HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM Tarbiyah

Yakin Usaha Sampai

  • Kalender

    Juni 2009
    M S S R K J S
    « Mei   Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Kategori Tulisan

  • CHAT ROOM

  • komentar

    iza di PINTAR VS BODOH ???
    sulis di contoh proposal skripsi
    sistem informasi sek… di PENDIDIKAN ISLAM DALAM SISTEM…
    Stop Dreaming Start… di contoh proposal skripsi
    laila di contoh proposal skripsi
    qossam di PKS Cuma Gertak Sambal
    alqossam di PKS Cuma Gertak Sambal
    suriza di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    dir88gun2 di PKS Cuma Gertak Sambal
    qossam di newsletter
    ressay di MAKALAH LK-II
    dedekusn di PINTAR VS BODOH ???
  • http://princess135.blogspot.com www.islamonline.com
  • contoh proposal skripsi

    Posted by alqossam86 pada 14 Juni 2009


    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Strategi pengajaran adalah sebuah langkah-langkah atau rencana pengajaran yang harus dirancang dan dilaksanakan oleh seorang pendidik dalam proses belajar mengajar. Fungsi strategi itu sendiri merupakan alat untuk tercapainya tujuan pengajaran. Jadi dalam mencapai tujuan pengajaran itu, seorang pendidik harus menggunakan berbagai strategi atau langkah-langkah pembelajaran tersebut. Oleh karena itu seorang pendidik sebagai pelaksana strategi harus dapat memilih strategi pengajaran yang sesuai dan tepat yang digunakan untuk menyajikan dan memberikan sebuah pelajaran agar dapat mempengaruhi sebuah hasil dan memotivasi siswa dalam mengikuti pelajaran selama dalam proses pembelajaran.

    Demikian pula dengan seorang guru agama yang mengajarkan pelajaran Aqidah Akhlak, guru tersebut harus memilih strategi yang sesuai dan tepat agar dapat mempengaruhi siswa dalam mencapai hasil dan memotivasi siswa dalam mempelajari Aqidah Akhlak. Adapun salah satu strategi yang digunakan dalam mengajarkan pelajaran Aqidah Akhlak tersebut yaitu strategi Cooperative Learning. Strategi ini adalah strategi yang melibatkan setiap siswa untuk bekerja sama dalam menguasai sebuah pengetahuan atau pelajaran. Strategi ini merupakan strategi yang dapat memotivasi siswa dan menarik perhatian siswa dalam memahami, mengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap pembelajaran. Oleh karena itu, strategi pembelajarna cooperative learning tepat dipakai dalam meningkatkan pemahaman siswa dan mengembangkan wawasan siswa dalam mempelajari Aqidah Akhlak.

    Akan tetapi dalam memberikan pengajaran khususnya Aqidah Akhlak, MAL IAIN-SU Medan belum pernah menggunakan strategi pembelajaran cooperative learning. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar perlu menggunakan strategi tersebut agar guru dapat mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami dan meningkatkan pengetahuan serta memotivasi siswa terhadap materi yang diajarkan. Hal inilah yang menarik bagi penulis untuk mengangkat permasalahan tersebut dan melihat melalui sebuah penelitian yang tertuang dalam sebuah skripsi yang berjudul “Strategi Pembelajaran Cooperative Learning dan Kaitannya Dengan Motivasi Belajar Aqidah Akhlak Pada Siswa MAL IAIN-SU Medan”.


    B. Identifikasi Masalah

    Adapun identifikasi masalahnya yaitu:

    1. Strategi belajar mengajar yang digunakan guru kurang melibatkan siswa secara mental agar siswa lebih aktif.
    2. Kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar.
    3. Kurangnya pemahaman guru dalam memilih strategi yang sesuai dan tepat dengan mata pelajaran.
    4. Kurangnya pemahaman guru tentang strategi pembelajaran cooperative learning.
    5. Kurangnya pemahaman guru tentang bagaimana kaitan strategi cooperative learning terhadap motivasi belajar siswa.

    C. Pembatasan Masalah

    Penelitian ini dibatasi pada dua faktor yaitu belajar dan motivasi belajar yang diambil dari hasil tes pada siswa MAL IAIN-SU Medan.

    D. Rumusan Masalah

    Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

    1. Bagaimana motivasi belajar Aqidah Akhlak melalui strategi pembelajaran cooperative learning pada siswa MAL IAIN-SU Medan ?
    2. Bagaimana motivasi belajar Aqidah Akhlak melalui strategi pembelajaran konvensional dengan metode ceramah pada siswa MAL IAIN-SU Medan ?
    3. Apakah terhadap perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar Aqidah Akhlak siswa melalui strategi pembelajaran cooperative learning dengan motivasi belajar melalui strategi pembelajaran konvensional dengan metode ceramah pada siswa MAL IAIN-SU Medan ?

    E. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:

    1. Untuk mengetahui motivasi belajar Aqidah Akhlak melalui strategi pembelajaran cooperative learning pada siswa MAL IAIN-SU Medan.
    2. Untuk mengetahuai motivasi belajar Aqidah Akhlak melalui strategi pembelajaran konvensional dengan metode ceramah pada siswa MAL IAIN-SU Medan.
    3. Untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar Aqidah Akhlak melalui strategi pembelajaran cooperative learning dengan motivasi belajar melalui strategi konvensional dengan metode ceramah pada siswa MAL IAIN-SU Medan.

    F. Manfaat Penelitian

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara praktis dan teoritis. Adapun manafat secara praktis untuk:

    1. Guru, yaitu sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan mutu proses belajar mengajar dengan menggunakan strategi pembelajaran yang lebih relevan terhadap prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa.
    2. Bagi peserta didik agar mampu meningkatkan belajar Aqidah Akhlak melalui strategi cooperative learning.

    Secara teoritis penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:

    1. Menambah wawasan keilmuan bagi penulis dalam mengembangkan strategi pembelajaran Aqidah Akhlak.
    2. Memberikan sumbangan pemikiran bagi lembaga pemikiran dalam upaya meningkatkan motivasi kerja anak didik sesuai dengan tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak.
    3. Sebagai bahan studi dan refrensi bagi penelitian selanjutnya.


    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Kerangka Teori

    a. Pengertian Strategi Pembelajaran

    Hakikat Strategi Pembelajaran

    Strategi adalah pola umum rentenan kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tertetnu. Dikatakan pola umum sebab suatu strategi pada hakekatnya belum mengarah kepada hal-hal yang bersifat praktis. Suatu strategi masih berupa rencana atau gambaran menyeluruh. Sedangkan untuk mencapai tujuan tertentu, memang strategi disusun untuk tujuan tertentu, tidak ada suatu strategi tanpa adanya tujuan yang harus dicapai.[1]

    Strategi pembelajaran adalah pola umum yang berisi tentang rentanan kegiatan yang dapat dijadikan pedoman (petunjuk umum) agar kompetensi sebagai tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Demikian halnya dalam proses pembelajaran, untuk mencapai tujuan pembelajaran perlu disusun strategi agar suatu tujuan tercapai dengan optimal. Tanpa suatu strategi yang tepat, cocok dan jitu, tidak mungkin tujuan dapat tercapai. Pola atau cara ditetapkan sebagai hasil dari kegiatan strategi itu dalam proses pembelajaran dinamakan dengan metode pembelajaran.

    6

    Secara garis besar ada empat strategi dalam mengajar yang meliputi:

    1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
    2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
    3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menjalankan kegiatan mengajarnya.
    4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria atau standard keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan siste instruksional yang berhubungan secara keseluruhan.

    Strategi pembelajaran atau strategi instruksional diartikan setiap kegiatan, baik prosedur, langkah, maupun metode dan tehnik yang dipilih agar dapat memberikan kemudahan fasilitas dan bantuan lain kepada siswa dalam mencapai tujuan-tujuan instruksional.[2]

    b. Komponen Strategi Pembelajaran

    Faktof-faktor dalam mengajar adalah bahan pelajaran, guru dan murid. Agar pelajaran efektif, bahan pelajaran harus dipilih berdasarkan tujuan yang diuraikan sampai bersifat signifikan dapat diukur keberhasilan proses belajar mengajar. Selain itu juga memegang peranan penting dalam kegiatan belajar. Guru menetapkan apakah proses belajar itu berpusat pada guru dengan terutama menggunakan metode memberitahukan ataukah berpusat pada murid dengan mengutamakan metode pengembangan wawasan. Seorang guru harus bisa menguraikan bahan pelajaran dalam urutan tertentu, sehingga pelajaran dapat dilakukan secara sistematis dan langkah demi langkah sampai tujuan pembelajaran tercapai.

    Sedangkan murid berperan penting dalam proses belajar mengajar. Karena kecepatan dan kelambatan belajar tergantung pada kemampuan murid secara individual. Apabila murid itu mempunyai kemampuan yang lebih baik maka murid akan cepat menangkap pelajaran dari guru walau dengan metode apapun. Sedangkan murid yang mempunyai kelemahan dalam belajar maka murid tersebut akan lambat dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Jadi, dalam pembelajaran perlu diperhatikan perbedaan individual antara murid-murid tersebut. Pada dasarnya tujuan instruksional adalah kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah mereka menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan yang dimaksud mencakup aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan sika (psikomotorik), penguasana kemampuan tersebut tidak lain adalah hasil belajar yang diinginkan. Dalam strategi ada empat komponen pokok, yaitu: kegiatan pendahuluan, kegiatan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar, kegiatan penilaian dan kegiatan tindak lanjut.[3]

    Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran

    Sebagian pakar percaya bahwa sebuah mata pelajaran benar-benar dikuasai ketika seorang pengajar mampu mengajarkan kepada orang lain. Pengajaran sesama siswa memberi siswa kesempatan untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan sekaligus menjadi narasumber bagi siswa satu sama lain. Beberapa jenis strategi berikut yang merupakan strategi praktis untuk mengadakan pengajaran sesama siswa di kelas. Strategi-strategi ini juga memungkinkan guru untuk memberi tambahan, bila penting diterapkan pada pengajaran yang dilakukan oleh siswa.[4]

    a. Synergetic Teaching (Pengajaran Sinergis)

    Strategi ini adalah strategi yang menghubungkan dua cara elajar yang berbeda. Strategi ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berbagai hasil belajar dari materi yang sama dengan cara yang berbeda dengan membandingkan catatan mereka.

    Langkah-langkah:

    1. Bagi kelas menjadi dua kelompok.
    2. Pindahkan kelompok pertama ke kelas lain, atau tempat lain yang tidak memungkinkan mereka mendengarkan kuliah anda untuk membaca bacaan dari topik yang akan anda ajarkan. Pastikan bahwa bacaan dapat dipahami dengan baik dan sesuai dengan waktu yang anda gunakan untuk pembelajaran.
    3. Dalam waktu yang sama, sampaikan materi tersebut kepada kelompok kedua dengan strategi ceramah.
    4. Setelah selesai, mintalah siswa untuk berpasangan dengan kawan yang tadi menerima pelajaran dengan cara yang berbeda. Anggota kelompok satu akan mencari kawan dari anggota kelompok dua.
    5. keduanya diminta untuk menggabungkan hasil belajar yang mereka perleh dengan cara yang berbeda tersebut.
    6. Mintalah beberapa orang untuk menyampaikan hasil belajar mereka atau menjawab pertanyaan yang anda sampaikan.
    7. Beri penjelasan untuk setiap jawaban siswa yang belum jelas.

    b. Point-Conter Point

    Strategi ini sangat baik dipakai untuk melibatkan siswa dalam mendiskusikan issu-issu kompleks secara mendalam. Strategi ini mirip dengan debat, hanya saja dikemas dalam suasana yang tidak terlalu formal.

    Langkah-langkah:

    1. Pilih issu-issu yang mempunyai beberapa perspektif.
    2. Bagilah siswa kedalam kelompok-kelompok sesuai dengan jumlah perspektif yang telah anda tentukan.
    3. Minta masing-masing kelompok untuk menyiapkan argumen-argumen sesuai dengan pandangan kelompok yang diwakili. Dalam aktifitas ini pisahlah tempat duduk masing-masing kelompok.
    4. Kumpulkan kembali semua siswa dengan catatan, siswa duduk berdekatan dengan teman-teman satu kelompok.
    5. Mulai debat dengan mempersilahkan kelompok mana saja yang akan memulai.
    6. Setelah salah seorang siswa menyapaikan satu argumen sesuai dengan pandangan kelompoknya, mintalah tanggapan, bantahlah atau koreksi dari kelompok yang lain perihal issu yang sama.
    7. Lanjutkan proses ini sampai waktu memungkinkan.
    8. Rangkum debat yang baru saja dilaksanakan dengan menggaris bawahi atau mungkin mencari titik temu dari argumen-argumen yang muncul.

    c. Information Search (Mencari Informasi)

    Strategi ini sama dengan ujian open book. Secara berkelompok siswa mencari informasi (biasaya tercakup dalam pembelajaran) yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada mereka. Strategi ini sangat membantu pembelajaran untuk lebih menghidupkan materi yang dianggap kurang baik.

    Langkah-langkah:

    1. Buatlah beberapa pertanyaan yang dapat dijawab dengan mencari informasi yang dapat ditemukan dalam bahan-bahan atau sumber informasi yang bisa didapatkan oleh siswa. Bahan-bahan sumber ini bisa dalam bentuk.

    –         Hand out

    –         Dokumen

    –         Buku teks

    –         Informasi dari internet.

    –         Perangkat keras (mesin, komputer dan alat-alat lain).

    1. Bagikan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada siswa.
    2. Minta siswa untuk menjawab pertanyaan dengan cara individual atau kelompok kecil. Kompetisi antar kelompok dapat diciptakan untuk meningkatkan partisipasi.
    3. Beri komentar atas jawaban yang diberikan siswa. Kembangkan jawaban untuk memperluas skope pembelajaran.

    d. Card Short (Sortir Kartu)

    Strategi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang objek atau mereview ilmu yang telah diberikan sebelumnya. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamisir kelas yang kelelahan.

    Langkah-langkah:

    1. Setiap siswa diberi potongan kertas yang berisi informasi atau contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori. Berikut beberapa contoh:

    –         Karakteristik Hadits Shohih.

    –         Nouns, Verb, Adverb dan preposition.

    –         Ajaran mu’tazilah

    –         Dan lain-lain.

    1. Mintalah siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dan kategori yang sama (anda dapat mengumumkan kategori sebelumnya atau membiarkan siswa menemukan sendiri).
    2. Siswa dengan kategori yang sama diminta mempersentasekan kategori masing-masing di depan kelas.
    3. Seiring dengan persentase dari tiap-tiap kategori tersebut, berikan poin-poin penting yang terkait dengan materi pembelajaran.

    e. The Power of Two (Kekuatan Dua Kepala)

    Aktivitas pembelajaran ini digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperative dan memperkuat arti penting serta manfaat sinergi dua orang. Strategi ini mempunyai prinsip bahwa berfikir berdua jauh lebih baik dari pada berfikir sendiri.

    Langkah-langkah:

    1. Ajukan satu atau lebih pertanyaan yang menuntut perenungan dan pemikiran. Beberapa contoh diantaranya:

    –         Mengapa terjadi perbedaan paham dan aliran dikalangan umat Islam.

    –         Mengapa peristiwa dan kejadian buruk menimpa orang-orang baik.

    –         Apa arti kusyu’ yang sebenarnya?

    1. Siswa diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara individual.
    2. Setelah siswa menjawab dengan lengkap semua pertanyaan, mintalah mereka untuk berpasangan dan saling bertukar jawaban satu sama lain serta membahasnya.
    3. Mintalah pasangan-pasangan tersebut membuat jawaban yang baru untuk setiap pertanyaan, sekaligus memperbaiki jawaban individual mereka.
    4. ketika semua pasangan sudah menulis jawaban-jawaban baru, bandingkan jawaban setiap pasangan di dalam kelas.

    f. Jigsaw Learning (Belajar Model Jigsaw)

    Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adakalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan pada orang lain.

    Langkah-langkah:

    1. Pilihlah materi pelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian.
    2. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Jika jumlah adalah 50 sementara jumlah bagian yang ada 5, maka masing-masing terdiri dari 10 orang. Jika jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi 2, sehingga setiap kelompok terdiri 5 orang, kemudian setelah proses selesai digabungkan kelompok pecahan tersebut.
    3. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi pelajaran yang berbeda-beda.
    4. Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajaran di kelompok.
    5. Kembalikan semua kelas seperti semula, kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
    6. Sampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.

    g. Every one is a Teacher Here (Setiap orang adalah Guru).

    Strategi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. Strategi ini memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya. Dengan strategi ini siswa yang selama ini tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif.

    Langkah-langkah:

    1. Bagikan selembar kertas atau menyuruh siswa menyiapkan selembar kertas. Setiap siswa diminta untuk menuliskan satu pertanyaan tentang materi pembelajaran yang sedang dipelajari dikelas atau sebuah topik khusus yang akan didiskusikan didalam kelas.
    2. Kumpulkan kertas, acak kertas tersebut kemudian bagikan kepada setiap siswa. Pastikan bahwa tidak ada siswa yang menerima soal yang ditulis sendiri. Meminta mereka untuk membaca dalam hati pertanyaan dalam kertas tersebut, kemudian meminta mereka untuk memikirkan jawabannya.
    3. Minta siswa secara sukarela untuk membacakan pertanyaan tersebut dan menjawabnya.
    4. Setelah jawaban diberikan, menyuruh siswa lainnya untuk menambahkan jawabannya.
    5. Lanjutkan dengan siswa yang bersedia berikutnya.

    h. Index Card Match (Mencari Pasangan)

    Strategi ini adalah strategi yang cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi barupun tetap bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan, siswa diberi tugas mempelajari materi yang akan diajarkan terlalu dahulu sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan.

    Langkah-langkah:

    1. Buatlah potongan-potongan kertas sebanyak jumlah siswa yang ada di dalam kelas.
    2. Bagi kertas-kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama.
    3. Pada separuh bagian tulis pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan. Setiap kertas berisi satu pertanyaan.
    4. Pada separuh kertas yang lain, tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tadi dibuat.
    5. Kocoklah semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban.
    6. Setiap siswa diberi satu kertas. Jelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Separuh siswa akan mendapat soal dan separuh yagn lain akan mendapatkan jawaban.
    7. Minta siswa untuk menemukan pasangan, minta mereka untuk duduk berdekatan. Terangkan juga agar mereka tidak memberi tahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain.
    8. Setelah semua siswa menemukan pasangan dan duduk berdekatan, minta setiap pasangan untuk membacakan soal yang diperoleh dengan keras kepada teman-teman yang lain. Selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangannya.
    9. Akhiri proses ini dengan mebuat klarifikasi dan kesimpulan.

    i. Cooperative Learning (Bekerja Sama)

    Strategi ini merupakan stratgi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan di dalam melaksanakan proses pembelajaran. Strategi ini dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, belajar berfikir, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan serta dapat meningkatkan harga diri.[5] Dengan strategi ini siswa yang selama ini terlibat vakum atau tidak mau terlibat akan termotivasi dalam pembelajaran secara aktif.

    Langkah-langkah:

    1. Bagi siswa dalam kelompok yang terdiri dari 3-5 siswa atau 4-6 siswa per kelompok..
    2. Susunan kelompok pelajar bersifat heterogen dalam tingkat kemampuan, jenis kelamin dan etnis.
    3. Setiap kelompok diberikan materi yang akan dibahas.
    4. Setiap individu dalam kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap tim/kelompok.
    5. Setiap anggota kelompok harus dapat menjelaskan apa yang mereka lakukan dan apa yang telah mereka temukan.
    6. Bagi kelompok yang telah berhasil maka mereka harus membantu teman sekelasnya yang kurang memahami pelajaran.

    Roger dan David Johnson (Lie, 2004) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap “Cooperative Learning” untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan antara lain: saling ketergantungan positif, tangung jawab perseorangan, tatap muka. Komunikasi antara anggota dan evaluasi proses kelompok. Ada 6 langkah atau tahapan pembelajaran kooperatif, dirangkum pada tabel sebagai berikut:

    Tabel I

    Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif

    Fase-Fase

    Tingkah Laku Guru

    Fase I

    Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa

    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
    Fase II

    Menyajikan informasi

    Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
    Fase III

    Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar

    Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
    Fase IV

    Membimbing kelompok bekerja dan belajar

    Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
    Fase V

    Evaluasi

    Guru mengevaluasi  hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempersentasekan hasil kerjanya.
    Fase 6

    Memberikan penghargaan

    Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

    Lie (2004) lebih lanjut menjelaskan teknik-teknik pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

    Mencari Pasangan

    Teknik ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1974) dimana keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenal suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini dapat digunakan pada semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia siswa.

    Pelaksanaan pembelajarannya adalah:

    –         Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisikan beberapa konsep atau topik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan menjelang tes atau ujian).

    –         Setiap siswa mendapat sebuah kartu

    –         Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan katunya.

    –         Siswa bisa juga bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang memegang kartu yang cocok.

    Berpikir-Berpasangan-Berempat

    Teknik ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan Spencer Lagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Teknik ini dapat digunakan pada semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia siswa.

    Pelaksanaan pembelajarannya adalah:

    –         Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.

    –         Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.

    –         Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi kedua pasangannya.

    –         Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompokkan berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

    Kepala Bernomor

    Teknik ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Teknik ini dapat digunakan pada semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia siswa.

    Pelaksanaan pembelajarannya adalah:

    –         Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.

    –         Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.

    –         Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahuai jawaban ini.

    –         Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.

    Dua Tinggal Dua Tamu

    Teknik ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. Teknik ini dapat digunakan pada semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia siswa.

    Pelaksanaan pembelajarannya adalah:

    –         Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat.

    –         Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompok dan bertamu ke kelompok lainnya.

    –         Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka kepada tamu mereka.

    –         Selanjutnya tamu mohon diri dan kembali kepada kelompoknya dan melaporkan temuannya kepada anggota kelompoknya.

    –         Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

    Metode Ceramah

    Metode ceramah adalah tehnik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim dipakai oleh para guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian pesan secara lisan oleh guru di muka kelas, peran murid sebagai penerima pesan, mendengarkan, memperhatikan dan mencatat keterangan-keterangan guru apabila diperlukan.[6]

    Metode ceramah adalah pembelajaran yang biasa dilakukan guru dikelas, di mana guru mendominasi dan aktif memberikan materi pelajaran sementara siswa pasif hanya menerima saja tanpa ikut terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Metode ceramah merupakan suatu metode di dalam pendidikan di mana cara menyampaikan pengertian-pengertian materi kepada anak didik dengan jalan penerangan dan penuturan secara lisan. Untuk penjelasan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu mengajar yang lain, misalnaya: gambar-gambar, peta, denah, dan alat peraga lainnya.

    Guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam mengajar tanpa meeninjau kembali apakah metode tersebut telah efektif atau tidak. Metode ceramah merupakan metode yang dominan digunakan dalam metode konvesional dan masih tetap digunakan dalam strategi pembelajaran. Ciri penggunaan dalam metode ini adalah pengajaran yang disampaikan secara lisan oleh guru kepada siswa dan memiliki kecenderungan berbentuk komunikasi satu arah. Pelaksanaan ceramah yang wajar teletak dalam pemberian fakta atau pendapat dalam waktu yang singkat kepada jumlah pendengar yang besar dan apabila cara lain tidak mungkin ditempuh, misalnya: karena tidak adanya bahan bacaan dan atau untuk menyimpulkan dan memperkenalkan sesuatu yang baru. Metode ceramah dapat digunakan:

    1. Apabila akan menyampaikan bahan atau materi kepada orang banyak.
    2. Apabila penceramahnya orang pembicara yang baik dan berwibawa.
    3. Apabila tidak ada waktu untuk berdiskusi dan bahan pelajaran yang akan disampaikan terlalu banyak.
    4. Apabila bahan atau materi yang akan disampaikan hanya merupakan keterangan atau penjelasan.

    Adapun segi kebaikan metode penceramahan yaitu:

    1. Dalam waktu relatif singkat dapat disampaikan bahan sebanyak-banyaknya.
    2. Organisasi kelas lebih sederhana, tidak perlu mengadakan pengelompokan murid-murid seperti pada metode yang lain.
    3. Guru dapat menguasai seluruh kelas dengan mudah, walaupun jumlah murid cukup besar.
    4. Apabila penceramahan berhasil baik, dapat menimbulkan semangat, kreasi yang konstruktif, yang merangsang murid-murid untuk melaksanakan suatu tugas pekerjaan.
    5. Metode ini lebih fleksibel dalam arti bahwa jika waktu terbatas atau sedikit bahan dapat dipersingkat, diambil yang penting-penting saja dan sebaliknya apabila waktunya memungkinkan (banyak) dapat disampaikan bahan yang banyak dan mendalam.

    Kekurangan metode ceramah yaitu:

    1. Guru sukar untuk mengetahui pemahaman anak terhadap bahan-bahan yang diberikan.
    2. Kadang-kadang guru sangat mengejar disampaikan bahan yang sebanyak-banyaknya,s ehingga hanya menjadi bersifat pemompaan.
    3. Pendengar cenderung menjadi pasif ada kemungkinan malahan kurang tepat dalam mengambil kesimpulan, sebab guru menyampaikan bahan-bahan tersebut dengan lisan.
    4. Apabila penceramahan tidak memperhatikan segi-segi psikologis dan didaktis dari anak didik, ceramah dapat bersifat melantur-lantur dan membosankan, sebaliknya guru dapat terlalu berlebihan-lebihan berusaha membangkitkan minat atau perhatian dengan jalan humor sehingga inti dan isi ceramah menjadi kabur.

    Pengertian Motivasi Belajar

    Motivasi belajar terdiri dari dua kata, yaitu motivasi dan belajar. Sebelum mengacu pada pengertian motivasi, terlebih dahulu kita menelaah pengidentifikasian kata motif dan kata kata motivasi. Motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktitivitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu.[7] Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.

    Berkaitan dengan pengertian motivasi, beberapa psikolog menyebut motivasi sebagai konstruk hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan keinginan, arah, intensitas, dan keajegang perilaku yang diarahkan oleh tujuan. Dalam motivasi tercakup konsep-konsep, seperti kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan berafiliasi, kebiasaan, dan keingintahuan seseorang terhadap sesuatu.[8]

    Kemudian belajar menurut Muhammad Ali dalam kamus lengkap bahasa Indonesia modern mengatakan bahwa belajar adalah berusaha, berlatih dan mendapat pengetahuan. Belajar adalah proses pertumbuhan prilaku yang dapat dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian tentang pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan. Menurut James O.Whittaker, belajar dapat didefenisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau di ubah melalui latihan atau pengalaman.[9]

    Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling berkaitan. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dan praktik atau penguatan (renforeced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:[10]

    1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil.
    2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.
    3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan.
    4. Adanya penghargaan dalam belajar.
    5. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar
    6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif.

    Dari uraian di atas, tampak bahwa motivasi merupakan proses pengerahan dan pengutan belajar untuk diaktulisasikan dalam perbuatan nyata. Dalam kaitannya dengan belajar, maka motivasi tidak dapat terpisah, sehingga pada gilirannya konsep motivasi telah mencakup belajar dan penguatannya. Motivasi diperleh dari hasil kegiatan atau usaha yang dilakukan dengan jalan belajar. Dari hasil belajar yang diperleh, diharapkan adanya suatu perubahan pada diri dan mampu mengaplikasikan pada orang lain atau kepada masyarakat.

    Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah

    Kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, siswa dapat mengembangkan aktifitas dan insiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.

    Dalam kaitan itu perlu diketahui bahwa cara dan jrus menumbuhkan motivasi adalah bermacam-macam. Hal ini guru harus berhati-hati dalam menimbulkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik sebab mungkin memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan perkembangan belajar siswa.

    Ada  beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar disekolah:[11]

    1. Memberi angka.
    2. Hadiah
    3. Saingan/Kompetisi
    4. Ego-Involvement
    5. Memberi Ulangan
    6. Mengetahui hasil
    7. Pujian.
    8. Hukuman.
    9. Hasrat untuk belajar.
    10. Minat
    11. Tujuan yang diakui.

    Mengingat belajar adalah proses membangun pemahaman oleh siswa, maka mereka perlu diberi waktu yang memadai untuk melakukan proses itu, artinya berikan waktu yang cukup untuk berfikir ketika siswa menghadapi masalah memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar artinya memberi kesempatan untuk membangun sendiri gagasannya. Hanya yang penting bagi guru adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna, karena adanya motivasi siswa itu rajin belajar dan guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajar itu bisa diarahkan menjadi kegiatan belajar yang optimal sehingga hasilnyapun akan bermakna bagi kehidupan dan masa depan siswa.

    Penggunaan Strategi Pembelajaran Cooperative Learning dan Kaitannya Dengan Motivasi Belajar.

    Dalam proses belajar mengajar, guru memegang peranan yang sangat penting, ditangan para gurulah terletak keberhasilan belajar mengajar. Sejalan dengan pendapat Abin Syamsuddin bahwa guru menempatkan kedudukan sebagai figur sentra. Ditangan para gurulah terletak kemungkinan berhasil tidaknya tujuan pendidikan disekolah, serta ditangan mereka pulalah bergantungnya masa depan karier yagn menjadi tumpuan harapan para orang tuanya.[12]

    Demikian pendapat diatas dapat dipahami bahwa guru harus profesional dan memiliki kompetensi tersendiri untuk berperan aktif dalam menyampaikan informasi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan pada siswa, karena guru merupakan faktor pendukung didalam tercapainya suatu keberhasilan. Jika guru tidak memiliki kemampuan serta tidak profesional dalam mengajar, maka belajar mengajar tidak akan berjalan dengan baik dan prestasi siswa akan rendah dan menurun.

    Demikian pula dalam proses belajar mengajar terdapat adanya suatu strategi pembelajaran yang harus ditentukan oleh seorang guru dalam menyampaikan sebuah ilmu atau materi pelajaran. Seorang guru dapat memilih dan menggunakan suatu strategi. Karena strategi adalah suatu cara, jalan atau langkah-langkah untuk mencapai tujuan yaitu tujuan pembelajaran. Pendidikan Islam mengajarkan bahwa dalam menentukan suatu strategi mengajar harus disesuaikan dan berorientasi kepada tujuan pembelajaran, tingkah laku (pengamalan belajar) serta materi atau isi bahan pelajaran dan dalam menentukan strategi belajar dianjurkan dengan hikmah dan cara yang bijaksana dan sesuai dengan ajaran Islam sebagaiman Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat An-Nahl: 125 sebagai berikut:

    Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[13]

    Pada ayat 125 surat An-nahl dijelaskan bahwa dalam mengajar (menyeru manusia) yaitu dengan cara yang bijaksana sehingga tujuan dalam proses belajar mengajar dapat dicapai. Sebagaimana yang disinyalir oleh hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, yaitu:

    وعن عبدالله بنعمر وبن العاص رض الله عنه: ان النبي صلى الله عليه وسلم قال: بلغو ولو اية، وحدثوا عن بنى اسرائيل ولاجنج ومن كتب على متعهد فليتبوا مقعده من النار (رواه البخارى)

    Artinya: Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash r.a berkata: bahaw Nabi SAW bersabda: sampaikanlah dari ajaranku walaupun hanya satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil dengan tiada terbatas. Dan siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya menentukan tempatnya dalam api nereka. (HR. Bukhari).[14]

    Menjadi jelas bahwa dalam meningkatkan profesional seorang guru dibutuhkan strategi yaitu cara atau langkah dalam mengajar yang akan dan harus ditetapkan dan diterapkan serta dapat memilih materi atau isi bahan pelajaran yang akan disajikan dan disampaikan kepada siswa, sehingga tujuan pendidikan akan tercapai.

    Oleh karena itu, dalam mengajarkan materi pelajaran Aqidah Akhlak seorang guru harus pandai dalam memilih dan menggunakan strategi yang tepat dan sesuai dipakai. Dalam mengajarkan studi mengenai Aqidah Akhlak, strategi yang tepat digunakan yaitu strategi Cooperative Learning. Strategi ini dapat melatih dan mendidik seorang siswa untuk mengembangkan dan menambah wawasan dalam mempelajari sebuah materi pelajaran.

    Setiap siswa harus dapat mempelajari dan menguasai serta mengembangkan pengetahuan tentang materi pelajaran, karena strategi cooperative learning mengharapkan agar setiap siswa menjadi guru yaitu guru bagi temannya didalam kelas, dan setiap siswa harus mempelajari dan menguasai materi pelajaran yaitu pelajaran Aqidah Akhlak.

    Demikian pula dalam mengajarkan materi pelajaran yang diajarkan, seorang guru harus bijaksana dalam menggunakan strategi atau langkah-langkah pembelajaran yang tepat dan sesuai dalam mencapai tujuan pembelajaran dan dalam meningkatkan hasil dan prestasi siswa dalam proses belajar mengajar.

    Oleh karena itu, dalam mengajarkan materi pelajaran Aqidah Akhlak seorang guru harus pandai dalam memilih.

    B. Penelitian Yang Relevan

    Penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan strategi pembelajaran dalam proses belajar mengajar diantaranya penelitian Yusrina (2008) dengan judul Penggunaan Strategi Every one is A Teacher Here dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Sejarah Kebudayaan Islam pada siswa MTS Teladan Medan. Tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui tingkat pencapai prestasi siswa belajar sejarah kebudayaan Islam yang menerapkan strategi pembelajaran every one is a teacher here dengan prestasi belajar melalui strategi pembelajaran konvensional. Instrumen pengumpulan data adalah tes.

    C. Kerangka Pikir

    Pada umumnya belajar Aqidah Akhlak adalah belajar mengeia akhlak (tingkah laku manusia dan keyakinan manusia terhadap Allah yang menciptakannya. Oleh karena itu guru sebagai kunci keberhasilan dalam pendidikan tidak cukup memiliki satu cara strategi belajar  untuk mencapaikan dan mentrasfer ilmu dalam proses belajar mengajar, tetapi seorang guru membutuhkan bermacam strategi untuk meningkatkan kualitas belajar dan prestasi belajar. Selain itu siswa dalam proses belajar mengajar juga tidak mutlak sepenuhnya harus bergantung pada guru yang berperan aktif. Tetapi justru siswa diharapkan untuk lebih aktif dalam mencari menemukan sendiri upaya mengembangkan suatu yang dipelajari.

    Salah satu strategi belajar bagi siswa belajar aktif adalah strategi Cooperative Learning. Sebab dalam pembelajaran ini siswa di dorong untuk lebih aktif dalam mencari dan mengembangkan waawsan suatu materi kemudian menjelaskan dan mengajarkan kepada siswa lain. Dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengetahuan yang lebih luas dengan mencari sumber-sumbernya yang lain. Sesuai dengan karakteristiknya pembelajarn Cooperative Learning bertujuan agar setiap siswa lebih aktif dengan memberikan dan mentransfer pengetahuan kepada siswa lain dengan cara menjelaskan yang dibekali wawasan tentang materi pembelajaran, sehingga akhirnya siswa mampu mengemukakan pendapatnya dan menjelaskan pengetahuannya kepada siswa lain ke dalam kelas.

    Selain itu perlu diperhatikan dalam pembelajaran Cooperative Learning guru tidak boleh banyak berbicara atau bertanya, terlalu banyak dan menjawab akan mengurangi proses belajar mengajar siswa melalui strategi ini. Karena dalam pembelajaran ini guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang efektif dalam proses belajar. Jika dengan demikian dalam proses belajar  mengajar Aqidah Akhlak penerapan pembelajaran Cooperative Learning sangat baik dalam mempengaruhi siswa agar berpengetahuan secara luas dan dapat menjelaskan mentransfer bagi siswa lain mengenai sebuah materi. Atas dasar karakteristik pembelajaran Cooperative Learning dalam memotivasi siswa belajar Aqidah Akhlak.

    D. Hipotesa Penelitian

    Hipotesa adalah dugaan (kesimpulan) sementara penelitian terhadap permasalahan yang sedang diteliti, sehingga masih perlu dibuktikan melalui pengujian hipotesa.

    Berdasarkan kerangka pikir dan hasil penelitian maka hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar Aqidah Akhlak pada siswa MAL IAIN-SU Medan yang diajarkan dengan strategi yang berbeda. Secara statistika hipotesis dirumuskan sebagai berikut:

    Secara deskripisi hipotesis dapat dinyatakan:

    Ho       :  Tidak ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar Aqidah Akhlak yang diajarkan dengan strategi yang berbeda.

    Ha        : Ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa yang diajarkan dengan strategi yang berbeda.

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilakukan di MAL IAIN-SU Medan Tahun Pembelajaran 2007/2008. kegiatan penelitian ini direncanakan berlangsung selama 1 (satu) bulan.

    B. Populasi dan Sampel

    Adapun yang menjadi populasi penelitian ini dua kelas, siswa kelas XIIA dan XIIB MAL IAIN-SU Medan Tahun pelajaran 2007-2008 yang berjumlah 40 orang. Selanjutnya sampel penelitian ini dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan ketentuan sebagai berikut:

    1. Kelas XIIA sebagai kelas eksperimen sebanyak 20 orang
    2. Kelas XIIB sebagai kelas kontrol sebanyak 20 orang

    Agar kelas homogen dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Kedua kelas homogen dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
    2. Lamanya penyampaian materi kedua kelas sama.
    3. Guru yang sama
    4. Waktu yang digunakan untuk kedua kelas sama.

    36

    C. Rancangan Eksperimen

    Metode penelitian yang digunakan adalah Kuasai Eksperimen, yakni suatu bentuk eksperimen yang tidak melakukan random assigment, melainkan menggunakan kelompok yang sudah terbentuk (intact group), yang dalam hal ini adalah kelas XIIA sebagai kelas eksperimen dan kelas XIIB sebagai kelas kontrol.

    Peniadaan random assigment ini didasarkan atas pertimbangan agar pelaksanaan eksperimen yang dalam hal ini adalah proses pengajaran bersifat lebih alami. Dengan demikian subjek atau siswa tidak merasa bahwa dirinya sedang dieksperimen. Rancangan eksperimen yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    Kelas A                        X                     T1

    Kelas B                                                T2

    Keterangan:

    A          = Kelas Eksperimen yang menggunakan strategi pembelajaran Cooperative Learning.

    B          = Kelas Kontrol yang menggunakan strategi pembelajaran konvensional

    X          = Pemberian perlakuan terhadap kelas eksperimen

    T1 = Tes untuk kelas A

    T2 = Tes untuk kelas B yang dibiarkan berjalan dengan apa adanya.

    D. Defenisi Operasional Variabel Penelitian

    Menghindari terjadinya kesalahpahaman, perlu diberikan defenisi operasional untuk masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

    1. Prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa adalah hasil tes yang diperoleh setelah kegiatan penelitian dilaksanakan, dan hasil penilaian ini berupa skor atau angka. Untuk menentukan hasil belajar siswa di pergunakan tes yang disajikan dalam bentuk pilihan berganda dengan menyajikan empat alternatif jawaban. Jawaban benar diberikan sekor 1 (satu) dan jika salah diberikan 0 (nol).
    2. Strategi Pembelajaran Cooperative Learning adalah suatu Strategi Pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk berperan sebagai guru bagi teman-temannya di dalam kelas. Sedangkan strategi pembelajaran konvensional adalah strategi pembelajaran yang bercirikan ekspositori, pembelajaran yang berpusat pada pelajar, komunikasi yang satu arah, serta penyamaratan kemampuan pelajar.

    E. Instrumen Pengumpulan Data

    Instrumen pengumpulan data adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data sebelum data diperoleh melalui prosedur yang telah dan akan ditetapkan. Dalam penelitian ini instrumen pengumpulan data yang penulis gunakan adalah tes pilihan berganda yang digunakan untuk melihat prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa MAL IAIN-SU Medan. Skala pengukuran yang digunakan apabila tes yang diberikan benar maka diberi sekor 1 dan jika salah diberi skor 0.

    F. Uji Coba Instrumen

    Sebelum menggunakan instrumen terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk mendapatkan instrumen yang valid dan reliabel yaitu untuk melihat sejah mana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang harus diukur dan reliabilitas, yaitu sejauh mana suatu alat pengukur mampu memberikan hasil pengukuran yang konsisten dalam waktu dan tempat yang berbeda (kehandalan), sekaligus untuk mengetahui sejah mana responden dapat memahami butir-butir pertanyaan.

    G. Teknik Pengumpulan Data

    Berdasarkan instrumen pengumpulan data di atas, maka dalam teknik pengumpulan data penulis lakukan dengan cara memberikan koesioner terhadap siswa yang disajikan sampel penelitian, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Selanjutnya hasil tes yang berasal dari dua kelompok atau kelas inilah yang akan dianalisis guna melihat pengaruh hasil belajar siswa.

    H. Teknik Analisa Data

    Mengetahuai tentang strategi pembelajaran Cooperative Learning terhadap motivasi belajar Aqidah Akhlak siswa MAL IAIN-SU Medan, analisis yang dipakai untuk menguji hipotesis, yaitu menggunakan statistik dengan menggunakan uji “t” dengan rumus:

    Ketentuan yang berlkau dalam pengujian di atas adalah apabila thitung > ttabel pada taraf signifikansi 0,05 maka hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa yang diajari dengan strategi pembelajaran Cooperative Learning dengan prestasi belajar siswa yang diajar dengan Strategi Pembelajaran Konvensional di MAL IAIN-SU Medan diterima.

    DAFTAR PUSTAKA

    Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: Jaya Sakti, 1989.

    Salim Bahreisy, Terjemahan Riyadhushalihin II, Bandung: Al-Ma’arif, 1987.

    Robert E. Slavin, Cooperative Learning (Teori, Riset dan Praktik), Bandung: Nusa Media, 2008.

    Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Rajawali Press, PT. Raja Grafindo Persada), Jakarta Cet XI. 2004.

    Drs. Oemar Hamalik, Strategi Belajar Mengajar, CV. Sinar Baru, Bandung, Cet I, 1991.

    Drs. Syafaruddin, M.Pd, Drs. Irwan Nasution, M.Sc, Manajemen Pembelajaran, Penerbit, Quantum Teaching, Jakarta, 2005.

    Dra. Varia Winansih, MA, Ilmu Jiwa Belajar PAI, IAIN Press, Medan, 2006.

    Mardianto, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, Jakarta, 2002.

    Dr. Wina Sanjaya, M.Pd, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.

    Dra. Roestiyan NK, Strategi Belajar Mengajar, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1997.

    Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, Rajawali Press, Jakarta, 1991.

    Drs. Ali Imran, M.Pd, Belajar dan Pembelajaran, Pustaka Jaya, Jakarta, 1996.

    Drs. Hamzah B.Uno, M.Pd. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2007.


    [1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana, 2000, hlm. 17.

    [2] Syaiful Bahri Djamaro, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1997, hlm. 5.

    [3] Soegarda Poerbakawatja dan H.A. Harahap. Ensiklopedi Pendidikan, Yogyakarta: Gunung Agung, 1981. hlm. 240.

    [4] Melvin, Active Learning, Bandung: Nusa Media, 2004, hlm. 188.

    [5] Robert E. Slavin, Cooperative Learning (Teori, Riset dan Praktik), Bandung: Nusa Media, 2008. hlm.3.

    [6] Zuhairini, Metode Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Nasional, 1983, hlm.83.

    [7] Hamzah B. Uno, Teori dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2007, hlm. 3.

    [8] Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Surabaya: Balai Pustaka Aman, 1991, hlm. 41.

    [9] Muhammad Ali. Kamus Besar Bahasa Indonesia Modern, Surabaya: Balai Pustaka Aman, 1997. hlm. 51.

    [10] Hamzah Uno, Op Cit. hlm. 23.

    [11] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press. 2004. hlm. 92-95.

    [12] Syamsuddin Makmun Amin, Psikologi Pendidikan, Bandug: Remaja Rosdakarya, 1994, hlm. 52.

    [13] Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: Jaya Sakti, 1989, hlm. 103.

    [14] Salim Bahreisy, Terjemahan Riyadhushalihin II, Bandung: Al-Ma’arif, 1987, hlm. 316.

    3 Tanggapan to “contoh proposal skripsi”

    1. sulis said

      Download skripsi gratis klik http://www.skripsigratis.0fees.net Skripsi Lengkap Akuntansi,Skripsi Lengkap Kepemerintahan,Skripsi Lengkap Bahasa Inggris,Skripsi Lengkap Ilmu Ekonomi,Skripsi Lengkap Hukum Militer,Skripsi Lengkap Ekonomi Manajemen,Skripsi Lengkap Ekonomi Pembangunan,Skripsi Lengkap Hukum Pidana,Skripsi Lengkap Hukum Perdata,Skripsi Lengkap Hukum Tata Negara,Skripsi Lengkap Ilmu Hukum,Skripsi Lengkap Ilmu Komunikasi,Skripsi Lengkap Kedokteran,Skripsi Lengkap Keperawatan,Skripsi Lengkap Kesehatan Masyarakat,Skripsi Lengkap Ilmu Komputer,Skripsi Lengkap Manajemen,Skripsi Lengkap Manajemen Keuangan,Skripsi Lengkap Manajemen Pemasaran,Skripsi Lengkap Manajemen SDM,Skripsi Lengkap Matematika,Skripsi Lengkap Pendidikan Matematika,Skripsi Lengkap Pendidikan Bahasa Inggris,Skripsi Lengkap Pendidikan Bahasa Indonesia,Skripsi Lengkap Pendidikan Biologi,Skripsi Lengkap Pendidikan Ekonomi,Skripsi Lengkap Pendidikan Fisika,Skripsi Lengkap Fisika,Skripsi Lengkap Pendidikan Kimia,Skripsi Lengkap Pendidikan Matematika,Skripsi Lengkap Pendidikan Teknik Elektro,Skripsi Lengkap Sosiologi,Skripsi Lengkap Perhotelan,Skripsi Lengkap Teknik Telekomunikasi,Skripsi Lengkap PPKN,Skripsi Lengkap PAI n Tarbiyah,Skripsi Lengkap Teknik Sipil,Skripsi Lengkap Teknik Mesin,Skripsi Lengkap Teknik Elektro,Skripsi Lengkap Teknik Informatika,Skripsi Lengkap Sejrah,Skripsi Lengkap Teknik Pertambangan,Skripsi Lengkap Teknik Industri,Skripsi Lengkap Teknik Pertanian,Skripsi Lengkap Psikologi,Skripsi Lengkap Administrasi Public,Skripsi Lengkap Agama Islam,Skripsi Lengkap Administrasi Negara,Skripsi Lengkap Administrasi Niaga,Skripsi Lengkap Sistem Informasi,Skripsi Lengkap Syariah,Skripsi Lengkap Bimbingan Konseling,Thesis

    2. penjelasan yang menarik nih

    3. laila said

      suka tulisannya

    Sorry, the comment form is closed at this time.

     
    %d blogger menyukai ini: