemajuan pelaksanaan kegiatan pemanfaatan subsidi dilaporkan oleh Tim Sekolah kepada seluruh warga sekolah dalam suatu forum rapat. Laporan kemajuan ini dibuat 3 bulan sekali

    J.         Pelaporan Kegiatan

    1.         Jenis dan tujuan laporan

    Setiap pelaksanaan satuan program diperlukan adanya laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban Tim Sekolah kepada pemberi subsidi. Laporan yang dimaksud meliputi laporan pelaksanaan program dan laporan keuangan. Laporan terdiri dari laporan kemajuan dan laporan akhir.

    Laporan dibuat dengan tujuan untuk melihat sejauh mana tujuan telah dicapai dan mencermati kendala yang dihadapi oleh sekolah selama pelaksanaan program-program pemanfaatan subsidi. Untuk menyusun laporan, Tim Sekolah melakukan evaluasi dan supervisi terhadap pelaksanaan setiap satuan program (penjelasan lebih lanjut mengenai laporan yang harus dibuat oleh sekolah disajikan pada Bab V tentang Laporan)

    2.     Mekanisme Pelaporan

    1. Laporan kemajuan pelaksanaan kegiatan dibuat 2 (dua) bulan setelah dana diterima dan selanjutnya dibuat secara berkala. Laporan akhir diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah program selesai.
    2. Setelah diperiksa oleh Tim Sekolah laporan tersebut dikirim ke TTK dan Satker  Peningkatan Mutu Pendidikan Propinsi (Dekonsentrasi) pada Dinas Pendidikan Propinsi.
    3. Laporan pelaksanaan program dilampiri fotokopi bukti/dokumen yang relevan. Sedangkan laporan keuangan dikirim tanpa dilampiri bukti/dokumen, baik asli maupun fotokopinya (bukti/dokumen pengeluaran keuangan disimpan di sekolah dan akan diperiksa setiap saat oleh tim Monitoring dan Evaluasi dari Kabupaten/Kota, Propinsi, Direktorat PLP atau petugas yang berwenang).
    4. Laporan tetap harus dibuat dan dikirim walaupun tidak/belum ada realisasi pemanfaatan dana.

    BAB IV

    MONITORING DAN EVALUASI

    A.    Tujuan

    Pelaksanaan monitoring dan evaluasi bertujuan untuk memastikan bahwa dana subsidi sekolah telah disalurkan tepat sasaran, diterima sesuai dengan jumlah bantuan yang disalurkan, serta dimanfaatkan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan.

    B.    Sasaran dan Aspek yang dimonitor

    Sasaran kegiatan monitoring program pemberian subsidi adalah kegiatan pusat, propinsi, kabupaten dan sekolah. Adapun aspek-aspek yang akan dimonitor mencakup :

    1. Kegiatan sosialisasi di propinsi dan kabupaten/kota
    2. Proses seleksi sekolah penerima subsidi
    3. Implementasi program dan pemanfaatan dana oleh sekolah
    4. Transparansi pelaksanaan program di semua tingkat
    5. Pengaduan atas penyimpangan dana

    C.    Hasil yang diharapkan

    Hasil yang diharapkan dari kegiatan monitoring dan evaluasi adalah :

    1. Untuk mengetahui apakah program berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
    2. Menemukan masalah-masalah/hambatan dalam pelaksanaan program
    3. Memberikan rekomendasi cara penyelesaian masalah/hambatan
    4. Memberikan masukan untuk perbaikan program

    D.    Pelaksana

    Pelaksana monitoring program pemberian Subsidi Sekolah terdiri dari Tim Pusat, Tim Propinsi, TTK dan Tim Sekolah.

    1.     Tim Pusat

    Tim monitoring tingkat pusat adalah tim yang dibentuk oleh Direktur Pendidikan Lanjutan Pertama dan bertugas melakukan monitoring terhadap aktivitas sebagai berikut :

    1. Sosialisasi di tingkat propinsi dan kabupaten

    b. Proses seleksi sekolah penerima subsidi

    1. Proses penyaluran dana

    d. Pelaksanaan program di tingkat sekolah

    1. Monitoring kasus penyimpangan dana yang tidak dapat diselesaikan oleh pengelola di propinsi dan kabupaten.

    2.     Tim Propinsi

    Monitoring ditingkat propinsi dilaksanakan oleh Tim Propinsi yang telah dibentuk oleh Kepala Dinas Pendidikan Propinsi. Hal-hal yang perlu dimonitor oleh Tim Propinsi adalah :

    1. Sosialisasi di tingkat kabupaten

    b. Proses seleksi sekolah penerima Subsidi Sekolah

    1. Proses penyaluran dana
    2. Pelaksanaan program di tingkat sekolah
      1. Monitoring kasus penyimpangan dana yang tidak dapat diselesaikan oleh pengelola di propinsi dan kabupaten

    3.     Tim Kabupaten/Kota

    `               Monitoring di tingkat kabupaten/kota dilaksanakan oleh TTK yang telah dibentuk oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Hal-hal yang perlu dimonitor oleh TTK adalah :

    1. Proses penyaluran dana dan pemanfaatan dana Subsidi Sekolah

    b. Persiapan, pelaksanaan program, dan produk dari implementasi program Subsidi Sekolah di tingkat sekolah

    1. Monitoring kasus penyalahgunaan dana di tingkat sekolah

    4.     Komite Sekolah

    Komite sekolah melakukan monitoring terhadap kinerja Tim Sekolah dan laporan kemajuan penggunaan dana di tingkat sekolah.

    E.    Jadwal Pelaksanaan

    Waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi sangat bergantung kepada kapan rangkaian kegiatan pemberian subsidi dimulai. Oleh karena sasaran program ini adalah seluruh kabupaten/kota, seringkali sulit untuk menetapkan secara tepat kapan waktu monitoring harus dilakukan. Namun demikian waktu pelaksanaan monitoring dapat dirumuskan sebagai berikut :

    1. Monitoring oleh Tim Pusat dilakukan pada saat :
    2. Propinsi melakukan sosialisasi program ke kabupaten/kota

    b. Kabupaten/kota melakukan sosialisasi ke tingkat sekolah

    1. Kabupaten/kota menyeleksi sekolah penerima subsidi

    d. Propinsi sedang mempersiapkan penyaluran dana

    1. Propinsi sedang menyalurkan dana ke sekolah
    2. Implementasi program di tingkat sekolah berjalan

    g. Ada pengaduan tentang penyimpangan penggunaan dana

    1. Monitoring oleh Tim Propinsi dilakukan pada saat :
    2. Kabupaten/kota melakukan sosialisasi ke tingkat sekolah

    b. Kabupaten/kota menyeleksi sekolah penerima subsidi

    1. Proses penyaluran dana ke sekolah

    d. Implementasi kegiatan di tingkat sekolah berjalan

    1. Ada pengaduan tentang penyimpangan penggunaan dana

    1. Monitoring oleh TTK dilakukan pada saat :
    2. Propinsi sedang menyalurkan dana ke sekolah

    b. Persiapan dan pelaksanaan implementasi program di tingkat sekolah berjalan

    1. Ada pengaduan tentang penyimpangan penggunaan dana

    1. Monitoring oleh Komite Sekolah dilakukan pada saat :
    2. Implementasi program di tingkat sekolah berjalan

    b. Ada pengaduan tentang penyimpangan penggunaan dana

    F.    Metode Monitoring dan Teknik Analisis Data

    Metode monitoring dan teknik analisis data hasil monitoring sangat bergantung kepada tingkatan dan jenis kegiatan yang dimonitor. Tabel di bawah ini menggambarkan secara singkat tentang metode monitoring. Adapun teknik analisis datanya pada umumnya dilakukan dengan analisis deskriptif (kualitatif).

    G.    Evaluasi

    Evaluasi merupakan aspek yang berbeda dengan monitoring. Monitoring terkait dengan kegiatan yang dilakukan untuk memantau atau mengawasi proses dan perkembangan pelaksanaan suatu kegiatan, serta mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala atau masalah, serta bagaimana mengatasi masalah tersebut. Sedangkan evaluasi merupakan langkah mengumpulkan, menganalisis, serta menginterpretasi informasi dari suatu kegiatan untuk megetahui tingkat pencapaian suatu program berdasarkan kriteria yang telah ditentukan

    Evaluasi terhadap program subsidi yang dilakukann oleh masing-masing unsur terkait mencakup evaluasi terhadap persiapan (menyangkut konteks dan input), proses pelaksanaan, dan produk dari implementasi program subsidi sekolah (menyangkut output, outcome, dan dampak). Evaluasi persiapan dilakukan pada saat kegiatan belum dilaksanakan, evaluasi proses, dilaksanakan pada saat program telah selesai dilakukan.

    Hasil evaluasi suatu program dapat digunakan untuk menentukan apakah program sesuai dengan konteks dan input dimana program tersebut dilaksanakan, proses telah dilakukan dengan benar, serta produk yang dihasilkan program tersebut berhasil guna. Berdasarkan hal tersebut, dapat dibuat rekomendasi apakah program tersebut dapat dilanjutkan dengan perbaikan atau tidak dilanjutkan.

    H.    Laporan Monitoring dan Evaluasi

    Setiap tim yang melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi harus melaporkan hasil temuan dan analisis datanya. Hal-hal yang dilaporkan bergantung kepada jenis kegiatan yang dimonitor, demikian juga unit analisisnya. Namun demikian secara umum, laporan hasil monitoring dapat disajikan dalam struktur sebagai berikut :

    Bab I           :   Gambaran Umum Program

    Bab II      :   Metode Monitoring

    –       Jumlah sampel

    –       Waktu monitoring

    –       Cara pengumpulan data

    Bab III     :   Analisis Data

    –          Analisis deskriptif (misalnya persentase di setiap pertanyaan)

    –          Temuan-temuan penting lainnya

    –          Masalah-masalah

    Bab IV        :   Kesimpulan dan Rekomendasi

    BAB V

    PELAPORAN

    Sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan program, laporan-laporan harus disiapkan oleh masing-masing pelaksana program di semua tingkatan. Laporan dibuat dengan tujuan untuk melihat keberhasilan yang telah dicapai dan mencermati kendala yang muncul selama pelaksanaan program.

    A.    Tingkat Sekolah

    Laporan harus disiapkan oleh Tim Sekolah yang terdiri atas laporan pelaksanaan program dan laporan pertanggungjawaban keuangan.

    1.     Laporan Pelaksanaan Program

    Laporan pelaksanaan program terdiri atas laporan kemajuan dan laporan akhir.

    a. Laporan Kemajuan

    Laporan kemajuan dibuat setelah 2 (dua) bulan dana diterima oleh sekolah. Salinan laporan dikirim ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (TTK) dan laporan asli untuk disimpan di sekolah. Laporan ini dibuat secara ringkas yang dapat menggambarkan kemajuan yang telah dicapai dan sekaligus mengidentifikasi hambatan yang dihadapi selama pelaksanaan program berlangsung. Berdasarkan data tersebut, dapat dilakukan perbaikan atau perubahan terhadap rincian program yang direncanakan sebelumnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dengan hasil yang baik.

    b.    Laporan Akhir

    Laporan akhir merupakan laporan lengkap setelah program di sekolah selesai. Laporan ini dikirim ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (TTK) dan propinsi (salinan) dan aslinya disimpan di sekolah. Laporan ini dikirim paling lambat 1 (satu) bulan setelah program di sekolah selesai. Secara garis besar laporan akhir mencakup :

    1) Pelaksanaan Program

    Diuraikan tentang susunan dan personal pelaksana program serta tanggung-jawab masing-masing. Berapa jumlah guru, staf administrasi, siswa serta pegawai lainnya yang terlibat dalam program tersebut. Apabila pelaksanaan  program melibatkan masyarakat dari luar sekolah, perlu dijelaskan sebagai apa dan sejauh mana keterlibatan dan kontribusinya terhadap pelaksanaan program tersebut.

    a)    Pencapaian sasaran mutu yang telah ditetapkan

    Diuraikan apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai atau tidak dan penjelasan serta alasan yang rasional bila tujuan tidak tercapai.

    b)    Kendala selama pelaksanaan

    Perlu diuraikan tentang kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam pelaksanaan program serta cara mengatasinya.

    c)    Anggaran dan sisa dana

    Harus dicantumkan rekapitulasi penggunaan dana serta dana yang masih ada dari setiap satuan program. Sedangkan bukti-bukti secara rinci akan dilaporkan dalam laporan keuangan secara terpisah.

    d)    Kesimpulan dan saran

    Menguraikan kesimpulan terhadap pelaksanaan seluruh program yang telah dilaksanakan dan manyampaikan saran perbaikan untuk penyempurnaan kegiatan-kegiatan tahun berikutnya.

    2)    Laporan pertanggungjawaban keuangan

    1. Laporan keuangan harus dibuat oleh sekolah

    1)       Sebagai informasi tentang kondisi keuangan yang dikelola pada saat pelaporan untuk berbagai pihak yang memerlukan, terutama pemberi dana.

    2)       Sebagai pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan yang telah dilaksanakan.

    1. Laporan dikirimkan paling lambat 1 (satu) bulan setelah program selesai dilaksanakan dan disampaikan kepada :

    1)       Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (TTK) dan propinsi (salinan)

    2)       Asli untuk arsip

    1. Laporan keuangan ini mengikuti standar keuangan yang sudah berlaku yang dilampirkan bukti-bukti pengeluaran yang sah.

    B.    Tingkat Kabupaten/Kota

    Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota harus mengirimkan berbagai macam laporan.

    1. Laporan Pelaksanaan dan Sosialisasi yang disusun dengan format sebagai berikut :

    1. Pendahuluan. Menerangkan tujuan diadakannya kegiatan sosialisasi di tingkat kabupaten/kota serta ringkasan kegiatan selama sosialisasi berlangsung.

    b. Materi, Waktu, Tempat dan Peserta. Menerangkan tentang materi yang diberikan pada saat kegiatan sosialisasi, tanggal dimulai dan berakhirnya kegiatan sosialisasi, serta rincian lama waktu untuk masing-masing topik, lokasi sosialisasi, dan jumlah peserta sosialisasi.

    1. Hasil yang dicapai. Menerangkan hasil yang diharapkan dan dicapai oleh peserta sosialisasi setelah selesai.

    d. Hambatan dan saran. Menerangkan hambatan-hambatan yang dihadapi selama sosialisasi berlangsung serta cara-cara untuk mengatasi hambatan tersebut.

    Laporan dikirimkan paling lambat sepuluh hari setelah kegiatan sosialisasi selesai dilaksanakan   kepada :

    1. Asli dikirimkan ke propinsi

    b. Salinan untuk arsip

    2. Laporan keuangan sosialisasi

    1. Laporan keuangan sosialisasi adalah laporan pertanggungjawaban keuangan yang berisi rekapitulasi alokasi dana, realisasi, sisa dana, pajak yang dipungut dan disetor ke kas negara disertai dengan bukti-bukti pengeluarannya.

    b. Laporan keuangan sosialisasi dikirimkan kepada :

    ●     Lembar 1 untuk arsip

    ●     Lembar 2 untuk propinsi

    Laporan untuk propinsi dikirimkan paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah kegiatan sosialisasi selesai dilaksanakan. Cara pembuatan laporan secara rinci dapat dilihat dalam Petunjuk Pertanggungjawaban Keuangan Dana Sosialisasi Tingkat Kabupaten/Kota

    3. Laporan akhir disampaikan ke propinsi, disusun dengan format sebagai berikut :

    1. Pendahuluan : berisi tentang tujuan dan sasaran program

    b. Tahap persiapan : berisi tentang proses penetapan sekolah penerima bantuan, indikator-indikator yang digunakan dalam proses seleksi

    1. Pelaksanaan program : berisi tentang rekapitulasi realisasi kegiatan serta permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan pelaksanaan program. Berapa sekolah yang dinilai berhasil dan berapa yang kurang berhasil.

    d. Penutup : berisi tentang kesimpulan dan rekomendasi.

    4. Mendokumentasi berkas-berkas sebagai berikut :

    1. Lembar pencatatan pertanyaan/usul/kritik merupakan dokumentasi seluruh pertanyaan/usul/kritik yang diterima oleh Dinas Pendidikan (TTK).

    b. Lembar pencatatan pengaduan merupakan dokumentasi seluruh pengaduan yang diterima oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (TTK).

    C.    Tingkat Propinsi

    Dinas Pendidikan Propinsi harus membuat laporan sebagai berikut :

    1. Laporan sosialisasi Tingkat Propinsi ke pusat, yang terdiri dari :

    a. Laporan Pelaksanaan Sosialisasi yang disusun dengan format sebagai berikut :

    1)       Pendahuluan. Menerangkan tujuan diadakan program sosialisasi di tingkat propinsi serta ringkasan kegiatan selama sosialisasi berlangsung.

    2) Materi, Waktu, Tempat, dan Peserta. Menerangkan tentang materi yang diberikan pada saat kegiatan sosialisasi, tanggal dimulai dan berakhirnya kegiatan sosialisasi, serta rincian lama waktu untuk masing-masing topik, lokasi sosialisasi, dan jumlah peserta sosialisasi.

    3) Hasil yang dicapai. Menerangkan tentang hasil yang diharapkan dari peserta sosialisasi setelah selesai.

    4) Hambatan dan saran. Menerangkan tentang hambatan-hambatan yang dihadapi selama sosialisasi berlangsung serta cara-cara untuk mengatasi hambatan tersebut.

    Laporan dikirimkan paling lambat sepuluh hari setelah kegiatan sosialisasi selesai dilaksanakan, kepada :

    • Asli untuk pusat
    • Salinan untuk arsip

    b. Laporan Keuangan Sosialisasi

    Laporan keuangan sosialisasi adalah laporan pertanggungjawaban keuangan yang berisi rekapitulasi alokasi dana, realisasi, sisa dana, pajak yang dipungut dan disetor ke kas negara disertai dengan bukti-bukti pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan sosialisasi.

    Laporan dikirimkan paling lambat sepuluh hari setelah kegiatan sosialisasi selesai dilaksanakan, kepada :

    ·      Lembar 1 untuk arsip

    ·      Lembar 2 untuk pusat.

    Cara pembuatan laporan secara rinci dapat dilihat dalam Petunjuk Pertanggungjawaban Keuangan Dana Sosialisasi Tingkat Propinsi.

    2. Laporan Akhir dikirim ke pusat, disusun dengan format sebagai berikut :

    1. Pendahuluan. Berisi tujuan dan sasaran program.

    b. Tahap persiapan. Berisi proses penyaluran dana

    1. Pelaksanaan program. Berisi rekapitulasi realisasi kegiatan serta permasalahan yang dihadapi berkaitan denagn pelaksanaan program

    d. Penutup. Berisi kesimpulan dan rekomendasi.

    3. Mendokumentasikan berkas-berkas sebagai berikut :

    1. Lembar pencatatan pertanyaan/usul/kritik merupakan dokumentasi seluruh pertanyaan/usul/kritik yang diterima oleh Dinas Pendidikan Propinsi.

    D.    Direktorat PLP

    Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama membuat laporan yang disampaikan kepada berbagai pihak yang terkait, disusun dengan format sebagai berikut :

    1. Pendahuluan. Berisi tujuan dan sasaran program.

    2. Tahap Persiapan. Berisi mekanisme penyebarluasan informasi Subsidi Sekolah (School Grant) dan proses penyaluran dana.

    3. Pelaksanaan program. Berisi rekapitulasi realisasi kegiatan serta permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan pelaksanaan program Subsidi Sekolah (School Grant).

    4. Penutup. Berisi kesimpulan dan rekomendasi.

    Selain membuat laporan seperti yang telah dijelaskan diatas, Direktorat PLP membuat dokumentasi atas hal-hal sebagai berikut :

    1. Lembar pencatatan pertanyaan /usul/kritik merupakan dokumentasi seluruh pertanyaan/usul/kritik yang diterima oleh Direktorat PLP

    2. Lembar pencatatan pengaduan merupakan dokumentasi seluruh pengaduan yang diterima oleh Direktorat PLP

    LAMPIRAN

    Lampiran 1 :

    Program-program yang dapat didanai oleh Subsidi Sekolah

    Subsidi Sekolah dimaksudkan sebagai pemberian dana kepada sekolah untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Subsidi untuk kegiatan non fisik diperuntukkan :

    1.     KEGIATAN SISWA

    Beberapa kegiatan yang dapat diajukan bantuan subsidinya antara lain :

    a.    IMTAQ

    1)    Tujuan dan kriteria

    Kegiatan peningkatan Iman dan Taqwa (Imtaq) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan iman dan taqwa siswa sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan di antaranya adalah : MTQ, Pesantren Kilat, Retret, Parsaman, dan Darmakilat.

    2)        Mekanisme pelaksanaan :

    a)    Tim sekolah bersama-sama dengan kepala sekolah memilih dan  menetapkan kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa sesuai dengan kebutuhan siswa dan sekolah.

    b)    Membentuk panitia kegiatan. Panitia kegiatan ini sebaiknya melibatkan lebih banyak siswa. Guru sebagai motivator, pembimbing dan fasilisator saja.

    c)       Pelaksanaan kegiatan melibatkan seluruh siswa dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

    d)       Panitia membuat laporan kegiatan.

    b.     Kreativitas Siswa

    1)    Tujuan dan kriteria

    Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas siswa, baik yang terkait langsung dengan mata pelajaran maupun tidak. Kegiatan pengembangan kreativitas di sekolah dapat juga diarahkan untuk mempersiapkan para siswa mengikuti lomba-lomba kreativitas di luar sekolah, baik yang diadakan oleh pemerintah, Perguruan Tinggi, perusahaan, LSM, dan sebagainya. Kegiatan pengembangan kreativitas siswa dapat berupa : kegiatan rancang bangun, temuan teknologi sederhana, lomba karya ilmiyah remaja, dan kegiatan lainnya yang terkait dengan muatan lokal.

    2) Mekanisme pelaksanaan

    a)    Tim subsidi sekolah membuat usulan kegiatan pengembangan kreativitas siswa.

    b)    Pembahasan usulan tim subsidi sekolah tentang kegiatan pengembangan kreativitas siswa bersama dengan seluruh guru dan OSIS.

    c)       Melakukan sosialisasi kegiatan pengembangan kreativitas siswa kepada seluruh unsur sekolah.

    d)       Membentuk panitia kerja dan jadwal pelaksanaan kegiatan pengembangan kreativitas siswa.

    e)       Pelaksanaan kegiatan pengembangan kreativitas siswa, penilaian dan pengumuman pemenangnya.

    f)         Panitia membuat laporan kegiatan.

    c.     Olah raga, Seni dan Budaya

    1)    Tujuan dan kriteria

    Kegiatan olah raga, seni dan budaya merupakan salah satu kegiatan yang melibatkan seluruh komponen sekolah. Pada kegiatan ini selain bertujuan rekreatif yang sifatnya refresing, juga merupakan ajang kebolehan para siswa dalam berbagai bidang tersebut. Sekolah dapat melihat berbagai potensi yang dimiliki siswa. Kegiatan olah raga, seni dan budaya dapat dilakukan melalui kegiatan lomba olah raga, seni dan budaya, baik yang sifatnya perorangan maupun kelompok dan sekolah dapat menghargai prestasi siswa tersebut.

    Kegiatan olah raga dapat diselenggarakan berupa lomba olah raga. Sekolah mengamati potensi olah raga para siswanya dan memilih siswa-siswi sesuai kemampuannya untuk menjadi tim olah raga sekolah. Hal ini sebagai persiapan untuk persiapan lomba olah raga yang lebih luas, misalnya lomba olah raga tingkat rayon, atau bahkan tingkat kabupaten/kota.

    2)     Mekanisme palaksanaan

    Sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan seni dan budaya dalam suatu kegiatan lomba, sebagai upaya mencari bibit-bibit unggul dalam bidang seni dan budaya, selain melalui kegiatan lomba, pengembangan seni dan budaya dapat dilakukan melalui malam pagelaran seni dan budaya mau disatukan, maka malam pagelaran seni dan budaya adalah akumulasi dari serangkaian kegiatan sebelumnya yang merupakan pekan olah raga dan seni sekolah.

    d. Lomba-lomba

    1)     Tujuan dan kriteria

    Kegiatan lomba-lomba yang dimaksud disini adalah kegiatan lomba berbagai jenis yang diikuti oleh seluruh siswa, mulai dari kelas-1 sampai dengan kelas-3, kegiatan lomba disini lebih cenderung pada salah satu upaya peningkatan mutu hasil belajar siswa. Kegiatan lomba ini dapat juga dijadikan persiapan untuk mengikuti lomba-lomba sejenis tingkat kabupaten/kota, tingkat propinsi, tingkat nasional, maupun tingkat internasional.

    Kegiatan lomba yang dilakukan di antaranya adalah : Lomba Karya Ilmiyah Remaja (LKIR), Lomba Penelitian Ilmiyah Remaja (LPIR), kegiatan ini antara lain persiapan siswa mengikuti olimpiade Matematika, Biologi, atau Fisika, Lomba Mengarang dalam bahasa Indonesia, dan Lomba berpidato dalam bahasa Inggris.

    2)     Mekanisme pelaksanaan :

    a)       Tim sekolah memilih dan menetapkan berbagai jenis kegiatan yang akan dilombakan berdasarkan berbagai informasi mengenai lomba yang diadakan tingkat nasional maupun internasional.

    b)       Membahas kegiatan lomba ini dengan seluruh unsur guru dan Osis.

    c)        Membentuk tim pelaksana lomba tingkat sekolah, membuat jadwal kegiatan.

    d)       Panitia lomba sekolah membuat sosialisasi kegiatan lomba kepada seluruh komponen sekolah.

    e)       Panitia lomba sekolah menyelenggarakan lomba. Jika sekolah yang bersangkutan juga menyelenggarakan lomba olah raga, seni, dan budaya, maka kegiatan lomba dapat disatukan dengan lomba olah raga, seni dan budaya. Prinsip penyelenggara lomba adalah :

    • Menjunjung tinggi obyektivitas dan sportivitas.
    • Tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
    • Melibatkan seluruh siswa.

    f)     Sekolah atau panitia menghargai prestasi siswa dan membuat laporan pelaksaan kegiatan.

    e.     Remedial

    1)     Tujuan dan kriteria

    Kegiatan remedial merupakan salah upaya meningkatkan hasil belajar bagi siswa-siswa yang penguasaan materinya belum tuntas. Program Subsidi Sekolah dapat mengakomodasi kegiatan ini dengan mengalokasikan sebagian kecil dana tersebut.

    2)     Mekanisme pelaksanaan :

    a)       Tim sekolah membuat kriteria siswa yang belajarnya belum tuntas.

    b)       Membahas kriteria tersebut dengan seluruh guru.

    c)       Meminta seluruh guru mata pelajaran untuk membuat daftar siswanya yang belum tuntas, jika dananya tidak cukup, maka utamakan mata pelajaran sebagai berikut : Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fisika, Biologi, dan IPS.

    d)         Guru mata pelajaran membuat program remedial.

    e)         Pelaksanaan program remedial

    f)         Masing-masing guru membuat laporan pelaksanaan program remedialnya, panitia membuat rekap pelaksanaan program ini.

    f.      Pemberian Beasiswa

    1)     Tujuan dan kriteria

    Pemberian beasiswa merupakan upaya untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan. Beasiswa yang sifatnya memperluas akses adalah beasiswa yang diberikan pada siswa yang kurang mampu dengan tujuan mempertahankan siswa tetap sekolah, sedangkan beasiswa yang sifatnya meningkatkan mutu adalah beasiswa bakat dan prestasi, artinya beasiswa tersebut diberikan kepada siswa yang pandai dengan tujuan siswa yang pandai tersebut dapat lebih meningkatkan pretasi belajarnya.

    2) Mekanisme pelaksanaan

    a)       Tim sekolah membuat kriteria penerima beasiswa, baik beasiswa untuk siswa yang tidak mampu maupun beasiswa bakat dan prestasi.

    b)       Tim membahas kriteria tersebut dengan seluruh unsur guru.

    c)       Walikelas diminta mendata siswa yang memenuhi kriteria siswa penerima beasiswa.

    d)       Tim sekolah melakukan seleksi siswa penerima beasiswa berdasarkan masukan dari para wali kelas.

    e)       Tim sekolah membuat daftar penerima beasiswa, baik beasiswa bakat dan prestasi maupun beasiswa untuk siswa yang tidak mampu.

    f)         Kepala sekolah membuat surat ketetapan siswa penerima beasiswa.

    g)       Berdasarkan SK Kepala sekolah, bendahara tim sekolah mencairkan beasiswa kepada siswa.

    h)       Tim sekolah membuat laporan pelaksanaan beasiswa.

    g.     Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

    1)     Tujuan dan kriteria

    Kegiatan pencegahan penyalahgunaan narkoba merupakan kegiatan yang dapat dilakukan oleh sekolah bekerjasama dengan instansi atau lembaga terkait untuk menumbuhkan atau meningkatkan kesadaran siswa tentang efek samping menggunakan obat-obatan psikotropika dengan dosis yang berlebihan.

    2)     Mekanisme pelaksanaan

    a)             Tim sekolah memilih dan menetapkan kegiatan tentang tindakan preventif terhadap penyalahgunaan bahaya narkoba.

    b)             Tim sekolah membahas kegiatan tersebut dengan seluruh unsur guru di sekolah.

    c)                Tim sekolah membuat persiapan pelaksanaan kegiatan tentang tindakan preventif terhadap penyalahgunaan bahaya narkoba.

    d)             Pelaksanaan kegiatan tindakan preventif terhadap penyalahgunaan bahaya narkoba.

    e)             Tim sekolah membuat laporan pelaksanaan kegiatan tindakan preventif terhadap penyalahgunaan bahaya narkoba.

    h.     Pembangunan Karakter Bangsa

    1)     Tujuan dan kriteria

    Program Pembangunan Krarakter Bangsa (PKB) dikembangkan karena : (1) kemajuan peradaban dan IPTEK tidak diimbangi dengan kedamaian dan peningkatan moral dan (2) pendidikan merupakan salah satu pendekatan untuk membangun karakter positif. Salah satu upaya untuk membangun karakter bangsa melalui individu siswa adalah dengan membangun kembali nilai-nilai luhur bangsa melalui kegiatan pendidikan.

    Pembangunan mengandung arti memperbaiki, membina atau mendirikan sesuatu. Karakter didefinisikan sebagai sikap dan kebiasanaan seseorang yang memungkinkan terjadinya tindakan moral dan etik, misalnya kebenaran, kebaikan, kebajikan (kejujuran, penghargaan, rasa hormat, dan keberanian), keindahan dan cinta kasih. Dengan demikian Pembangunan Karakter Bangsa di SMP adalah upaya sadar untuk memperbaiki, meningkatkan tatanan nilai dan perilaku termasuk kebiasaan, potensi, kemampuan, bakat, aspirasi, dan cita-cita siswa sebagai bangsa Indonesia.

    Berdasarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Tujuan Pendidikan Nasional dan nilai-nilai universal yang berlaku maka nilai-nilai yang disepakati oleh tim pengembangan untuk diprioritaskan dibangun adalah nilai-nilai berikut ini : Iman, Taqwa, Berakhlak Mulia, Berilmu/Berkeahlian, Jujur, Disiplin, Demokratis, Adil, Bertanggung jawab, Cinta Tanah Air, Orientasi pada Keunggulan, Gotong Royong, Sehat, Mandiri, Kreatif, Menghargai, dan Cakap.

    Dana subsidi sekolah dapat digunakan untuk meningkatakan karakter bangsa, bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah : Kegiatan Intra-kurikuler ; Kegiatan Ekstra-kurikuler ; Penciptaan iklim, aturan, tatanan sosio-kultural yang kondusif ; Kerjasama sekolah, keluarga, dan masyarakat ; atau Kerjasama sekolah, keluarga dan masyarakat.

    2)     Mekanisme pelaksanaan :

    a)       Tim sekolah memilih dan menetapkan bentuk kegiatan pembangunan  karakter bangsa yang akan dikembangkan oleh sekolah.

    b)       Membahas kegiatan tersebut dengan seluruh guru.

    c)       Tim sekolah membentuk panitia pelaksana kegiatan pembangunan karakter bangsa.

    d)         Panitia membuat program kerja, rincian anggaran, dan jadwal kerja.

    e)         Pelaksanaan kegiatan pengembangan karakter bangsa.

    f)           Panitia sekolah membuat laporan pelaksanaan kegiatan.

    i.      Program Peningkatan Prestasi Belajar

    a.     Pengadaan buku

    1)     Kriteria

    Pengadaan buku merupakan salah satu upaya peningkatan minat baca dan kreativitas siswa, serta peningkatan profesionalisme guru, yang pada akhirnya secara pararel akan mampu meningkatkan mutu pendidikan. Buku yang dapat dibeli dalam program ini adalah buku suplemen, buku referensi, buku perpustakaan baik untuk siswa maupun guru, serta LKS.

    2)     Mekanisme Pengadaan :

    a)       Tim sekolah memilih dan menetapkan judul-judul buku yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.

    b)       Tim sekolah membahas pengadaan buku dengan seluruh unsur guru.

    c)       Tim sekolah membentuk panitia pelaksana kegiatan pengadaan buku.

    d)       Panitia pengadaan buku membuat program kerja, rencana anggaran, dan jadwal kegiatan.

    e)       Buku yang dipilih oleh sekolah hendaknya sesuai dengan tujuan program yang ingin dicapai, meningkatkan minat baca, dan mendukung proses belajar mengajar, pengembangan sains dan teknologi, pemberdayaan potensi alam setempat; meningkatkan keterampilan untuk kehidupan sehari-hari; menggambarkan kebudayaan dan suku bangsa setempat, serta agama; dan berkaitan dengan kesehatan, sanitasi, serta lingkungan. Judul-judul buku yang akan diadakan dikelompokkan berdasarkan kategori-kategori ini.

    f)         Pembelian buku dilakukan sendiri oleh sekolah melalui Tim sekolah yang bersangkutan ke toko buku atau penerbit, tanpa melalui distributor atau pihak lain.

    g)       Panitia pengadaan buku sekolah membuat laporan kegiatan pengadaan buku.

    b.     Pengadaan Alat Pendidikan

    1)     Kriteria

    Pengadaan alat penunjang KBM dimaksudkan untuk membantu siswa memahami materi yang sulit dijelaskan di depan kelas, meningkatkan pengetahuan, kreativitas siswa, serta meningkatkan profesionalisme guru.

    Alat KBM yang diadakan adalah alat penunjang KBM mata pelajaran yang diprioritaskan yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Inggris, IPS.

    Jika alat untuk mata pelajaran yang diprioritaskan telah lengkap maka dana subsidi dapat digunakan untuk mengadakan alat KBM mata pelajaran lainnya, misalnya olahraga, kesenian, keterampilan. Dana subsidi dapat pula digunakan untuk melengkapi sarana dan media pendidikan yang dibutuhkan oleh sekolah, termasuk komputer dan suku cadang komputer.

    2)     Mekanisme Pengadaan :

    a)       Tim guru memilih dan menetapkan jenis alat yang dibutuhkan sekolah.

    b)       Tim sekolah membahas panitia pengadaan alat pendidikan.

    c)       Panitia membuat program kerja, rencana anggaran, dan jadwal kegiatan pengadaan alat pendidikan.

    d)       Panitia membuat program kerja, rencana anggaran, dan jadwal kegiatan pengadaan alat pendidikan.

    e)       Alat penunjang KBM yang diadakan dipriorotaskan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Inggris, dan IPS. Jika sekolah telah memiliki secara lengkap alat penunjang KBM mata pelajaran tersebut maka dana dapat digunakan untuk mengadakan alat belajar mata pelajaran lainnya.

    f)         Alat yang diadakan harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan guru dalam menggunakan untuk pembelajaran. Jadi dana yang diperoleh selain dapat digunakan untuk membeli barang yang sudah jadi, dapat pula digunakan untuk membeli bahan-bahan pembuatan alat penunjang KBM mata pelajaran tersebut di atas, serta memperbaiki kerusakan ringan alat-alat sekolah yang ada di sekolah. Dana yang dapat digunakan untuk memperbaiki alat maksimum sebesar 25 % dari total dana pengadaan alat yang tersedia.

    g)       Pembelian alat dilakukan melalui survei harga di tiga tempat. Alat yang dibeli adalah alat dengan harga yang terendah.

    h)       Sekolah meminta jaminan kepada penjual bahwa pada alat yang dibeli tidak terdapat kerusakan yang timbul dari desain, bahan-bahan atau pembuatan, atau karena kelalaian penjual. Jaminan berlaku minimum

    i)         Untuk 6 (enam) bulan setelah alat dikirim dan diterima sekolah.

    j)         Panitia pengadaan alat sekolah membuat laporan kegiatan pengadaan alat.

    2.     PROGRAM YANG BERKAITAN DENGAN PENINGKATAN KUALITAS GURU

    a.     Pelatihan Guru dengan Pola Demand-Driven

    1)     Kriteria

    Pelatihan Demand-Driven, yaitu pelatihan yang diadakan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan guru pesertanya. Pelatihan seperti ini diharapkan tepat guna dan menumbuhkan motivasi guru untuk mengikutinya, sehingga pengetahuan dan ketrampilan guru bertambah, yang pada akhirnya secara paralel akan meningkatkan mutu pendidikan di tingkat SLTP.

    Kegiatan pelatihan ini tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh sekolah penerima grant, tetapi sekolah-sekolah penerima Subsidi Sekolah di kabupaten/kota yang mengajukan program pelatihan guru bergabung sehingga jumlah guru peserta pelatihan memenuhi syarat, yaitu antara 10-20 guru mata pelajaran sejenis. Jika dalam satu kabupaten/kota, jumlah guru yang akan mengikuti pelatihan tidak memenuhi persyaratan, maka sekolah-sekolah penerima subsidi sekolah dari kabupaten/kota yang berdekatan (jarak tempuh tidak lebih dari 2 jam) dapat bergabung untuk mengadakan pelatihan guru dengan pola Demand-Driven.

    Untuk menjamin kualitas pelatihan seperti yang diharapkan maka panitia pelatihan (gabungan dari sekolah-sekolah penerima subsidi Sekolah) bekerjasama dengan instansi yang memiliki kemampuan, misalnya : Perguruan Tinggi Keperguruan setempat, pusat pelatihan guru, atau guru-guru profesional yang ada di lapangan.

    Biaya pelatihan ini ditanggung bersama oleh sekolah-sekolah yang gurunya mengikuti pelatihan ini. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk biaya transportasi, konsumsi, akomodasi, (jika ada), bahan, dan ATK, bagi peserta dan pelatih, honor pelatih, dokumentasi, serta pelaporan tentang proses dan hasil pelatihan.

    2)     Mekanisme pelaksanaan

    a)       Kepala sekolah dan guru yang teratrik mendiskusikan tentang rencana untuk mengikuti pelatihan.

    b)       Pada pertemuan MKKS, kepala sekolah penerima subsidi sekolah bermusyawarah menentukan : pelatihan guru dengan pola demand-driven, tempat pelatihan, membentuk tim penyelanggara pelatihan, mata pelajaran yang akan dilatihkan, dan sistem pembiayaan pelatihan yang diinginkan.

    c)       Setelah MKKS, kepala sekolah dan guru calon peserta pelatihan mendiskusikan hasil pertemuan kepala sekolah tersebut. Guru di masing-masing sekolah mengidentifikasi jenis peningkatan pengetahuan/ketrampilan yang dibutuhkannya dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran di kelas.

    d)       Calon guru yang berminat mengikuti pelatihan mendaftarkan diri ke sekolah pelaksana pelatihan guru dengan pola demand-driven. Jadi guru mendaftar untuk mengikuti pelatihan atas kehendak sendiri dan karena kebutuhan sendiri bukan karena diperintah oleh kepala sekolah.

    e)       Guru peserta pelatihan secara bersama-sama mendiskusikan kebutuhan mereka dan melakukan analisis terhadap kebutuhan tersebut. Analisis meliputi struktur program dan materi pelatihan. Hasil analisis dituangkan ke dalam program pelatihan.

    f)         Membahas program pelatihan yang diinginkan dengan institusi yang akan melaksanakan pelatihan.

    g)       Pelaksanaan pelatihan.

    1. Penyelenggaraan pelatihan dikoordinasikan dan dilaksanakan oleh sekolah pelaksana pelatihan.
    2. Pelaksanaan pelatihan tidak menggganggu proses Kegiatan Belajar Mengajar.(KBM).

    b.     Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

    1)     Kriteria

    Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) merupakan penelitian pembelajarn yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru di bidang pembelajaran demi peningkatan kutu dan hasil pembelajaran. Jadi PTK dimaksudkan untuk mengubah keadaan pembelajaran agar menjadi lebih baik dan bermutu dengan cara mekakukan sejumlah tindakan yang dipandang tepat.

    Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kolaboratif. PTK Individual dilaksanakan oleh seorang guru di kelasnya sendiri atau di kelas orang lain. PTK Kolaboratif dilakukan beberapa orang guru secara sinergis di kelas masing-masing dan di antara anggota melakukan kunjungan antar kelas.

    2)     Tujuan pelaksanaan program PTK adalah :

    a)   Mengembangkan sebuah  model pembinaan guru melalui kegiatan penelitian sehingga mereka mampu meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran berdasarkan temuan penelitian.

    b)       Memberikan peluang dan kesempatan bagi guru untuk melakukan kreasi dan inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di kelas mereka masing-masing.

    3)     Mekanisme Pelaksanaan

    Secara keseluruhan, mekanisme pelaksanaan PTK adalah sebagai berikut :

    a)       Menyusun proposal PTK yang terdiri atas kegiatan :

    (1)     Mengidentifikasi masalah PTK yang terjadi di dalam kelas.

    (2)       Menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu.

    (3)       Merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya.

    (4)       Menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan rumusan masalah yang ditetapkan.

    (5)       Memilih dan menyusun perpspektif, konsep, dan pandangan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK.

    (6)       Menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah yang telah dirumuskan.

    (7)       Menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK.

    (8)       Menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.

    b)       Melaksanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. Baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beriringan, bahkan bersamaan. Semua informasi yang berkaitan dengan ketiga hal di atas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.

    c)       Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulannya dan perumusan saran.

    d)       Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis. Ini merupakan laporan PTK.

    e)       Kepala sekolah dari guru yang melaksanakan PTK secara individu atau kepala sekolah di sekolah yang ditunjuk menjadi pusat kelompok sekolah berperan sebagai pihak penanggung jawab, koordinator, supervisor, dan mentor pelaksanaan PTK yang sedang dilakukan oleh para guru.

    f)         Siswa-siswa yang berada dalam kelas yang dibina oleh guru peserta program PTK terlibat dan berperan secara aktif dalam keberhasilan pelaksanaan program PTK. Tanpa peranserta aktif dari siswa-siswa niscaya program PTK dapat terlaksana.

    g)       Instruktur dan Pakar LPTK dari 6 mata pelajaran perlu dilibatkan dalam supervisi, pembimbingan, dan pendampingan selama pelaksanaan PTK. Keterlibatan mereka hendaknya dimulai dari persiapan, pelaksanaan di kelas sampai presentasi hasil.

    h)       Supervisi dan pemantauan dilakukan dengan cara mengunjungi dan mengamati pelaksnaan PTK di sekolah/kelas, serta membimbing analisis data. Supervisi dan pemantauan dapat dilakukan 2-3 kali. Dengan sinergi antara sekola, guru peserta PTK, dan Instruktur dan unsur Perguruan Tinggi diharapkan pelaksanaan PTK dapat berjalan optimal dan hasil, laporan, serta artikel ilmiah yang dihasilkan juga benar-benar maksimal.

    c.     Peningkatan kreativitas guru

    1)     Kriteria

    Dalam sistem persekolahan, guru memegang peranan yang sangant menentukan keberhasilan suatu program pendidikan karena guru merupakan salah satu faktor yang menentukan maju-mundurnya pendidikan, guru menjadi tulang punggung sistem pendidikan. Sebaik apapun sistem pendidikan dirancang, keberhasilannya tidak akan optimal tanpa keberhasilan guru mengelola pembelajaran di dalam kelas, karena apa yang dirancang dan apa yang diimplementasikan belum tentu sama, sedangkan ruh dari sistem pendidikan adalah proses belajar mengajar di dalam kelas. Orang yang paling berperan dalam proses belajar mengajar adalah guru. Jadi jika guru tidak baik, tidak konsekuen, dan serius menjalankan peran, tugas, dan fungsinya, maka hasil dari proses kegiatan belajar mengajar juga mutunya rendah.

    Oleh karena itu dalam unit satuan pendidikan terkecil, yaitu sekolah membutuhkan guru yang profesional yang ditunjang oleh latar belakang pendidikan, pengalaman, komitmen, penampilan, kreativitas, dan motivasi yang tinggi, sehingga di dalam kelas tercipta suatu suasana kegiatan belajar mengajar yang bermutu, hal ini akan menghasilkan lulusan yang bermutu pula. Memilki guru yang kreatif, inovatif, dan profesional merupakan dambaan sekaligus harapan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu.

    Kegiatan pengembangan kreativitas guru dapat berupa : pengembangan dan implementasi berbagai model pembelajaran menyangkut pendekatan, metode, dan strategi, pengembangan dan implementasi sistim penilaian, pengembangan pengelolaan kelas, pengembangan alat bantu pendidikan, keterlibat guru dalam organisasi profesi guru, dan sebagainya.

    2)     Mekanisme Pelaksanaan

    Secara garis besar mekanisme pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

    a)             Guru menyusun proposal kegiatan pengembangan kreativitas guru.

    b)             Mengajukan proposal tersebut ke Tim Sekolah untuk memperoleh bantuan dana.

    c)             Tim Sekolah bersama Kepala Sekolah membahas usulan pengembangan kreativitas dari guru.

    d)             Guru melakukan pengembangan kegiatan kreativitas guru.

    e)             Guru melakukan implementasi kegiatan pengembangan kreativitas guru dalam proses belajar mengajar.

    f)               Guru membuat laporan kegiatan.

    3. PROGRAM YANG BERKAITAN DENGAN PENGEMBANGAN SEKOLAH

    a.     Sekolah Sehat

    1)     Kriteria

    Kegiatan Sekolah Sehat adalah program penataan sekolah berdasarkan indikator-indikator kesehatan yang diberlakukan. Misalnya pemeriksaan gigi, kebersihan WC, Kantin sekolah, kebutuhan air bersih, sirkulasi udara dan penataan lingkungan.

    2)     Mekanisme pelaksanaan

    a)       Tim sekolah memilih dan menetapkan kegiatan sekolah sehat yang akan dilaksanakan.

    b)       Tim sekolah membentuk panitia pelaksana kegiatan sekolah sehat.

    c)       Panitia kegiatan sekolah sehat membuat program kerja, rencana anggaran, dan jadwal kegiatan pelaksanaan sekolah sehat.

    d)       Panitia membuat sosialisasi sekolah sehat di sekolah.

    e)       Panitia membuat persiapan pelaksanaan kegiatan sekolah sehat.

    f)         Pelaksanaan kegiatan sekolah sehat.

    g)       Panitia membuat laporan kegiatan pelaksanaan sekolah sehat.

    b.     Pembuatan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah)

    1)     Kriteria

    Kegiatan pembuatan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) adalah kegitan yang dilakukan oleh sekolah untuk merealisasikan visi dan misi sekolah menjadi kegiatan yang memungkinkan dapat direalisasikan implementasinya dalam bentuk satuan-satuan program berdasarkan hasil analisis terhadap kekuatan, tantangan dan kondisi yang ada.

    Program-program dalam RPS harus realistis dan implementatif jika situasi dan kondisi memungkinkan. Rencana Program Pengembangan Sekolah harus dibuat minimal untuk 3 tahun ke depan.

    2)     Mekanisme pelaksanaan

    Mekanisme pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

    a)       Kepala Sekolah membentuk tim kecil yang akan merancang Rencana  Pengembangan Sekolah (RPS).

    b)       Tim pengembang RPP mempelajari visi dan misi sekolah.

    c)       Tim pengembang RPS mencari masukan-masukan dari berbagai pihak .

    d)       Tim pengembang RPS membuat daftar program yang akan dikembangkan berdasarkan visi, misi sekolah serta masukan-masukan dari berbagai pihak.

    e)       Tim pengembang RPS membuat dafra fungsi-fungsi yang terkait dengan progran yang akan dikembangkan, kendala dan permasalahannya.

    f)         Tim melakukan analisis SWOT.

    g)       Tim pengembang membuat draft RPS.

    h)       Tim pengembang membahas RPS dengan unsur pimpinan sekolah dan Komite Sekolah.

    i)         Sosialisasi dengan seluruh komponen sekolah untuk mencari masukan dalam rangka perbaikan draft RPS.

    j)         Tim pengembang RPS membuat draft final RPPS untuk jangka waktu minimal 3 tahun ke depan.

    c.     Pengembangan Klub Olah Raga

    1)     Kruteria

    Peningkatan mutu pendidikan dilakukan bisa melalui jalur akademis maupun jalur non-akademis. Salah satu program peningkatan mutu pendidikan melalui jalur non-akademis adalah pengembangan potensi siswa pada bidang olah raga melalui club olah raga sekolah. Pengembangan club olah raga ini diharapkan dapat mendeteksi siswa yang mempunyai potensi pada bidang tersebut. Dengan demikian potensi siswa dapat berkembang. Dalam rangka memfasilitasi pembentukan club olah raga sekolah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama menyelenggarakan pelatihan bagi guru olah raga untuk dapat menjadi pembina dan pengelola club sekolah olah raga.

    2)     Mekanisme Pelaksanaan

    Mekanisme pengembanagn klub olah raga di sekolah adalah sebagai berikut :

    a)   Sekolah melakukan analisis potensi siswa, guru, serta sarana pendukung dalam bidang olah raga, khususnya yang mengarah pada prestasi.

    b)   Sekolah membentuk tim atau klub olah raga tersebut.

    c)    Sekolah membuat rencana kerja pengembangan klub olah raga dan program kerja.

    d)   Sekolah melaksanakan pembinaan siswa untuk prestasi yang tinggi dalam olah raga tersebut.

    d.     Pengembangan Program Pendidikan Teknologi Dasar (PTD)

    1)     Kriteria

    Pendidikan Teknologi Dasar (PTD) merupakan suatu mata pelajaran yang mengacu pada sains dan teknologi dimana siswa mempunyai kesempatan untuk mendiskusikan isu-isu tentang teknologi dan masyarakat. Disamping itu siswa juga belajar memahami dan menangani alat-alat teknologi dan menghasilkan atau membuat peralatan teknologi sederhana melalui aktivitas mendisain dan membuat.

    Pendidikan Teknologi Dasar (PTD) lebih mengembangkan ketrampilan berpikir daripada ketrampilan vocational. Ketrampilan berpikir, pengetahuan kontemporer, mengembangkan sikap positif terhadap alat-alat teknologi sebagaimana kompetensi dasar untuk hidup dan berhasil di masa yang akan datang merupakan kunci dari PTD. Ketrampilan berpikir teknologi dasar adalah kemampuan untuk mengakui suatu permasalahan, mengaplikasikan pengetahuan, memecahkan masalah melalui pencarian berbagai macam alternatif jawaban, membuat keputusan, mengkomunikasikan temuan/fakta-fakta baru, menguji dan mengevaluasi hasil kerja. Oleh karena itu PTD lebih berorientasi pada proses daripada produk.

    Sekolah yang tertarik mengembangkan PTD sebagai salah satu program unggulan harus memikirkannya dengan matang dan komprehensif karena program ini adalah mata pelajaran sehingga pelaksanaannya harus dilaksanakan selama siswa mengikuti pembelajaran di sekolah tersebut, mulai dari kelas-1 sampai dengan kelas-3 dan diikuti oleh seluruh siswa di sekolah tersebut.

    2)     Mekanisme Pelaksanaan

    Mekanisme pelaksanaan program Pendidikan Teknologi Dasar (PTD) adalah sebagai berikut :

    1. Sekolah melakukan analisis potensi seluruh komponen sekolah dalam mendukung pengembangan program Pendidikan Teknologi Dasar (PTD). Catatan: sekolah yang tertarik mengembangkan program ini sebaiknya melakukan kunjungan ke sekolah yang telah menyelenggarakan program ini (sudah ada satu sekolah di satu propinsi, tetapi di beberapa propinsi sudah ada yang dua sekolah)
    2. Sekolah melakukan persiapan pengembangan program PTD, diantaranya adalah : sosialisasi program  PTD ke seluruh stake-holder, workshop PTD, sarana dan prasarana workshop, guru, bahan ajar, kurikulum, dan sebagainya.
    3. Melakukan pelatihan guru secara berjenjang.
    4. Melaksanakan program PTD secara bertahap. (Kelas-1, kelas-1 dan kelas-2, serta kelas-1, kelas-2, dan kelas-3).
    5. Melakukan evaluasi, perbaikan, dan pengembangan

    Lampiran 2 :

    Rambu-rambu Penilaian Proposal

    No.

    Butir-butir penilaian

    Nilai Max

    Nilai

    1.

    Sekolah memiliki rencana strategis.

    5

    2.

    Sekolah memiliki visi dan misi yang jelas.

    5

    3.

    Sekolah memiliki tujuan jangka pendek dan panjang yang sesuai dengan visi dan misinya.

    5

    4.

    Analisis profil sekolah dalam proposal menyertakan data-data yang relevan dengan lengkap.

    5

    5.

    Masalah-masalah yang diidentifikasikan sesuai (rasional) dengan data-data hasil analisis profil sekolah.

    5

    6.

    Masalah-masalah yang diidentifikasikan sesuai dengan keadaan di lapangan.

    10

    7.

    Alternatif pemecahan masalah relevan dengan masalah-masalah yang diidentifikasi.

    10

    8.

    Program-program yang diusulkan memiliki konstribusi yang besar terhadap pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah (peningkatan mutu sekolah).

    10

    9.

    Program-program yang diusulkan merupakan program-program yang bisa didanai oleh dana program Subsidi Sekolah tahun anggaran 2004.

    10

    10.

    Program-program baik yang berupa rehab ringan maupun pengadaan alat pendidikan, didasarkan pada persyaratan/aturan yang berlaku dengan disertai oleh spesifikasinya.

    10

    11.

    Proposal merinci indikator keberhasilan program.

    5

    12.

    Sekolah memiliki daya dukung (sumber daya) yang memadai untuk pelaksanaan program.

    5

    13.

    Rincian pembiayaan program lengkap/detail dan rasional.

    5

    14.

    Jadwal pelaksanaan program dirancang dengan baik.

    5

    15.

    Proposal menyertakan rancangan yang jelas untuk menjamin keberlanjutan program.

    5

    Total

    100

    Lampiran 3 :         Kerangka Proposal Subsidi Sekolah

    PROPOSAL PEMANFAATAN SUBSIDI SEKOLAH

    1.     Data Sekolah

    1. Sekolah          :   Negeri/Swasta
    2. Akreditasi       :   Cukup/Baik/Baik Sekali

    2.    Latar Belakang

    1. Visi
    2. Misi
    3. Program dalam RPS yang akan diperkuat atau direalisasikan.
      1. Kesenjangan antara realitas dan keadaan ideal yang dikehendaki berkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

    3. Profil Sekolah

    Gambarkan profil sekolah dengan singkat dan jelas dengan didukung oleh data statistik (angka-angka) aspek-aspek berikut :

    1. Kemampuan sekolah menyediakan sekolah bagi anak usia sekolah.
    2. Tingkat/angka partisipasi anak usia sekolah.
    3. SDM sekolah baik guru maupun tenaga administratif menyangkut jumlah,

    kualifikasi, kompetensi, dan beban mengajar/pekerjaan mereka.

    1. Keadaan buku, alat dan bahan pendidikan sekolah, perangkat administrasi sekolah dan perabot sekolah.
    2. Kegiatan dan prestasi siswa yang dicapai baik akademik maupun non-akademik.
    3. Data lainnya yang relevan.

    4.     Analisis Profil Sekolah

    Sekolah melakukan analisis profil sekolah dengan SWOT Analysis. Data profil yang dianalisis hanya data yang relevan dengan Program Subsidi Sekolah.

    1. Identifikasi Masalah (misalnya yang terkait dengan ketenagaan, kesiswaan, kurikulum, perencanaan KBM, sarana dan prasarana).
    2. Identifikasi Alternatif Pemecahan Masalah.

    5.     Perumusan Program Subsidi Sekolah

    Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas, sekolah mengusulkan program-program yang akan dilaksanakan melalui Program Subsidi Sekolah.

    6.     Strategi Pelaksanaan

    1. Tujuan
    2. Sasaran
      1. Indikator Keberhasilan (Tetapkan indikator-indikator keberhasilan dari masing-masing program yang diusulkan).

    7.     Jadwal Pelaksanaan Program

    Uraikan rencana waktu pelaksanaan masing-masing program dengan menyesuaikan jadwal pelaksanaan penyaluran dan pemanfaatan Subsidi Sekolah seperti tercantum dalam pedoman pelaksanaan penyaluran dan pemanfaatan Subsidi Sekolah.

    No

    Program

    Waktu

    1.

    2.

    8.     Rencana Pembiayaan

    Dengan memperhatikan prinsip efisinesi dan efisiensi untuk mencapai tujuan program, buatlah rencana pembiayaan pelaksanaan untuk masing-masing program.

    1. Peningkatan Mutu Pendidikan

    No

    Program

    Rencana biaya

    1.

    2.

    1. Biaya Manajemen Operasional Subsidi

    No

    Komponen

    Rencana biaya

    1.

    Rapat

    2.

    Transport lokal

    1. Total Biaya

    No

    Program

    Rencana biaya

    1.

    Peningkatan Mutu

    2.

    Manajemen Operasional Subsidi

    3.

    Catatan: Jumlah biaya yang diusulkan ini di luar dana di RAPBS Tahun  Ajaran 2005

    9.     Rencana Pemanfaatan dan Pemeliharaan

    Uraikan secara ringkas tentang rencana pemanfaatan barang/alat yang diterima, termasuk rencana plementasi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui program Subsidi Sekolah di sekolah. Selain itu jelaskan pula rencana perawatan barang/alat serta rencana pengimbasan pengetahuan/keterampilan yang diperoleh melalui program Subsidi Sekolah kepada guru lainnya.

    10.   Rencana Keberlanjutan Program

    Uraikan secara ringkas tentang rencana menjaga kesinambungan dari progam-program yang akan dilaksanakan dengan memperhatikan seluruh potensi dan kemampuan yang ada di sekolah, pengalaman yang telah dimiliki selama ini, dan rencana strategis sekolah. Kemukakan kemampuan sekolah untuk menyediakan dana pendamping untuk melanjutkan program yang direncanakan untuk tahun-tahun berikutnya. Buat rencana pembaharuan barang/alat dan keberlanjutan kegiatan dalam kurun waktu empat tahun mendatang.

    11.   Lampiran

    Terlampir Profil Sekolah, RPS, RAPBS, hasil musyawarah sekolah dalam menentukan kegiatan.

    Mengetahui                                                                          Pemohon,

    Kepala Sekolah                                                                   Ketua Tim Subsidi Sekolah,

    cap ttd                                                                                    cap ttd

    ……………….                                                                       ………………….

    (nama terang)                                                                      (nama terang)

    Lampiran-4a

    PROFIL SEKOLAH

    Isilah tabel di bawah ini sesuai dengan keadaan di sekolah Anda dan sesuai data Profil Sekolah, RPS, dan RAPBS

    Keadaan di Sekolah*

    Data dalam Dokumen Sekolah*

    Fasilitas Pendukung KBM

    Jumlah set

    % yang baik

    Profil Sekolah
    RAPBS
    Proposal SS
    Buku

    %

    Alat Pendukung KBM (termasuk papan tulis)
    Alat Mesin Kantor
    Pelatihan Guru
    Guru Mapel Mapel Mapel
    Fasilitas Fisik
    Jumlah
    Jumlah dalam kondisi baik Profil Sekolah
    RAPBS
    Proposal SS
    WC murid
    Meubelair

    %

    Ruang Kelas

    Fasilitas Fisik
    Ada/tdk
    Kondisi (Baik, Sedang, Rusak Profil Sekolah
    RAPBS
    Proposal SS
    Sarana Air Bersih

    Sanitasi

    Perpustakaan

    Ruang Serbaguna

    Ruang TU

    Lapangan Upacara

    Catatan  :       *** diisi oleh sekolah pada saat pengajuan proposal

    Format ini diverifikasi di lapangan oleh TTK

    Lampiran-4b

    Ringkasan data sekolah

    Isilah tabel di bawah ini dengan data sekolah untuk tahun ajaran 2004-05 dan 2005-06

    2004-2005

    2005-2006

    Jumlah murid (Kelas 1 s/d 3)

    Jumlah ruang kelas

    Jumlah rombel

    Rerata nilai UAN

    Jumlah guru

    Jumlah guru TP 2005-06 Guru tetap Guru tidak tetap Jumlah seluruhnya 2005-06

    Lampiran-5

    Contoh Berita Acara Pembayaran/Penarikan Dana (BAPPD)

    KEGIATAN ……………………………………..

    BERITA ACARA PEMBAYARAN/PENARIKAN DANA (BAPPD)

    TAHAP…………..

    No…………………………………….

    Pada hari ini ………..tanggal ……….., kami yang bertanda tangan di bawah ini :

    Nama              :………………………….

    Jabatan          :   Pimpro…………………

    Propinsi………………..

    Nama              :………………………….

    Jabatan          :   Ketua Tim Subsidi SLTP/MTs………………………..

    :   Kab. ………….Propinsi………………

    Dengan ini secara bersama-sama telah melakukan penelitian bahwa :

    1. Tim Subsidi SMP/MTs……………..Kec ……………Kab ……………..telah siap melaksanakan pekerjaan ……………sesuai proposal yang telah disetujui dengan menggunakan dana subsidi sekolah pada tahun anggaran ……………….

    1. Dengan telah dipenuhinya persyaratan teknis dan administratif, maka Tim Subsidi Sekolah layak untuk memperoleh pembayaran sebesar Rp…………..yang merupakan beban Kegiatan……….sesuai dengan SPPB No………..tanggal….…….

    1. Rincian Penarikan Dana :

    No.

    Uraian

    %

    Jumlah

    1.

    Total dana yang disetujui

    Rp. ……………………….

    2.

    Penarikan

    Rp. ……………………….

    1. Rencana Penggunaan Dana :

    No.

    Uraian

    Jumlah

    1.

    ………………………………………… Rp. ……………………….

    2.

    ………………………………………… Rp. ……………………….

    3.

    …………………………………………

    Rp. ……………………….

    4.

    …………………………………………

    Rp. ……………………….

    ….

    …………………………………………

    Rp. ……………………….

    Jumlah

    Rp. ……………………….

    1. Dengan telah disalurkannya dana bantuan tersebut di atas, maka Tim Subsidi Sekolah bertanggung jawab sepenuhnya atas penyelesaian pelaksanaan pekerjaan dimaksud sesuai jadwal dan terget sampai dengan mencapai prestasi…….% (……… persen) berdasarkan petunjuk Konsultan Manajemen.

    Demikian Berita Acara Rencana Penggunaan Dana ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

    Telah memeriksa dan meneliti kebenarannya

    Konsultan Manajemen                                                                       ……………………,20….

    Ketua Tim Subsidi

    SLTP/MTs……………….

    (…………………….)

    (…………………………)

    Menyetujui,

    Pemimpin Kegiatan……………..

    Propinsi……………………….

    (………………………)

    NIP.

    Lampiran 6 :

    Contoh penyusunan program

    Sekolah “X” berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk itu sekolah “X” menulis rencana dan program pelaksanaan untuk mencapai tujuan tersebut, sebagai berikut :

    Tujuan 1 : Peningkatan rata-rata nilai hasil belajar siswa sebesar 0,5

    Rencana :

    Program yang dipilih antara lain adalah mengaktifkan MGMP sekolah, mengadakan diskusi terbimbing, meningkatkan disiplin sekolah, dan meningkatkan pengadaan buku perpustakaan.

    Program 1    : Pengaktifan MGMP Sekolah

    Rincian program :

    1. Menyusun strategi mengajar untuk menyiasati kurikulum baru.
    2. Membahas dan mencari pemecahan dari masalah yang dihadapi.
    3. Membantu guru lain dalam memahami materi yang sulit.
      1. Pertemuan periodik sekali seminggu, untuk diseminasi hasil MGMP kabupaten/kota.
      2. Mengundang ahli dari sekolah lain atau universitas sebagai pembicara untuk membahas materi pelajaran tertentu atau inovasi baru dalam berbagai bidang sesuai dengan program sekolah.

    Program 2    : Kelompok diskusi terbimbing

    Rincian program :

    1. Menyusun jadwal pembimbing dan lokasi untuk setiap kelompok.
    2. Membimbing siswa yang sedang mengadakan diskusi.
    3. Mengoptimalkan peran alumni untuk membimbing siswa.
    4. Melakukann evaluasi hasil bimbingan setiap kelompok.
    5. Meningkatkan variasi metode belajar berdasarkan hasil evaluasi.

    Program 3    : Peningkatan disiplin siswa

    Rincian program :

    1. Mengidentifikasi pelanggaran yang sering dilakukan siswa.
    2. Membentuk tim guru yang akan menangani pelanggaran siswa.
    3. Menyusun aturan, tindakan, dan sangsi.
    4. Membuat laporan berdasarkan jenis pelanggaran secara berkala untuk disampaikan pada rapat guru.
    5. Melakukan sosialisasi aturan sekolah untuk meningkatkan disiplin siswa.

    Program 4    : Peningkatan layanan perpustakaan dan pengadaan buku

    Rincian program :

    1. Mengidentifikasi kebutuhan buku untuk guru dan siswa.
    2. Membeli buku sesuai dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia.
    3. Meningkatkan layanan perpustakaan agar mendukung proses belajar mengajar di kelas dan pelaksanaan diskusi kelompok terbimbing.
    4. Meningkatkan kemampuan petugas perpustakaan melalui pendidikan dan pelatihan pustakawan.
    5. Menyusun program pengembangan perpustakaan.

    Program-program tersebut di atas hanyalah contoh, sekolah dapat mengembangkan program lebih dari 4 sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan kemampuna sekolah.

    Setiap tujuan yang terdiri dari sejumlah program atau kegiatan berikut rinciannya, sebaiknya ada penanggungjawabnya. Penanggungjawab tersebut adalah seorang guru yang berkompeten dan dipilih oleh forum.

    Misalkan, selain aspek peningkatan mutu pendidikan, sekolah “X” juga mempunyai target yang lain, yaitu meningkatkan prestasi olah raga. Sasarannya adalah menjadikan tim bola voli sekolah sebagai finalis pada tingkat kabupaten/kota, program yang dikembangkan sekolah tersebut adalah sebagai berikut :

    Tujuan 2        : Menjadi finalis turnamen bola voli tingkat Kabupaten/Kota

    Rencana :

    Untuk mencapai prestasi olah raga bola voli pada tingkat kabupaten/kota, sekolah menentukan beberapa program, yaitu mengaktifkan tim bola voli sekolah, memperbaiki sarana dan prasarana olah raga bola voli, dan meningkatkan perawatan terhadap prasarana dan sarana olah raga bola voli

    Program 1 : Pengaktifan tim bola voli sekolah

    Rincian program :

    1. Menyusun dafrat siswa yang potensial untuk ikut latihan bola voli sekolah.
      1. Menyusun jadwal latihan lebih intensif.
      2. Menyosialisasikan kegiatan dan sasaran olah raga, khususnya bola voli kepada warga sekolah, terutama orang tua siswa.
      3. Menyeleksi siswa yang akan menjadi tim utama bola voli sekolah.

    Program 2    : Peningkatan sarana dan prasarana olah raga bola voli

    Rincian program :

    1. Mengidentifikasi prasarana dan sarana yang memerlukan perbaikan.
    2. Memperbaiki/renovasi prasarana/lapangan dan perangkat pendukung lain yang mengalami kerusakan.
    3. Menyusun daftar alat dan fasilitas yang diperlukan sesuai dengan anggaran yang tersedia.
    4. Membeli alat yang sesuai dengan spesifikasi keperluan pelaksanaan latihan.
    5. Melakukan perawatan secara rutin dan teratur sebagai upaya preventif terhadap sarana dan prasarana oleh raga bola voli.

    Program 3    : Peningkatan porsi latihan dan uji tanding tim bola voli sekolah

    Rincian program :

    1. Mengadakan latihan secara teratur sesuai dengan jadwal yang telah disusun (minimal 3 x per minggu).
    2. Mendatangkan pelatih bola voli dari luar atau pelatih yang berpengalaman.
    3. Mengadakan lomba antar tim yang dibentuk di sekolah.
    4. Mengundang tim sekolah lain untuk uji-tanding (minimal 1 x per bulan).
    5. Mengirim tim sekolah untuk bertanding ke sekolah lain (minimal 1 x per bulan).
    6. Melakukan evaluasi terhadap kinerja setiap tim sekolah dalam rangka persiapan turnamen tingkat kabupaten/kota.
    7. Mengikuti turnamen bola voli tingkat kabupaten/kota

    Penanggungjawab untuk mencapai tujuan ini adalah seorang guru yang berkompeten, yaitu guru olah raga.

    Posted in Pendidikan | Komentar Dinonaktifkan pada Juklak School Grant

    MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF

    Posted by alqossam86 pada 14 Mei 2009

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD
    Editor: Wiwid Kurniandi
    (Sumber: http://www.teknologipendidikan.net)

    ABSTRAK
    Penelitian ini bertujuan untuk untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N Jakarta Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan
    pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing; (2) Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata-rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada penelitian tindakan kelas.
    Kata Kunci: model pembelajaran interaktif, penelitian tindakan kelas, IPA, SD.

    I. PENDAHULUAN
    Meningkatkan mutu pendidikan adalah menjadi tanggungjawab semua pihak yang terlibat dalam pendidikan terutama bagi guru SD, yang merupakan ujung tombak dalam pendidikan dasar. Guru SD adalah orang yang paling berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi. Guru SD dalam setiap pembelajaran selalu menggunakan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering terdengar keluhan dari para guru di lapangan tentang materi pelajaran yang terlalu banyak dan keluhan kekurangan waktu untuk mengajarkannya semua.
    Menurut pengamatan penulis, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan model konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap model-model pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, dan sangat sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi.
    Kurikulum berbasis kompetensi yang mulai diberlakukan di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran IPA. Disamping itu kurikulum berbasis kompetensi memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
    Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu pembelajarannya, dimulai dengan rancangan pembelajaran yang baik dengan memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak ditemui proses pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar IPA siswa kelas 5 di SDN Jakarta Timur yang dipaparkan pada tabel berikut.

    Tabel 1 Nilai rapor untuk mata pelajaran IPA Tahun Ajaran 1998/1999 sampai dengan 2003/2004 SDN Pagi Jakarta Timur

    Tahun Ajaran Nilai Tertinggi Nilai Terendah Nilai Rata-Rata
    1998/1999 6,34 3,78 5,06
    1999/2000 7,26 4,26 5,76
    2000/2001 6,82 3,96 5,39
    2001/2002 7,12 4,12 5,62
    2002/2003 7,36 3,42 5,39
    2003/2004 6,92 4,08 5,00

    Rendahnya perolehan hasil belajar mata pelajaran IPA di SDN Jakarta Timur munjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui mengapa prestasi siswa tidak seperti yang diharapkan, tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan siswa dalam pelajaran IPA. Sebagai guru yang baik dan profesional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera.
    Berdasarkan hal tersebut diatas, penerapan model pembelajaran interaktif menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Penelitian ini dilakukan peneliti yang bertugas sebagai tenaga dosen FKIP-UT dengan berkolaborasi dengan guru-guru SD di SDN Jakarta Timur. Dengan berlolaborasi ini, diharapkan kemampuan profesional guru dalam merancang model pembelajaran akan lebih baik lagi dan dapat menerapkan model pembelajaran yang lebih bervariatif. Disamping itu kolaborasi ini dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksi diri terhadap kinerja yang telah dilakukannya, sehingga dapat melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pembelajaran dan mengelola proses pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa.
    Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50) Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

    B. PERUMUSAN MASALAH
    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebgai berikut:
    Bagaimana desain model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?
    Bagaimana menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?
    Bagaimana kinerja belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
    Apakah dengan kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
    Bagaimana kreaktivitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
    Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?

    C. CARA PEMECAHAN MASALAH
    Permasalahan rendahnya hasil belajar IPA di SDN Jakarta Timur perlu segera ditanggulangi, dan guru perlu melakukan refleksi atas kinerjanya selama perolehan hasil belajar IPA masih dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi, apabila kreaktifitas siswa dalam pembelajaran juga tinggi. Hasil penelitian mengungkapkan bahawa tingkat kreatifitas siswa saat penelitian dilaksanakan masih rendah, kinerja siswa menunjukkan fenomena sebagai berikut guru jarang membimbing siswa dalam diskusi tentang topik-topik IPA, guru jarang memberikan pertanyaan kepada siswa baik secara individual maupun secara klasikal. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena guru kurang memotivasi siswa agar berani bertanya apabila ada masalah/materi yang tidak/kurang dimengerti. Pembelajaran yang ada lebih terpusat pada guru, bukan kepada siswa. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, apalagi dengan diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi yang mengisyaratkan pembelajaran harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa. Hal ini dapat tercapai apbila kinerja belajar siswa ditingkatkan, sehingga guru hanya berperan sebagai fasiltator, motivator dan organisator.
    Berdasarkan hal tersebut diatas, dengan demikian untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SD, menerapkan model pembelajaran interaktif sebagai alternatif untuk dapat meningkatkan perolehan hasil belajar IPA, dapat lebih optimal lagi apabila dilakukan melalui kerja kelompok. Rencana penerapan model tersebut dapat dilihat pada skema berikut.

    PERSIAPAN
    Guru dan Kelas memilih topik dan menemukan informasi

    SEBELUM PANDANGAN
    Kelas atau perorangan siswa mengemukakan
    Yang diketahui tentang topik yang dibahas
    KEGIATAN EKSPLORASI
    Melibatkan siswa dalam topik
    PEMBANDINGAN
    PERTANYAAN ANAK
    Kesempatan kelas mengundang siswa
    Mengajukan Pertanyaan tentang topik
    PENYELIDIKAN
    Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk
    Untuk dieksplorasi selama 2-3 hari
    PERTANYAAN TAMBAHAN
    SETELAH PANDANGAN
    Pernyataan perorangan atau kelompok dikompilasi
    Dan dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya
    REFLEKSI
    Saat memantapkan hal-hal yang telah diverifikasi
    Dan hal-hal yang masih perlu dipilah

    Gambar 1 Bagan Alur Pembelajaran Interaktif
    (Faire and Cosgrove, dalam Harlen 1992)

    D. TUJUAN PENELITIAN
    Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran.
    Secara khusus tujuan penelitian adalah sebagai berikut.
    1. Mengetahui kemampuan guru mendesain model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok
    2. Menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok
    3. Meningkatkan kinerja belajar siswa dalam pembelajaran denganmenggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
    4. Mengetahui apakah kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran interaktif
    5. Meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok.
    6. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
    7. Solusi yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

    E. KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN
    Bagi siswa pembelajaran interaktif memberikan pengalaman baru dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajarnya. Siswa memiliki kesadaran bahwa proses pembelajaran adalah dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, karena itu keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh siswa. Disamping itu, melalui penelitian ini siswa terlatih untuk dapat memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah dan siswa didorong aktif secara fisik, mental, dan emosi dalam pembelajaran.
    Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional, dan pembelajaran interaktif menjadi alternative pembelajaran IPA untuk meningkatkan prestasi siswa. Memberikan kesadaran guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran. Guru mempunyai kemampuan dalam merancang model pembelajaran interaktif yang merupakan hal baru bagi guru, dan menerapkannya dalam pembelajaran IPA. Dengan penelitian ini, kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri siswa juga meningkat, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik. Disamping itu penelitian ini dapat memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK.
    Bagi kepala sekolah penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar (PBM) dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.

    II. KAJIAN PUSTAKA
    Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan IPA secara umum membantu agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki keterampilan untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar maupun menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam yang harus dibuktikan kebenarannya di laboratorium, dengan demikian IPA tidak saja sebagai produk tetapi juga sebagai proses. Untuk itu ada tiga hal yang berkaitan dengan sasaran IPA di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut. (1) IPA tidak semata berorientasi kepada hasil tetapi juga proses. (2) Sasaran pembelajaran IPA harus utuh menyeluruh dan (3) pembelajaran IPA akan lebih berarti apabila dilakukan secara berkesinambungan dan melibatkan siswa secara aktif.

    A. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
    Seringkali kita mendengar kata penelitian, yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris : research, yang berarti kegiatan pencaharian atau ekspolrasi untuk menemukan jawaban dari masalah yang menjadi bidang kajian. Adapun yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan di kelas. Dari segi semantik (arti kata) action research diterjemahkan menjadi penelitian tindakan. Carr dan Kemmis (McNiff, J, 1991, p.2) mendefisikan action research sebagai berikut :
    Action research is a form of self – refflective enquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
    Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa ide pokok antara lain :
    1. Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri
    2. Penelitian Tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
    3. Penelitian Tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan
    4. Tujuan Penelitian Tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktek-praktek, pemahamn terhadap praktek tersebut, serta situasi atau lembaga tempat tersebut dilaksanakan
    Dari keempat ide pokok di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Berdasarkan pengertian tersebut maka Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru di dalam kelasnya melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.

    B. Model Pembelajaran Interaktif
    Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatn. Sunarwan (1991) dalam Sobry Sutikno (2004 :15) mengartikan model merupakan gambaran tentang keadaan nyata. Model pembelajaran atau model mengajar sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada mengajar di kelas dalam setting pengajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
    Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992).
    Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus.
    Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50).
    Model pembelajaran interaktif memiliki lima langkah. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Interaktif diawali dengan (1) persiapan, sebelum pembelajaran dimulai guru menugaskan siswa untuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang hewan peliharaannya masing-masing. (2) kegiatan penjelajahan, pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan teman-temannya dari dekat (meraba, mengelus, menggendong) dan mereka boleh mengajukan pertanyaan. (3) pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya. (4) penyelidikan, guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi lebih jauh. Misalnya siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, dimana mereka tidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya. (5) refleksi, pada pertemuan berikutnya di kelas dibahas hasil penyelidikan mereka, dilakukan pembandingan antara hewan peliharaan dengan hewan liar untuk memantapkan hal-hal yang sudah jelas dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diselidiki lebih jauh. Pada akhir kegiatan guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar mereka seperti buku dan tas sekolahnya.
    Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

    C. Kerja Kelompok
    Suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan IPA yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu kerja kelompok dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit sambil pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman. Kerja kelompok memungkinkan siswa lebih terlibat secara aktif dalam belajar karena ia mempunyai tanggung jawab belajar yang lebih besar dan memungkinkan berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan pada siswa. Sedangkan peran guru lebih ditekankan sebagai organisator kegiatan belajar-mengajar, sumber informasi bagi siswa, pendorong bagi siswa untuk belajar, serta penyedia materidan kesempatan belajar bagi siswa. Guru harus dapat mendiagnosa kesulitan siswa dalam belajar dan dapat memberikan bantuan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya.

    D. Pengertian Belajar
    Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (survived). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu, tejadi dalam jangka waktu waktu tertentu. Perubahan yang itu harus secara relative bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini membedakan dengan perubahan-perubahan lain yang disebabkan oleh kemasakan (kematangan).

    E. Kreativitas
    Dewasa ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik pada anak didik, pegawai negeri maupun pada mereka yang berwiraswasta. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
    Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya. Seorang anak kecil asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam, setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal yang semacam itu. Anak ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan anak lain yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya.
    Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran, Gordon dalam Joice and Weill (1996) dalam E. Mulyana (2005 : 163) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik tentang kraetivitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Lebih jauh Gordon Menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong pleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kraetif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal.

    III. PELAKSANAAN PENELITIAN
    Penelitian dilaksanakan di kelas 5 (lima) SDN Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2004/2005.

    A. Desain Penelitian
    Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N Jakarta Timur.

    B. Prosedur Penelitian
    Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri atas tiga siklus kegiatan sebagai berikut.

    SIKLUS 1
    Tahap Perencanaan (Planning) :
    1. Mengidentifikasi masalah
    2. Menganalisis dan merumuskan masalah
    3. Merancang model Pembelajaran interaktif
    4. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif
    5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
    6. Menyusun kelompok belajar siswa
    7. Merencanakan tugas kelompok

    Tahap Melakukan Tindakan (Action) :
    1. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan
    2. Menerapkan model pembelajaran interaktif
    3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
    4. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
    5. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saatmelakukan tahap tindakan

    Tahap Mengamati (observasi) :
    1. Melakukan diskusi dengan guru SD dan kepala Sekolah untuk rencana observasi
    2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru kelas lima
    3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif
    4. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelamahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya

    Tahap refleksi (Reflection)
    1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
    2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dan mempertimbangkan langkah selanjutnya
    3. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
    4. Melakukan refleksi terhada kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA
    5. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa

    SIKLUS II
    Tahap Refleksi/Siklus II meliputi
    Tahap Perencanaan (Planning)
    1. Hasil refleksi dievaluasi, didiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya
    2. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran
    3. Merancang perbaikan II berdasarkan refleksi siklus I

    Tahap Melakukan Tindakan (Action)
    1. Melakukan analisis pemecahan masalah
    2. Melaksanakan tindakan perbaikan II dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

    Tahap Mengamati (observation)
    1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
    2. Mencatat perubahan yang terjadi
    3. Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan

    Tahap Refleksi (Reflection)
    1. Merefleksi proses pebelajaran interakti dengan kerja kelompok
    2. Merfleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
    3. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian

    Rekomendasi
    Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah
    1. Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA
    2. Guru memiliki kemampuan guru merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran IPA
    3. Terjadi peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran IPA

    C. Analisis Data
    Untuk lebih menjamin keakuratan data penelitian dilakukan perekaman data dalam video. Data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan sesuai permasalahan yang ada dalam bentuk laporan hasil penelitian. Rancangan pembelajaran interaktif dan pemberian tugas kerja kelompok dilakukan validasi oleh teman sejawat dan kepala sekolah. Untuk kreativitas siswa dalam pembelajaran digunakan observasi dan angket serta perolehan hasil belajar siswa digunakan deskripsi kuantitatif.

    IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

    SIKLUS 1
    Tahap Perencanaan (Planning)
    1. Guru mulai mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul saat pelaksanaan pembelajaran.
    2. Guru mencoba menganilisis dan merumuskan masalah yang mungkin muncul saat pembelajaran
    3. Guru merancang model pembelajaran interaktif, dibantu peneliti
    4. Guru dan peneliti melakukan diskusi mengenai penerapan model pembelajaran interaktif, terutama langkah-langkah kegiatan diskusi kelompok siswa
    5. Peneliti dan guru bersama-sama membuat angket untuk siswa dan pedoman observasi
    6. Guru menyusun kelompok berdasarkan siswa yang pandai dibagi merata kesetiap kelompok
    7. Guru merencanakan tugas kelompok tentang topik/materi IPA/Sains

    Tahap Melakukan Tindakan (Action)
    1. Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan sesuai perencanaan pembelajaran
    2. Guru menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran Sains/IPA
    3. Peneliti dan pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
    4. Peneliti dan pengamat memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
    5. Guru belum dapat mengantisipasi kendala dengan melakukan solusi mengalami kendala saat melakukan tahap tindakan Tahap Mengamati (observasi)
    6. Peneliti, pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) dan guru melakukan diskusi untuk rencana observasi pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya
    7. Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru
    8. Peneliti dan para pengamat mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif. Pada awal pembelajaran guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prncanaan, namun setelah beberapa saat guru kembali kepada pola lama yang biasa dilakukan dalam pembelajaran yaitu menjelaskan materi dan siswa menyimak penjelasan guru dan mencatat hal yang dianggap penting. Guru nampak tidak percaya diri ketika siswa bertanya tentang materi yang tidak dimengerti ketika mengerjakan tugas di rumah.
    9. Peneliti, para pengamat dan guru melakukan diskusi untuk membahas tentang kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran IPA/Sains berikutnya. Saran yang diberikan peneliti dan juga para pengamat salah satunya adalah guru harus membaca materi IPA/Sains paket, meskipun guru sudah sering mengajarkan materi tersebut. Guru juga harus membaca beberapa buku referensi lain selain buku paket dan buku wajib, agar guru lebih percaya diri dan dapat menjawab semua pertanyaan siswa dengan tepat. Guru harus dapat mengalokasi waktu dengan baik, sehingga dapat merangkum materi yang dibahas.

    Tahap refleksi (Reflection)
    1. Guru menlakukan analisis temuan peneliti dan para pengamatan saat melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran oleh guru
    2. Peneliti dan para pengamat menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. Terutama dalam mengelola kelas, saat siswa melakukan kerja kelompok.
    3. Guru melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA/Sains. Selama diskusi kelas guru berusaha berkeliling pada setiap kelompok. Guru menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi saat melakukan percobaan.
    4. Guru dibantu peneliti melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA/Sains, di samping itu guru mengadakan evaluasi tentang topik yang sudah dibahas dan nilai rata-rata siswa 5,859. Kreativitas meningkat setelah mengalami pembelajaran yang dilaksanakan guru. Siswa terlibat aktif dalam diksusi kelompok dan percobaan.
    5. Guru melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa, mengevaluasi terhadap kekurangan dan kelemahannya dalam pelaksanaan pembelajaran, berupaya untuk memperbaikinya.

    SIKLUS II
    Tahap Refleksi/Siklus II meliputi
    Tahap Perencanaan (Planning)
    1. Hasil refleksi guru dievaluasi dan didiskusikan bersama dengan peneliti dan para pengamat dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya.
    2. Guru mendata masalah-masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran
    3. Guru merancang perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi siklus I

    Tahap Melakukan Tindakan (Action)
    1. Guru melakukan analisis dan pemecahan masalah yang dihadapinya dalam pelaksanaan pembelajaran
    2. Guru melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dan berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahan saat pembelajaran.

    Tahap Mengamati (observation)
    1. Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif
    2. Peneliti dan para pengamat mencatat perubahan yang terjadi, guru lebih percaya diri dan menjelaskan materi/konsep dengan baik. Guru sudah dapat berperan sebagai nara sumber, fasilitator dan mediator dengan baik. Guru sudah dapat mengelola kelas dengan baik.
    3. Guru, peneliti dan para pengamat melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan.

    Tahap Refleksi (Reflection)
    1. Guru merefleksi proses pembelajaran interaktif yang dilaksanakannya
    2. Guru merefleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif
    3. Guru menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian
    4. Peneliti dan guru memberikan rekomendasi terhadap hasil akhir penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru.
    5. Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah
    6. Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA. Setiap pembelajaran IPA siswa selalu sudah siap dengan pertanyaan tentang materi/topik yang akan dibahas. Siswa sudah terbiasa bekerja kelompok dan berdiskusi
    7. Guru telah memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif khususnya pada mata pelajaran IPA/Sains. Ada kemauan guru untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran lainnya
    8. Prestasi siswa dalam pelajaran IPA/Sains meningkat. Nilai rata siswa mencapai 6,512

    V. KESIMPULAN DAN SARAN
    A. Kesimpulan
    1. Guru dalam mendesain model pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPA, pada awalnya masih ragu dan belum terbiasa.
    2. Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok. Pada awalnya siswa mengalami kesulitan bekerja dalam kelompok, terutama siswa yang pintar/pandai tidak mau bergabung dengan siswa yang tidak/kurang pandai. Siswa yang merasa dirinya pandai lebih suka belajar dan bekerja sendiri. Siswa terkesan egois, untuk dapat menyatukan siswa dalam kelompok dan bekerja sama guru berusaha memberi penjelasan tentang pentingnya berbagi, bekerja sama, bersahabat tanpa memperhatikan kepintaran atau kemampuan orang lain. Justru siswa yang memiliki kelebihan daripada teman-temannya dapat membantunya dengan memberikan penjelasan tentang teori/materi pelajaran yang belum dipahami dan dimengerti
    3. Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.
    4. Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok, mengalami kesulitan dalam pengelolaan waktu. Guru belum dapat membagi waktu dalam masing-masing kegiatan pembelajaran. Siswa terlalu melakukan diskusi, sehingga guru tidak sempat merangkum/menyimpulkan materi yang dibahas karena waktunya sudah habis.
    5. Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata-rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada penelitian tindakan kelas.
    6. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan bertujuan adalah memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakan guru. Menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat dijadikan alternatif untuk penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan berikutnya.

    B. Saran
    Penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok memerlukan kemauan dan pengorbanan yang besar, baik waktu, tenaga dan pikiran untuk itu bagi guru sekolah dasar mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas menggunakan model pembelajaran ini sebagai suatu tantangan.
    Penelitian tindakan kelas sebaiknya dilakukan oleh guru dengan penuh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, peneliti hanya berusaha menjembatani dan memfasilitasi agar para guru sekolah dasar mau melakukan penelitian tindakan kelas sebagai langkah introspeksi diri sebagai tenaga profesional.
    Sebaiknya penelitian tindakan kelas dilakukan oleh semua guru, baik guru SD, SMP, maupun SMA, sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja sebagai guru. Guru harus dapat menilai dirinya sendiri sebelum melakukan penilaian kepada siswanya. Guru harus mengetahui kelemahan dan kekurangannya dalam pembelajarannya, berusaha untuk mengatasinya dan menemukan solusi yang terbaik serta mengantisipasi apabila dalam pembelajaran mengalami kendala dan masalah.

    DAFTAR PUSTAKA
    Arifin, Zainal. (1994). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung.
    Gagne, R.M (1985). The Conditions of Learning Theory of instruction (4 th Edition). New York : Holt, Rinehart and Winston.
    Hasibuan, J.J, Mudjiono (1988), Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Karya. Bandung.
    Hendro Darmodjo, Kaligis, J R E. (1991/1992). Pendidikan IPA II, Hal 7-11 Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan
    Hernawaty Damanik. (2004). Penerapan Model Pembelajaran Social Science Inquiry Dalam Mata Pelajaran Sosiologi Dengan Kerja Kelompok. FKIP- Universitas Terbuka.
    Irwanto, dkk (1991). Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
    Kemmis, S. dan MC. Toggart.R. (Ed.1988). The Action Resesarch Planner. Deakin. Deakin University: Australia
    Lemlit-UT, (2003). Jurnal Pendidikan Volume 4, nomor 2. Pusat Studi Lembaga Penelitian Universitas Terbuka.
    Mulyasa, E (2005). Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Remaja Rosdakarya. Bandung.
    Poedjiadi, A. (1990). Pendidikan Sains dan Teknologi di Masa yang akan datang. Disampaikan pada Seminar Puskur Balitbang Dikbud, Jakarta.
    Poedjiadi, A. (1993). Mewujudkan literasi Sains dan Teknologi Melalui Pendidikan, hal 4-6. Disampaikan pada seminar FPMIPA IKIP-Bandung.
    Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory and Practice. Masschusetts: Allyn and Bacon Publisher.
    Sobry Sutikno, (2004). Model Pembelajaran Interaksi Sosial, Pembelajaran Efektif dan Retorika. NTP Press. Mataram
    Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory Research and Practice. Second Edition. Boston: Allyn and Bacon.
    Sutarno, N. (2004). Materi Dan Pembelajaran IPA SD. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

    Posted in Pendidikan | Komentar Dinonaktifkan pada MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF

    IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

    Posted by alqossam86 pada 14 Mei 2009

    IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF THING-PAIR- SHARE(TPS) PADA POKOK BAHASAN ZAT DAN WUJUDNYA DI SMP N 1 KALASAN
    Oleh :
    Editor: Wiwid Kurniandi
    (Sumber: http://lpmpjogja.diknas.go.id// 4 November 2008.)

    Abstrak:
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh upaya peningkatan kualitas pembelajaran melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS) dalam pembelajaran IPA Fisika terhadap kualitas interaksi siswa di kelas dan hasil belajar siswa. Untuk keperluan tersebut maka model penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas(PTK). Subjek penelitian adalah kelas VII F di SMP Negeri I Kalasan ,yang terdiri dari 38 siswa. Adapun data penelitian diperoleh dengan menggunakan lembar observasi dan tes tertulis. Data tersebut akan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa implementasi model
    pembelajaran kooperatif tipe Thin-Pair-Share(TPS) dalam pembelajaran IPA Fisika mampu meningkatkan kualitas interaksi siswa dalam kelas dan meningkatkan hasil belajar siswa.
    Kata Kunci : Model pembelajaran kooperatif tipe TPS

    A. PENDAHULUAN
    Latar Belakang Masalah :
    Berdasarkan pengalaman di lapangan, kualitas interaksi kelas masih relatif kurang optimal, distribusi kemampuan pada siswa kurang merata, yaitu cenderung memusat pada kelompok atas, siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Dari hasil refleksi dan kajian yang dilakukan, maka untuk memperbaiki struktur interaksi kelas yg demikian ,model pembelajaran yang perlu diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS).Rumusan MasalahBerdasarkan uraian di atas maka dapat dikemukakan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah hasil belajar IPA Fisika dan kualitas interaksi siswa kelas VII F melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipeThing-Pair-Share(TPS)?

    Tujuan Penelitian:
    Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sedangakan secara khusus adalah untuk mendapatkan informasi hasil belajar IPA Fisika, siswa kelas VII F melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipeThing-Pair-Share(TPS).Manfaat Manfaat bagi siswa: meningkatkan motivasi belajar, berbagi pengetahuan, dan meningkatkan hasil belajar.Manfaat bagi guru : meningkatkan motivasi dan kinerja khususnya layanan pendidikan(pembelajaran), masukan dalam upaya pemecahan masalah pembelajaran secara kreatif dan inovatif.

    B. METODE PENELITIAN
    Setting Penelitian:
    Penelitian dilakukan di SMP N 1 Kalasan, Sleman, Yogyakarta tahun Pelajaran 2005/2006, dengan subjek penelitian siswa kela VII F yang berjumlah 38 siswa.Adapun prosedur penelitian dilakukan dengan penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan dan penilian. Secara umum pada langkah awal implementasi pembelajaran guru menjelaskan tujuan pembelajaran, penjelasan singkat materi bahasan dan pertanyaan perangsang motivasi. Langkah selanjutnya untuk menemukan jawaban, siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan beberapa kegiatan eksperimen dengan panduan Lembar Kerja Siswa (LKS). Pembagian kelompok memperhatikan hetrogenitas. Setelah kegiatan eksperimen siswa secara berpasangan berbagi pengalaman-pengetahuan untuk menjawab pertanyaan dalam LKS. Berikut mekanisme pembentukan kelompok dan pasangannya.KELOMPOK EKSPERIMEN Kel. 1Siswa:ABCD Kel. 2Siswa:ABCD Kel. 3Siswa:ABCD Kel. 4 Siswa:ABCD Kel. 1Siswa:ABCD Kel. 2Siswa:ABCD Kel. 3Siswa:ABCD Kel. 4Siswa:ABCD PASANGAN
    Setelah proses dalam kelompok dan pasangan selesai, guru meminta jawaban dari masing-masing pasangan dan meminta tanggapan dari pasangan lain. Apabila jawaban telah mengerucut/mendekati kebenaran konsep guru memberi penghargaan dan memvalidasinya serta memberikan penekanan yang diperlukan. Namun apabila belum tepat maka guru memberikan penjelasan dan penekanan jawaban seperlunya. Pada akhir pembelajaran guru memberi perntanyaan kuis untuk mengevaluasi ketercapaian kompetensi dan pengayaan pengetahuan siswa. Setelah pembelajaran selesai, guru bersama kolaborator dan siswa yang dipilih secara acak melakukan refleksi terhadapad proses pembelajaran yang telah berlangsung dan membuat rencana tindakan pada siklus berikutnya.

    Prosedur Penelitian Perencanaan :
    Menyusun sintaks pembelajaran dan perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP), Lembar Kerja Siswa(LKS), pembagian kelompok eksperimen dan kelompok pasangannya, serta alat laboratorium dan media pembelajran yang diperlukan. Pelaksanaan : melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai sintaks pembelajaran dan RPP yang telah disusun. Selama kegiatan pembelajaran dengan dilakukan pengamatan dan mencatat kejadian-kejadian yang dianggap penting, sebagai bahan masukan dan pedoman dalam melakukan refleksi.
    Penilaian: melakukan refleksi berdasarkan catatan yang diperoleh dari instrumen observasi kelas dan observasi guru serta pendapat siswa untuk memperbaiki rancangan pembelajaran dan menyususn rencana tindakan pada siklus berikutnya. Instrumen, Analisis Data dan RefleksiData dalam penelitian ini terdiri atas (1) skor hasil belajar siswa,(2)skor interaksi siswa dalam kelas,(3) skor kegiatan guru dalam pembelajaran,dan (4)skor tanggapan siswa teradap proses pembelajaran. Untuk mendapatkan data tersebut digunakan instrumen berupa (1) tes ulangan arian,(2)Lebar observasi Kelas,(3)Lembar Observasi Guru, dan (4) angket siswa.Adapun data penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif kualitatif, dengan ketentuan: (1) hasil belajar siswa didasarkan pada batas ketuntasan individual 65%, dan ketuntasan
    klasikal 85%, (2) Data ineteraksi kelas dianalisis secara kualitatif dengan 5 katergori yang telah ditetapkan secara statistik:baik sekali-baik-cukup-kurang-kurang sekali,(3) data aktivitas guru dianalisis secara kualitatif, dilihat sejauhmana telah sesuai prosesdur yang telah ditetapkan, (4)data hasil angket siswa dianalisis secara deskriptif dengan lima kategori seperti pada data interaksi kelas.

    C. HASIL DAN PEMBAHASAN
    Berdasarkan data yang telah diperoleh, berikut ini gambaran secara sederhana alur rencana dan tindakan pada masing-masing siklus.

    Siklus I
    Kondisi :
    Siswa termotivasi oleh pertanyaan gurumeski sudah ditentukan anggota kelompoknya, siswa cenderung memilih teman sejenis, teman yg pandai untuk menjadi anggota kelompok.siswa yang kurang pandai cenderung ditolak.siswa masih gaduh, kuarng kompak, sehingga banyak menyita waktu.jika dipasangkan dengan teman yang berlainan jenis, siswa cenderung menolak, dan tidak akrab.sebagian kelompok tidak dapat menyelesaikan percobaan dan menjawab pertanyaan LKS sesuai waktu yang telah ditentukan.Rencana Tindakan hasil refleksi : menyiapkan media yang diperlukan. Menyiapkan alat laboratorium sesuai dengan kbutuhan.menyusun kembali susunan anggota kelompok eksperimen dan kelompok
    pasangan.menata susunan meja belajar agar lebih interaktif.

    Siklus II
    Kondisi :
    Kegaduhan berkurangbebrapa siswa masih gaduh, belum enjoy dengan kelompok dan pasangannya.sebagian siswa sudah mulai aktif dan menyesuaikan diri dalam kelompoknya.keaktifan siswa belum merata, cenderung hanya siswa yang terbiasa aktif dan pandai yang aktif dalam kelompok.siswa masih cenderung malu, enggan untuk bertanya maupun menjelaskan baik terhadap pasangannya maupun dengan kelompok lain.siswa pandai masih cenderung masih menyimpan pngetahuannya(egois) dan siswa kurang pandai tidak percaya diri untuk bertanya maupun menjelaskan pengetahuannya.

    Rencana Tindakan hasil refleksi :
    1. guru menjelaskan manfaat bekerja kelompok pada siswa di awal kegiatan.
    2. guru menjelaskan aturan main lebih rinci pada saat kerja kelompok maupun saat berbagi dengan pasangannya.
    3. memberi penghargaan pada kelompok atau pasangan yang mampu menyelesaiakan tugasnya dengan baik dan benar sesuai waktu.
    4. siswa bertanggung jawab atas penguasaan materi yang diimbasakan pada pasangannya.
    5. siswa mengajukan pertanyaan kepada sesama anggota kelompok sebelum bertanya pada guru.

    Siklus III
    Kondisi:
    kelas cukup interaktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan antar kelompok.kegaduhan tidak tampak.siswa belajar bertanggung jawab terhadap materi yang diimbaskan pada pasangannya.siswa bertanggung jawab pada kelompoknya jika ada pertanyaan dari kelompok lain.sebagian besar siswa tampak lebih enjoy dalam pembelajaran.ada beberapa siswa (7,89%) kurang senang dengan model pembelajaran
    karena ingin belajar lebih cepat dan mandiri.

    Hasil refleksi :
    Guru senang dan puas dengan proses pembelajaran.Guru bangga atas keaktifan siswa, karena selama ini siswa cenderung pasif dalam kelompok.siswa merasa senang dan enjoy dalam pembelajaran.siswa mau berbagi pengetahuan dengan temannya/tidak egois.pengelolaan waktu belum efisien, sehingga kedepan pengelolaan waktu agar lebih disiplin.hasil belajar meningkat, dengan rata-rata ketuntasan diatas batas ketuntasan minimal.distribusi kemampuan semakin merata. D. Simpulan dan

    D. KESIMPULAN SARAN SARAN
    Kesimpulan :
    Implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS) pada materi pokok bahasan Zat dan Wujudnya pada siswa kelas VII F dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas interaksi siswa di kelas.
    Saran :
    (1) Guru perlu meneliti, mengembangkan dan menerapkan model TPS pada pokok bahasan dan atau kelas yang berbeda karakteristiknya,
    (2) guru perlu meneliti lebih lanjut dengan memperluas aspek penelitian, agar dapat diperoleh makna yang lebih luas dan mendalam,
    (3) pengelolaan waktu perlu lebih diperhatikan dalam penerapan model TPS agar sesuai prosedur rencana tindakan yang telah ditetapkan.

    E. DAFTAR PUSTAKA
    Bambang Subali,(2002). Pedoman khusus penyusunan silabus berbasis kemampuan dasar siswa SMP. Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY.
    Bloom, B.S.(1976). Human characteristic and school learning. New York : Mc. Grow Hill.Depdiknas.(2004). Materi Pelatihan Terintegrasi. Jakarta: Depdiknas.
    Euwe Van den Berg.(1991). Miskonsepsi fisika dan remidiasi. Salatiga: UKSW. Fernandes, H,J.X.(1984). Testing and Measurement. Jakarta: national Educational Planning.
    Ibrahim, dkk.(2000). Pembelajan Kooperatif. Surabaya: University Press.Imam Barnadib.(1995). Beberapa aspek substansi ilmu pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.
    Moh. Amien.(1987). Mengajarkan ilmu pengetahuan alam (IPA) dengan menggunakan metode discoverydan inquiri.Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.Maslow, A.H.(1971). The farther reaches of human nature. New York: The Viking Press.
    Mitchel, B.W.(1976). Planning for creative learning. Washington : Kendall/Hunt Publishing Company.
    Moh. Sidin Ali(1995). Kreativitas, kemampuan operasi logic dan kemampuan dasar berhitung dengan prestasi belajar fisika pada siswa SMA di kota madya Ujung Pandang.Tesis Yogyakarta.
    Munandar, S.C.U.(1977). Creativity and education : Study relationship between measure of creative thinking and a number of educational variables in Indonesian primary and junior secondary schools. Jakarta : UI
    Rowe, B.M.(1970). Wait-time and reward as instructional variable: Influence on inquiry and sense and fate control. New York : Columbia University.
    Saifudin Azwar.(1976). Tes Pestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
    Slavin, R.E.(1995). Cooperative learning, theory, research, and practice. Second edition. Boston : Allyn and Bacon.
    Sukamto.(1997). Course material on applied educational research. Medan : PPGT.
    Treffinger, D.J.(1992).Encouraging creative learning for gifted and talented. Ventura Clif : Ventura Country Super Intendent of School Office.
    Woolfolk,A.E.(1984). Educational phsycology for teachers. New Jersey: Printice-Hall. Inc.

    Posted in Pendidikan | Komentar Dinonaktifkan pada IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

    newsletter

    Posted by alqossam86 pada 14 Mei 2009

    siri

    Posted in Umum | 1 Comment »