HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM Tarbiyah

Yakin Usaha Sampai

  • Kalender

    Agustus 2009
    M S S R K J S
    « Jun   Feb »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Kategori Tulisan

  • CHAT ROOM

  • komentar

    iza di PINTAR VS BODOH ???
    sulis di contoh proposal skripsi
    sistem informasi sek… di PENDIDIKAN ISLAM DALAM SISTEM…
    Stop Dreaming Start… di contoh proposal skripsi
    laila di contoh proposal skripsi
    qossam di PKS Cuma Gertak Sambal
    alqossam di PKS Cuma Gertak Sambal
    suriza di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    zay di Demo Hotel Grand Antares
    dir88gun2 di PKS Cuma Gertak Sambal
    qossam di newsletter
    ressay di MAKALAH LK-II
    dedekusn di PINTAR VS BODOH ???
  • http://princess135.blogspot.com www.islamonline.com
  • TINGKAT EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KINERJA KEPENGURUSAN ORGANISASI DI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH

    Posted by alqossam86 pada 19 Agustus 2009


    oleh: Sri Ridhani Is

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

      “Sesunggunya pemimpinmu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan mereka memberikan zakat seraya tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa yang memilih Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (golongan) Allahlah yang dimenangkan.[1]

      Ada seorang yang hidup di daerah pedalaman yang selama hidupnya belum tersentuh kemajuan dunia modern. Suatu saat ia diajak oleh anaknya mengunjungi ibu kota untuk sekedar menikmati dan mengetahui adanya gaya hidup yang lain dari yang biasa ia hadapi. Selama di kota ia tinggal di hotel yang aduhai mewahnya. Segalanya bagai mimpi, ia merasakana adanya surga di dunia.

      Bayangkan saja, masuk di kotak kecil, berdiri beberapa menit, tiba-tiba saja sudah berada di lantai yang tinggi (lift). Hanya dengan menekan sebuah alat kecil (remote control), tiba-tiba sebuah kotak mengeluarkan sinar, dan di dalamnya ada gambar hidup (televisi). Ia tak habis-habisnya berdecak kagum akan segala keanehan dunia ibu kota yang belum pernah ia alami sebelumnya.

      Ketika akan pulang ke tempat asalnya, ia ditanya apa yang ingin dibawanya pulang sebagai kenangan. Tanpa berpikir panjang ia berkata: ‘Saya ingin membawa pulang dua keran air.’ Semua pada bengong. Namun ia lalu menjelaskan bahwa setelah pulang, kedua keran air itu akan ditempelkan pada dinding rumah.

      Sesampainya di rumah, ia lantas menempelkan keran – yang ia bawa dari kota – di dinding rumahnya. Kemudian ia memutar keran tersebut dengan harapan akan keluar air darinya. Akan tetapi apa yang terjadi? Air yang diharapkan tak kunjung mengalir.

      Apa yang terjadi dengan sang ibu? Ia melihat bahwa keran di kamar hotel dapat mengalirkan air ketika diputar, tapi ia tidak mengetahui bahwa keran tersebut harus dihubungkan dengan pipa ke sumber airnya.

      * * *

      Ilustrasi di atas adalah kisah seorang teman di Jakarta yang dikirimkan kepada penulis lewat surat elektronik (e-mail).

      Beberapa dekade ini sering terdengar istilah krisis kepemimpinan. Kata tersebut dapat diterjemahkan, memang masyarakat tidak memiliki orang yang memiliki kualitas sebagai pemimpin yang efektif, ada orang yang memiliki kemampuan memimpin namun tidak dapat ditunjukkan karena terhalang oleh beberapa hal atau situasi memang membuat keadaan, dimana seorang pimpinan tidak bisa lahir.

      Apapun representasinya dalam menerjemahkan kata tersebut, adalah hal yang wajib dalam sebuah kelompok dipilih seorang pimpinan. Namun begitu seperti kata pepatah “semakin tinggi pohon cemara, maka semakin tinggi angin yang menerjang”, begitu juga perjalanan seorang pimpinan. Kualitas seorang pimpinan tidak dapat dinilai pada saat dia dilantik dengan menggunakan pakaian kebesaran yang membuatnya tampak berwibawa atau hiruk pikuk massa pendukung. Kualitas pimpinan akan terlihat bagaimana pada saat dia menghadapi “angin-angin” yang menerpa.

      Dalam sebuah diskusi yang bertema mencari kepemimpinan bangsa, seorang pembicara menanyakan pada floor mengenai apa yang membuat seseorang dapat menjadi pemimpin, dijawab oleh salah seorang peserta sebagai “Kemampuan orang itu dalam mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan bersama”, dan itu bukan jawaban yang salah. Namun apa yang membuat orang tadi dapat mempengaruhi orang lain sehingga orang mau mengikuti apa yang dikatakannya.

      Tidak dapat disangkal bahwa kemampuan dasar seorang pimpinan cukup mempengaruhi kinerja anggotanya. Artinya kemampuan leadership seorang pimpinan dapat menentukan keberhasilan program dan proyek kerja organisasi yang dipimpinnya. Sebab fungsi seorang pimpinan adalah membangun teamwork yang solid guna mencapai tujuan organisasi.

      Akan tetapi dewasa ini, perhatian publik senantiasa terpusat kepada profil seorang pimpinan. Sebuah organisasi dipandang baik manakala memiliki sosok pimpinan yang baik. Pandangan publik tidak ubahnya seperti pandangan ”Sang Ibu” pada ilustrasi di atas, hanya melihat pada ”keran” organisasinya saja, tidak melihat bagaimana ”pipa-pipa” di bawah yang menyokong agar ”keran” tetap dapat mengalirkan air.

      Pernahkah terpikir oleh mereka apa yang terjadi jika seorang pimpinan tidak memiliki tim yang solid? Dapatkah ia menyelesaikan program kerjanya?

      Demikian kompleksnya persoalan ini, sehingga penulis sangat tertarik untuk menganalisisnya secara lebih mendalam melalui sebuah penelitian yang dituangkan dalam sebuah karangan ilmiah dengan mengangkat judul: “TINGKAT EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KINERJA KEPENGURUSAN ORGANISASI DI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA – MEDAN PERIODE 2006-2007”

      B. Batasan Istilah

        Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran dan pengertian terhadap judul ini, maka penulis memberikan batasan sebagai berikut:

        1. Tingkat adalah grafik yang menunjukkan jenjang nilai atas sesuatu yang dapat diukur dengan standar yang telah ditetapkan.
        2. Efektifitas adalah manfaat yang diperoleh dari suatu kegiatan. Yang dimaksud di sini adalah efektifitas kerja pengurus.
        3. Efisiensi adalah
        4. Kinerja adalah tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini, kinerja yang dimaksud adalah kinerja yang berupa proyek kerja yang diterjemahkan dalam proyek kerja komisariat.
        5. Kepengurusan adalah orang-orang yang saling bekerjasama yang tersusun berdasarkan garis komando dan garis koordinasi.

        C. Identifikasi Masalah

        Mengacu pada judul di atas, terdapat beberapa masalah yang timbul:

        1. Sejauhmana tingkat efektifitas kinerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU Medan dalam menjalankan amanah organisasi.
        2. Sejauhmana tingkat efisiensi waktu yang digunakan dalam penyelesaian proyek kerja komisariat oleh pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU Medan.

        D. Pembatasan Masalah

        Untuk menghindari kajian dan penelitian yang terlalu luas, maka penulis membatasi masalah ini menjadi:

        1. Sejauhmana tingkat efektifitas kinerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU Medan dalam menjalankan amanah organisasi. Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah pengurus periode 2006 – 2007.
        2. Sejauhmana tingkat efisiensi waktu yang digunakan dalam penyelesaian proyek kerja komisariat oleh pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU Medan Periode 2006 – 2007.

        E. Perumusan Masalah

        Untuk memudahkan dalam memfokuskan penelitian, maka penulis merumuskan permasalahan ini manjadi:

        1. Apa yang menjadi program kerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006 – 2007?
        2. Apa yang menjadi proyek kerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU Medan periode 2006 – 2007?
        3. Apa yang menjadi sasaran atau ruang lingkup proyek kerja tersebut?
        4. Apa manfaat yang diperoleh dengan adanya proyek kerja yang dimaksud?
        5. Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan proyek kerja yang telah disepakati?

        F. Tujuan Penelitian

        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris sejauh mana tingkat efektifitas dan efisiensi kinerja kepengurusan organisasi di HMI komisariat FT IAIN SU periode 2006 – 2007, secara terperinci dapat ditabulasi sebagai berikut:

        1. Untuk mengetahui sejauhmana tingkat efektifitas kinerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU Medan dalam menjalankan amanah organisasi. Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah pengurus periode 2006 – 2007.
        2. Untuk mengetahui sejauhmana tingkat efisiensi waktu yang digunakan dalam penyelesaian proyek kerja komisariat oleh pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU Medan Periode 2006 – 2007.

        G. Manfaat Penelitian

        Penelitian ini memiliki dua manfaat:

        1. Manfaat teoretis

        Secara teoretis penelitian ini dapat menjadi sumbangsih yang positif terhadap perkembangan ilmu manajemen organisasi, kepemimpinan dan disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan objek penelitian ini dengan memberikan data yang telah teruji secara ilmiah.

        1. Manfaat praktis
          1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi seluruh pengurus HMI komisariat FT IAIN SU periode 2006-2007 guna perbaikan di masa mendatang.
          2. Bagi seluruh pembaca, penelitian ini dapat dijadikan referensi yang cukup kuat untuk mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi kinerja pengurus HMI kom’s FT IAIN SU periode 2006 – 2007.

        BAB II

        KAJIAN TEORETIS

        A. Kepemimpinan Dalam Organisasi

          Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik ciptaan-Nya berarti ketaatan dan kepatuhan manusia kepada Allah merupakan alasan penciptaan manusia karena itu kekhalifahan manusia di bumi juga merupakan tujuan penciptaan manusia, dan sekaligus hanya manusia yang mau dan mampu menerima amanah dari Allah dengan etika religius bahwa manusia bebas memilih dan berkehendak untuk mengikuti perintah Allah.

          Tugas manusia sebagai pemimpin dan manajer di bumi ini ialah memakmurkan alam sebagai manifestasi dari rasa syukur manusia kepada Allah dan pengabdian kepada-Nya, tugas khalifah diberikan kepada setiap manusia, maka dalam pelaksanaannya terkandung sikap kebersamaan atau pertanggungjawaban bersama kepada Allah akan memakmurkan alam ini. Konsep ini melahirkan nilai yang sangat penting tentang pemimpin, kepemimpinan dan anggota atau yang dipimpin serta situasi mana kepemimpinan itu berlangsung. Dalam surat Al-Anbiya:73 Allah menegaskan :

          Artinya : “Kamu telah menjadikan mereka itu pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah.”[2]

          Bagi setiap umat ada pemimpin yang dipercayai (kredibel) sehingga mereka dapat mengajarkan tentang kebenaran, kebaikan dan kemuliaan dengan keteladanannya. Pemimpin harus menjadi penolong, menggerakkan, mengarahkan dan membimbing anggota organisasi untuk mematuhi kehendak Allah. Untuk memperoleh tindakan dari anggota yang dipimpin, maka seorang pemimpin harus menunjukkan keteladanan. Sehubungan dengan itu Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah:44 yang berbunyi :

          Artinya: “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan sedangkan kamu melupakan diri (kewajibanmu) sendiri? Padahal kamu membaca alkitab (Taurat) maka tidakkah kamu berpikir?”

          Dari ayat di atas kita ketahui bahwa setiap pemimpin haruslah sesuai dengan perkataan dan perbuatan. Sebab jika pemimpin tidak memberikan contoh yang baik pada anggotannya maka suatu organisasi atau lembaga pendidikan tidak akan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu jika menjadi pemimpin haruslah menjadi pemimpin yang memiliki kewibawaan, tanggung jawab dan tauladan seluruh anggotanya, sebab setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya di akhir kelak.

          Dalam hal ini, Rasulullah Saw menegaskan dalam haditsnya yang berbunyi :

          Artinya : “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanyai kepemimpinannya, imam adalah pemimpin dan ia akan mempertanggungjawabkan atas yang dipimpinnya.” (HR.Bukhari Mulim dan Ibnu Umar)[3]

          Hadits di atas menjelaskan setiap manusia adalah pemimpin dan seorang pemimpin harus benar-benar menjalankan kepemimpinannya karena kelak ia akan mempertanggungjawabkan atas apa yang dipimpinnya.

          Jika dilihat dalam konteks organisasi, yang dimaksud pemimpin adalah semua orang yang bertanggung jawab dalam proses perbaikan yang berada pada semua level kelembagaan organisasi. Para pemimpin organisasi harus memiliki komitmen terhadap perbaikan mutu dan solusi utamanya. Oleh karena itu fungsi dari kepemimpinan organisasi haruslah tertuju pada mutu anggota serta semua komponen lain yang mendukungnya. Bagaimanapun juga, fungsi kepemimpinan organisasi merupakan satu dimensi yang paling esensial untuk melaksanakan manajemen organisasi.

          Kepemimpinan organisasi yang kuat akan dapat mengambil dan mengarahkan keputusan yang demokratis. Proses pengambilan keputusan yang demokratis adalah satu syarat untuk dapat menerapkan manajemen organisasi. Organisasi yang demokratis adalah organisasi yang mengambil keputusan secara demokratis pula. Hal ini diterapkan, karena dalam manajemen organisasi, organisasi bukan hanya milik organisasi tetapi ia adalah bagian dari masyarakat yang berkepentingan terhadap organisasi. Dengan kata lain kepemimpinan organisasi adalah suatu cara atau usaha ketua umum organisasi dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan anggota, staf atau pengurus, senior, alumni dan pihak-pihak terkait untuk bekerja atau berperan guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Seorang ketua umum untuk membuat orang lain bekerja untuk mencapai tujuan organisasi merupakan inti dari kepemimpinan organisasi.

          B. Staffing dalam Organisasi

            Kepemimpinan merupakan salah satu aspek manajerial dalam kehidupan organisasi yang merupakan posisi kunci (key position), karena seorang pemimpin berperan sebagai penyelaras dalam proses kerjasama antarindividu dalam organisasinya.

            Setiap organisasi untuk dapat mencapai tujuan organisasinya memerlukan manajemen dan di dalam memfungsikan manajemen diperlukan sistem kepemimpinan, sehingga kegiatan pencapaian tujuan organisasi melalui keepemimpinan dapat dinamakan sebagai proses manajeman. Dengan demikian kepemimpinan adalah inti dari pada manajemen mencapai tujuan organisasi.

            Sistem kepemimpinan yang efektif adalah manakala pemimpin mampu memberikan perintah, memberikan inspirasi, membangun kelompok kerja yang kompak, menjadi teladan, memperoleh penerimaan dari para pegawainya. Menurut Koehler (1981: 238) kepemimpinan efektif tidak hanya membolehkan diskusi di antara kelompok tetapi juga mengizinkan mereka berpartisipasi dalam melaksanakan pengambilan keputusan. Jika mereka tidak dilibatkan dalam kegiatan mendiskusikan persoalan yang relevan bagi mereka maka partisipasi mereka dalam mengambil keputusan tidak akan sukses.[4]

            Memberikan perintah, menyampaikan inspirasi, membangun tim kerja, membangun keteladanan, memenuhi harapan anggota merupakan karakteristik kepemimpinan menuju efektivitasnya.

            Dengan demikian, dalam usaha pencapaian tujuan organisasi, pemimpin sebagai topleader perlu dibantu oleh beberapa orang stafnya yang menjadi aktor di lapangan. Staf-staf inilah yang menjadi “bidak” dalam pelaksanaan proyek-proyek kerja yang telah ditetapkan di rapat organisasi.

            Untuk membangun teamwork yang solid, seorang pemimpin dengan sendirinya akan berpikir dalam kerangka tim. Dengan menciptakan suasana dan teladan yang dapat dijadikan panutan bagi timnya.

            Dari berbagai jenis pendekatan dan pemahaman kepemimpinan yang ada selalu memiliki tujuan akhir yaitu bagaimana menciptakan sebuah tim dengan kinerja yang tinggi, karena memang itulah hasil dari pemimpin yang efektif. Tim yang memiliki kinerja tinggi itu memiliki ciri – ciri sebagai berikut :

            1. Sasaran yang realistis
            2. Rasa tanggung jawab bersama terhadap tujuan
            3. Penggunaan sumber daya sebaik mungkin
            4. Suasana keterbukaan
            5. Mengkaji kembali kemajuan yang telah dicapai
            6. Membangun pengalaman
            7. Bertahan dalam krisis

            Tim dengan ciri – ciri seperti hal diatas, dapat dibangun dengan peran aktif seorang pemimpin didalamnya. Keberhasilan dari sebuah tim lima puluh persen tergantung dari pemimpin dan lima puluh persen sisanya tergantung dari kualitas, pelatihan dan moral mereka yang bekerja bersama anda sebagai pimpinan. Satu hal yang perlu diperhatikan pimpinan sebagai usaha mawas diri adalah “Prinsip Peter” dimana dikatakan, “Keberhasil seorang pimpinan dalam satu tingkat, tidak selalu bahwa pemimpin tersebut memimpin dengan baik pada tingkat berikutnya”, karena para karyawan dalam hirarki cenderung akan naik sampai dimana kompetensi (kemampuan) mereka mentok. Hal ini sangat perlu diperhatikan seorang ”ketua” supaya dapat menjadi pimpinan, karena kepemimpinan merupakan peran kunci dalam setiap organisasi.


            BAB III

            METODOLOGI PENELITIAN

            A. Pendekatan Metode Penelitian

            Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif naturalistik. Di sini peneliti ingin mendeskripsikan tingkat efektifitas dan efisiensi kinerja kepengurusan organisasi di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara – Medan periode 2006-2007.

            Bogdan dan Taylor yang di kutip Moleong menjelaskan bahwa metodologi penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.[5].

            Dalam penelitian ini, peneliti berusaha mengungkapkan tingkat efektifitas dan efisiensi kinerja kepengurusan organisasi di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara – Medan periode 2006-2007 dari apa yang telah dilakanakan selama ini. Bagaimana proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan melalui data dan informasi berupa catatan lapangan yang diperoleh dengan cara wawancara mendalam, observasi dan kajian dokumentasi.

            B. Latar Penelitian

            Latar penelitian ini adalah HMI Kom’s FT IAIN SU Medan Jl. Williem Iskandar Psr V Medan Estate, sekretariat Jl. Pukat I No 16A Medan pada tanggal 30 Desember 2007.

            Situasi sosial dalam penelitian ini memiliki ciri-ciri :

            1. Sederhana untuk diamati yaitu proses perencanaan, pengorganisaaian, pelaksanaan dan pengawasan sebagai prilaku para aparatur organisasi untuk program pencapaian tujuan organisasi.
            2. Dapat dimasuki dalam rangka observasi
            3. Dapat dilakukan penelitian dengan tidak mengganggu aktivitas subjek.
            4. Ada izin secara lisan
            5. Telah terjadi aktivitas secara berulang-ulang
            6. Peneliti dapat berpartisipasi dalam kegiatan subjek di lokasi penelitian.

            Untuk penelitian tingkat efektifitas dan efisiensi kinerja kepengurusan organisasi di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara – Medan periode 2006-2007, peneliti berusaha memenuhi syarat-syarat pemilihan informasi atau subjek penelitian agar data dan informasi yang diperlukan dapat dikumpulkan secara lengkap untuk dianalisis.

            Penetapan informasi bedasarkan pertimbangan di atas disebut penetapan sampel secara`purfosif yaitu sampel yang dipilih berdasarkan pada pertimbangan bahwa informan benar-benar terkait dalam permasalahan tingkat efektifitas dan efisiensi kinerja kepengurusan organisasi di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara – Medan periode 2006-2007, pengurus dan pihak-pihak lainnya yang terkait dalam penelitian ini.

            Dalam penelitian ini para aktor yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi adalah : Ketua Umum HMI Kom’s FT IAIN SU Medan, Ketua Bidang Pembinaan Anggota, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan, Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda, Ketua Bidang Kekaryaan dan Ketua Bidang Kewanitaan.

            C. Proses Dan Teknik Pengumpulan Data

            Proses pengumpulan data setelah mendapat izin penelitian dari Ketua Umum HMI Kom’s FT IAIN SU Medan. Peneliti mengedepankan etika dalam membina keakraban dengan subjek penelitian. Untuk mengumpulkan data, maka peneliti sendiri yang menjadi instrument utama. Dan untuk mendapatkan data penelitian ini dilakukan dengan wawancara dan pengamatan serta sejumlah dokumen yang diperlukan.

            Cara yang peneliti lakukan untuk mendalami tekhnik pengumpulan data ini melalui: observasi atau pengamatan, wawancara mendalam dan studi dokumentasi.

            1. Observasi (pengamatan).

            Pengamatan atau observasi sebagai alat pengumpulan data adalah suatu kegiatan mengadakan pengamatan secara teliti dan seksama serta mencatat fenomena-feneomena (gejala-gejala) yang dilihat dalam hubungan sebab akaibat.[6]

            1. Wawancara Mendalam (Indepth Interview)

            Wawancara mendalam merupakan salah satu teknik pokok dalam pengumpulan data untuk kepentingan penelitian ini. Melalui wawancara peneliti berusaha memeperoleh informasi secara langsung dan bertatap muka dengan responden. Metode wawancara adalah suatau teknik pengumpulan data secara tetap, maka responden (face to face) untuk mendapatkan inforemasi secara lisan dari responden.

            1. Studi Dokumentasi Data

            Studi dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan dengan mengkaji dokumen yang ada kaitannya dengan kinerja pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara – Medan periode 2006-2007, sesuai dengan fokus penelitian berupa keputusan-keputusan, peraturan, prosedur, tata tertib, baik dari komisariat sekawasan cabang medan maupun dari HMI Cabang Medan.

            D. Teknik Analisa Data

            Bodgan dan Biklen yang dikutip Moleong menjelaskan bahwa analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, mencari data dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

            Analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yaitu: redusi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

            1. Reduksi data

            Reduksi data diartikan sebagai proses penelitian, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Sebab, reduksi data berlangsung terus menerus selama proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung.

            1. Penyajian data

            Penyajian data merupakan sekumpulan innformasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Beraneka penyajian dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari alat pengukur sampai layar komputer. Dengan melihat penyajian-penyajian maka akan dapat dipahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan.

            1. Menarik kesimpulan

            Dari permulaan data seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteratuiran, pola-pola penjelas konfigurasi yang mungkin alur sebab, akibat, dan proposisi. Kesimpulan “final” mungkin tidak muncul sampai pengumpulan data terakhir, tergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan data, dan metode pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti, dan tuntutan-tuntutan pemberi dana, tetapi sering kali kesimpulan itu telah dirumuskan sebelumnya sejak awal, sekalipun seorang peneliti menyatakan telah melanjutkannya secara induktif. [7]

            E. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

            Dalam penelitian ini data harus dapat diterima untuk mendukung kesimpulan penelitian. Pelaksanaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu, oleh karena itu, ada empat kriteria yang digunakan yaitu: kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability).

            BAB IV

            HASIL DAN PEMBAHASAN

            A. Deskripsi Temuan

              Secara umum Himpunan Mahasiswa Islam dapat dikatakan menganut sistem kepemimpinan birokratis di mana proses pengambilan keputusan akan senantiasa mengacu pada konstitusi yang telah ditetapkan secara nasional, dan manakala terjadi pengambilan keputusan tanpa berlandaskan kepada undang-undang tersebut, maka keputusan yang telah ditetapkan dapat dianulir.

              Hasil observasi menunjukkan bahwa di dalam penetapan program kerja komisariat dilakukan di Rapat Anggota Komisariat (RAK) yang dihadiri oleh seluruh anggota biasa dan anggota muda HMI ditambah dengan alumni. Rapat ini dilaksanakan satu kali dalam satu tahun, rapat ini menandai berakhirnya kepengurusan dan dilakukan pemilihan formateur ketua umum yang baru. Di dalam rapat ini yang memiliki hak suara dan hak bicara hanyalah anggota biasa HMI, sedangkan anggota muda dan alumni hanya memiliki hal bicara tetapi tidak memiliki hak suara.

              Kemudian program kerja yang telah disepakati di RAK akan dijabarkan atau diterjemahkan oleh ketua umum terpilih di dalam Rapat Kerja Komisariat (rakerkom) berupa proyek kerja komisariat, rapat ini diikuti oleh seluruh pengurus komisariat.

              Kepengurusan di Himpunan Mahasiswa Islam komisariat Fakultas Tarbiyah IAIN SU Medan periode 2006-2007 di jajaran ketua terdiri atas: Ketua Umum yang dibantu oleh Ketua Bidang Pembinaan Anggota, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan, Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda, Ketua Bidang Kekaryaan dan Ketua Bidang Kewanitaan.

              Kemudian penanggungjawab administrasi dan kesekretariatan adalah Sekretaris Umum yang dibantu oleh lima orang wakil Sekretaris Umum. Wakil sekretaris umum ini juga bertugas membantu lima bidang di komisariat sesuai dengan posisi masing-masing. Sementara itu di jajaran logistik dipimpin oleh Bendahara Umum yang dibantu oleh lima orang Wakil Bendahara Umum.

              Kemudian demi terlaksananya proyek kerja komisariat, dibentuk pula departemen untuk masing-masing bidang. Departemen bidang ini bertanggungjawab atas pelaksanaan teknis di lapangan.

              Adapun proyek kerja komisariat yang telah ditetapkan di rakerkom adalah:

              1. Bidang Pembinaan Anggota

              – Melaksanakan Masa Orientasi Pengenalan (MOP) HMI.

              – Melaksanakan Basic Training atau Latihan Kader I (LK-I).

              – Melakukan pembinaan anggota secara psikologis.

              1. Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda

              – Diskusi rutin dwimingguan di kampus IAIN SU dan penulisan buletin Insan Cita.

              – Bedah konstitusi HMI

              – Study banding ke komisariat sekawasan Cabang Medan

              – Menyikapi isu-isu sentral seputar kemahasiswaan dan kepemudaan

              – Bedah buku dan seminar nasional

              1. Bidang Penelitian dan Pengembangan

              – Melakukan pendataan atas anggota komisariat dan alumni HMI FT IAIN SU.

              – Melakukan survey untuk mengukur tingkat keberhasilan dan efektifitas proyek kerja masing-masing bidang.

              1. Bidang Kekaryaan

              – Mengadakan pengajian rutin

              – Membuat lembaga kreatifitas anggota

              1. Bidang Kewanitaan

              – Mengadakan pembinaan atas HMI-wati

              – Membentuk lembaga kewanitaan yang bernama Korps HMI-Wati (KOHATI).

              – Pengabdian masyarakat.

              1. Bidang Administrasi dan Kesekretariatan

              – Tertib administrasi dan surat-menyurat

              – Mengadakan rapat-rapat sesuai dengan konstitusi HMI.

              1. Bidang Logistik

              – Membuat rencana anggaran pendapatan dan belanja komisariat

              Berdasarkan observasi ini juga diketahui bahwa proyek kerja yang telah ditetapkan di Rakerkom merupakan rencana kerja untuk satu tahun kepengurusan, di dalamnya telah ditetapkan waktu pelaksanaan dan juga taksasi dana yang diperlukan.

              Ruang lingkup kinerja kepengurusan HMI kom’s FT IAIN SU meliputi anggota, mahasiswa dan masyarakat umum. Dalam realisasi program di lapangan sering terjadi kendala yang menyebabkan proyek kerja terlaksana tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

              Kemudian terdapat pula beberapa proyek kerja yang tidak terlaksana, hal tersebut disebabkan beberapa faktor baik internal maupun eksternal.

              B. Pembahasan

                Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat efektifitas dari kinerja pengurus HMI komisariat FT IAIN SU cukup tinggi. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya manfaat yang dirasakan oleh anggota dan mahasiswa secara umum.

                Akan tetapi tingkat efisiensi waktu dalam penyelesaian proyek kerja menunjukkan grafik yang cukup rendah, hal tersebut diindikasikan dengan seringnya terjadi kevakuman dalam kepengurusan ini. Artinya banyak waktu yang terlewatkan tanpa adanya pelaksanaan proyek.

                C. Keterbatasan Penelitian

                  Observasi ini bersifat induktif, sehingga dengan demikian sangat banyak keterbatasan yang dimilikinya. Oleh karena itu hasil penelitian ini hanya berlaku kepada objek yang dijadikan latar penelitian.

                  Kemudian diperlukan data-data statistika yang dapat mendukung hasil observasi yang dilakukan saat ini.


                  BAB V

                  PENUTUP

                  A. Kesimpulan

                    Berdasarkan observasi yang dilakukan, maka dengan ini dapat disimpulkan bahwa:

                    1. Tingkat efektifitas kinerja di HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006-2007 cukup tinggi
                    2. Tingkat efisiensi kinerja masih rendah

                    Dengan demikian kepengurusan HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006-2007 berjalan dengan efektif, namun kurang efisien.

                    B. Saran

                      Penulis menyarankan kepada seluruh pengurus Himpunan Mahasiswa Islam komisariat Fakultas Tarbiyah IAIN SU Medan agar lebih memperhitungkan waktu, agar dikemudian hari tidak ada waktu yang terlewatkan dengan sia-sia.

                      Kepada pembaca penulis menyarankan agar senantiasa bertanggungjawab atas amanah organisasi, sebab ini menyangkut kepentingan orang lain.


                      DAFTAR PUSTAKA

                      Dale, Robert D. 1992. Pelayanan Sebagai Pemimpin. Malang: Gandum Mas.

                      Departemen Agama. 2000. Al-Qur’an Dan Terjemahnya. Bandung: CV. Diponegoro.

                      Departemen Kependidikan dan Kebudayaan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

                      Indrawijaya, Adam Ibrahim dan Wahyu Suprapti. 2001. Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jakarta; Lembaga Administrasi Negara RI.

                      Matutina, Doni C., dkk. 1993. Manajemen Personalia Jakarta:Rineka Cipta.

                      Mittes, Matthew B. dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitataif. Jakarta: Universitas Indonesia.

                      Moleong, L.J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

                      Nawawi, Hadari. 1993. Kepemimpinan Menurut Islam. Yogyakarta: UGM.

                      Nawawi, Hadari dan Martini Hadari. 1995. Kepemimpinan Yang Efektif, cet.II. Yogyakarta: UGM.

                      Syafaruddin, dkk, 2006. Metodologi Penelitian IAIN SU. Medan: IAIN Press.

                      Syafri, Sofyan. 1996. Manajemen Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

                      Wirjana, Bernardine R. dan Susilo Supardo. 2002. Kepemimpinan; Dasar-Dasar dan Pengembangannya. Yogyakarta: ANDI.


                      Lampiran 1

                      Penelitian “TINGKAT EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KINERJA KEPENGURUSAN ORGANISASI DI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA – MEDAN PERIODE 2006-2007”

                      Berikut ini adalah hasil wawancara peneliti dengan Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda HMI Kom’s FT IAIN SU Periode 2006-2007, Sdr. Wiwid Kurniandi:

                      Assalamu ’alaikum Kakanda Wiwid, apa kabar hari ini?

                      Wa’alaikum salam, alhamdulillah kabar saya tidak buruk adinda.

                      Baik, wawancara kita kali ini adalah seputar efektifitas dan efisiensi kinerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006-2007. Apa yang menjadi program kerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006 – 2007?

                      (tersenyum simpul)

                      Program kerja komisariat telah ditetapkan pada Rapat Anggota Komisariat (RAK) sebelumnya, ini merupakan program umum yang diamanahkan kepada Ketua Umum. Kemudian program kerja ini di terjemahkan dalam bentuk proyek kerja. Wewenang kami sebagai staf ketua umum hanya pada tataran proyek kerja.

                      Adinda bisa mempertanyakan hal ini kepada ketua umum atau bidang administrasi dan kesekretariatan.

                      Lalu untuk bidang PT/KP yang anda pimpin, apa yang menjadi proyek kerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU Medan periode 2006 – 2007?

                      Secara sederhana saya sampaikan bahwa ada lima proyek kerja yang disepakati dalam Rapat Kerja Komisariat (rakerkom), yaitu: diskusi per-dwiminggu, penulisan buletin Insan Cita, bedah buku dan konstitusi, menanggapi isu-isu sentral seputar mahasiswa dan pemuda, dan seminar.

                      Apa yang menjadi sasaran atau ruang lingkup proyek kerja tersebut?

                      Ruang lingkup proyek kerja kami adalah anggota muda, anggota biasa dan mahasiswa secara umum serta masyarakat luas.

                      Apa manfaat yang diperoleh dengan adanya proyek kerja yang dimaksud?

                      Secara umum manfaat ini dapat dirasakan oleh seluruh komponen organisasi. Sebagai contoh saya sampaikan bahwa untuk proyek kerja PT/KP yang berkaitan dengan diskusi rutin, dapat meningkatkan kemampuan akademis dan organisatoris anggota dan mahasiswa. Hal ini diperkuat dengan data statistika dari bidang penelitian dan pengembangan.

                      Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan proyek kerja yang telah disepakati?

                      Rentang waktu untuk menyelesaikan proyek kerja ini adalah satu tahun kepengurusan. Namun, penetapan tanggal pelaksanaan telah ditetapkan di rakerkom kecuali pada hal-hal yang berdifat kondisional, seperti menyikapi isu-isu sentral.

                      Untuk proyek kerja diskusi dan penulisan buletin alokasi waktu yang disepakati adalah per-dwiminggu.

                      Tidak dapat disangkali bahwa sering terjadi kemuluran waktu dari kesepakatan semula. Hal ini lebih disebabkan faktor-faktor eksternal.

                      Lampiran 2

                      Penelitian “TINGKAT EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KINERJA KEPENGURUSAN ORGANISASI DI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA – MEDAN PERIODE 2006-2007”

                      Berikut ini adalah hasil wawancara peneliti dengan Bidang Pembinaan Anggota HMI Kom’s FT IAIN SU Periode 2006-2007, Sdri. Suci Al-Hafizha:

                      Wawancara kita kali ini adalah seputar efektifitas dan efisiensi kinerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006-2007. Apa yang menjadi proyek kerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006 – 2007?

                      Posisi saya adalah ketua bidang yang merupakan perpanjangan tangan dari ketua umum, sehingga saya adalah translator dari program kerja ketua umum dalam bentuk proyek kerja.

                      Sesuai dengan hasil rapat kerja komisariat, proyek kerja saya adalah melakukan training MOP (Masa Orientasi Pengenalan-penj), training LK-1, follow-up terhadap masing-masing training dan melakukan pembinaan keanggotaan secara umum terutama dari sisi afeksi dan psikologisnya.

                      Apa yang menjadi sasaran atau ruang lingkup proyek kerja tersebut?

                      Ruang lingkup proyek ini adalah anggota, baik anggota muda maupun anggota biasa HMI dan pengurus.

                      Apa manfaat yang diperoleh dengan adanya proyek kerja yang dimaksud?

                      Secara psikologis, anggota akan terayomi dan merasa diperhatikan. Secara struktural dapat meningkatkan kinerja mereka di komisariat.

                      Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan proyek kerja yang telah disepakati?

                      Satu periode, satu tahun terhitung sejak pelantikan atau lebih tepat sejak rakerkom.

                      Lampiran 3

                      Penelitian “TINGKAT EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KINERJA KEPENGURUSAN ORGANISASI DI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA – MEDAN PERIODE 2006-2007”

                      Berikut ini adalah hasil wawancara peneliti dengan Bidang Penelitian dan Pengembangan HMI Kom’s FT IAIN SU Periode 2006-2007, Sdr. Ahmad Ruluwat:

                      Wawancara kita kali ini adalah seputar efektifitas dan efisiensi kinerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006-2007. Apa yang menjadi proyek kerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006 – 2007?

                      Proyek kerja utama bidang Litbang adalah membuat data base anggota dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam komisariat Fakultas Tarbiyah IAIN SU Medan.

                      Apa yang menjadi sasaran atau ruang lingkup proyek kerja tersebut?

                      Angota dan alumni.

                      Apa manfaat yang diperoleh dengan adanya proyek kerja yang dimaksud?

                      Litbang adalah pusat pendataan dan informasi. Sehingga hasil kerja kami sebenarnya lebih banyak bermanfaat untuk bidang-bidang yang ada di komisariat FT.

                      Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan proyek kerja yang telah disepakati?

                      Proyek kerja kami berjalan selama kepengurusan belum didemisionerkan… (tertawa renyah).

                      Jadi sampai hari ini proyek ini masih berjalan, sebab alumni-alumni HMI FT tidak hanya berdomisili di Medan, tapi banyak yang berdomisili di daerah bahkan di luar pulau sumatera.

                      Lampiran 4

                      Penelitian “TINGKAT EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KINERJA KEPENGURUSAN ORGANISASI DI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA – MEDAN PERIODE 2006-2007”

                      Berikut ini adalah hasil wawancara peneliti dengan Ketua Bidang Kekaryaan HMI Kom’s FT IAIN SU Periode 2006-2007, Sdr. Muh. Rizki:

                      Wawancara kita kali ini adalah seputar efektifitas dan efisiensi kinerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006-2007. Apa yang menjadi proyek kerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006 – 2007?

                      Proyek kerja kami untuk periodesasi ini adalah membuat lembaga kreatifitas bagi anggota, camping ground dan membuat lembaga pengajian.

                      Apa yang menjadi sasaran atau ruang lingkup proyek kerja tersebut?

                      Pengurus dan anggota

                      Apa manfaat yang diperoleh dengan adanya proyek kerja yang dimaksud?

                      Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan anggota yang memiliki kretifitas, sesuai dengan tujuan HMI, ”terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah swt” (pasal 4 AD-HMI-penj).

                      Manfaat yang dirasakan oleh anggota adalah mereka dapat menyelurkan bakat dan kreatifitas mereka di sini. Tahun lalu saat Milad HMI ke-60, HMI kom’s FT IAIN SU memperoleh prestasi yang cukup memuaskan, Juara I lomba Volk-Song antarkomisariat sekawasan cabang Medan.

                      Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan proyek kerja yang telah disepakati?

                      Alokasi waktunya saya pikir kondisional ya.

                      Lampiran 5

                      Penelitian “TINGKAT EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KINERJA KEPENGURUSAN ORGANISASI DI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA – MEDAN PERIODE 2006-2007”

                      Berikut ini adalah hasil wawancara peneliti dengan Bidang Kewanitaan HMI Kom’s FT IAIN SU Periode 2006-2007, Sdri. Suryaningsih:

                      Wawancara kita kali ini adalah seputar efektifitas dan efisiensi kinerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006-2007. Apa yang menjadi proyek kerja pengurus HMI Kom’s FT IAIN SU periode 2006 – 2007?

                      Bidang ini adalah bidang khusus untuk HMI-wati atau anggota HMI yang perempuan. Usaha kami untuk kewanitaan dalam peningkatan kualitas muslimah adalah dengan membentuk lembaga semi-otonom yang bernama KOHATI (Korps HMI-wati) sedangkan untuk keilmuan dan pengabdian masyarakat kami lebih banyak bekerjasama dengan bidang PT/KP dan Kekaryaan.

                      Apa yang menjadi sasaran atau ruang lingkup proyek kerja tersebut?

                      Anggota dan pengurus, khususnya HMI-wati.

                      Apa manfaat yang diperoleh dengan adanya proyek kerja yang dimaksud?

                      Peningkatan kualitas HMI-wati baik secara akademis maupun organisatoris.


                      [1] QS. Al-Maidah [5]: 55-56

                      [2] Departemen Agama, Op-Cit, hal 262

                      [3] Rahmat Syafe’i, Al Hadits Aqidah, Akhlak, Sosial dan Hukum, (Bandung: Pustakasetia, 2000), hlm 133

                      [4] Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hlm 158

                      [5] L.J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hal.4

                      [6] Syfaruddin, dkk, Metodologi Penelitian IAIN SU, (Medan, 2006), Hal. 82

                      [7] Matthew B. Mittes, A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitataif , (Jakarta: Universitas Indonesia, 1992), hal. 16-19

                      Sorry, the comment form is closed at this time.

                       
                      %d blogger menyukai ini: